fbpx
Home / Opini / Salah Kaprah Penyematan Kata “Habib” Seri 1

Salah Kaprah Penyematan Kata “Habib” Seri 1

Oleh: Buhari

Dosen IAIN Pontianak

Salah satu fenomena menarik yang dapat dilihat pada masyarakat muslim Indonesia ialah adanya kecintaan yang luar biasa besarnya terhadap kalangan yang memiliki garis keturunan nabi Muhammad saw. Bukti kecintaan itu mereka ekspresikan dengan penyematan nama Habib  sebagai panggilan sayang dan cinta terhadap para dzurriyyah. Kata Habib sendiri merupakan serapan dari bahasa Arab yang merupakan bentuk Sifat Musyabbahah dari akar kata Habba yang dapat diartikan sebagai almuhib (yang mencintai) dan al-Mahbub (yang dicintai). Dengan demikian, ungkapan habib menjadi ekspresi cinta yang mendalam yang ditunjukkan umat Islam kepada dzurriyyah nabi Muhammad saw, seorang nabi yang penuh kasih dan sayang, pembawa risalah kedamaian bagi seluruh alam.

Siapakah Dzurriyah Nabi  Muhammad saw ?

Sejarah mencatat, bahwa satu-satunya putri nabi Muhammad saw. yang memiliki keturunan adalah sayyidah Fatimah Az-Zahra yang menikah dengan Sayyidinia Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang putera yang bernama Hasan dan Husain. Keturunan Hasan dan Husain inilah yang hingga saat ini masih membawa trah keturunan Fatimah binti Muhammad saw. dan disebut sebagai dzurriyyah (anak keturunan) nabi Muhammad saw, atau yang sering juga disebut dengan istilah Bani `Alawiyyin (nisbat dari kata Ali) yang berarti keturunan Sayyidini Ali bin Abi Thalib.

Beberapa kalangan muslim sering juga menggunakan istilah Sayyid  (Bahasa Indonesia: Tuan)  dan Syarif  (Bahasa Indonesia: yang mulia) sebagai gelar kehormatan yang diberikan kepada orang-orang yang masih memiliki garis keturunan nabi Muhammad saw. melalui cucu beliau, Hasan dan Husain. Sedangkan untuk keturunan yang wanita mendapatkan gelar Sayyidah atau Syarifah. Sementara dalam dunia Arab terdapat pemilahan di antara kedua istilah tersebut. Sebutan Sayyid/Sayyidah  sering digunakan oleh keturunan Husain bin Ali sedangkan Syarif/Syarifah disematkan bagi keturunan Hasan bin Ali. Menurut catatan sejarah, di Indonesia, para keturunan nabi Muhammad saw ini banyak yang berasal dari  Husain bin Ali, oleh karnanya banyak yang disebut dengan sayyid. Sementara keturunan Hasan bin Ali kebanyakan menjadi raj-raja seperti di Maroko, Jordania dan kawasan Timur Tengah lainnya.

Salah kaprah dalam penyebutan Habib

Untuk menjaga kemurnian garis keturunan nabi yang tersebar di belahan dunia, telah dibentuk sebuah organisasi dari kalangan Bani `Alawiyyin yang memiliki tugas mencatat para dzurriiyah. Organisasi tersebut adalah Rabithah `Alawiyyah, untuk wilayah Indonesia saat ini diketuai oleh Sayyid Zen Umar bin Smith.

Terdapat fenomena sosial yang tersebar luas di kalangan masyarakat  selama ini terkait penyematan kata habib (bentuk jamak: habaib) kepada setiap dzurriyah nabi, baik sayyid atau syarif. Biasanya, sebagian masyarakat menyebut para dzurriyyah yang masih anak-anak dengan sebutak yik, syarif,sayyid, dan akan memberikan gelar “habib” kepada mereka pada saat usianya menginjak dewasa.

Menurut Sayyid Zein Umar bin Smith, ketua Rabithah `Alawiyyah Indonesia, penyematan kata “habib” secara serampangan kepada setiap kalangan bani `Alawiyyin merupakan bentuk kesalahan yang perlu diluruskan. Menurutnya, saat ini banyak orang yang mengaku sebagai habib, padahal bukan. Gelar habib tidak bisa diberikan kepada setiap sayyid atau syarif. Setiap habib pasti dari kalangan sayyid/syarif, tetapi tidak semua sayyid/syarif dapat disebut habib.  Habib Ali al-Jufri juga mengutarakan bahwa sebutan habib hanya diperuntukkan bagi bani `Alawiy yang alim, memiliki aqidah yang kokoh dan menjalankan ajaran Islam dengan taat.

Pengukuhan sebagai habib pada dasarnya identik dengan penyematan istilah ustadz, kiyai, Ajengan, Buya, Tuan Guru, dan sebagainya untuk kalangan di luar Bani `Alawiyyin, yang harus melalui penilaian dan pengakuan komunitas dan masyarakat luas dengan berbagai persyaratan yang sudah disepakati. Di antaranya, kematangan usia, memiliki ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas, wara` serta bertkawa kepada Allah swt. Dari sekian persyaratan tersebut yang terpenting lagi adalah akhlak yang baik, sebagaimana dicontohkan oleh nabi Muhammad saw, sehingga dapat memberikan keteladanan yang baik dalam tingkah laku dan bertutur kata. Keteladanan inilah yang dapat menumbuhkan rasa cinta kepada para habaib, sehingga mereka betul-betul menjadi orang yang dicintai (habib), bukan semata karna kemulian nasabnya, namun juga atas keluhuran akhlak dan budi pekertinya.

Oleh: Buhari

Dosen IAIN Pontianak

Check Also

Perlukah Kontroversial?

Oleh: Ahmad Fauzy Ketua 1 Kaderisasi PC PMII Kabupaten Malang Yang terpenting dari suatu Fenomena …

Tinggalkan Balasan