Home / Ngaji / Menguak Nilai Filosofis Peringatan Maulid Nabi Saw

Menguak Nilai Filosofis Peringatan Maulid Nabi Saw

Oleh: Ach Tijani

Da’i Muda NU Kalbar

Tanggal 12 Rabiul Awal bagi masyarakat muslim Indonesia dianggap sebagai tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu di seputar tanggal tersebut atau setidaknya dalam satu bulan Rabiu Awal tersebut kemeriahan dzikro maulidin Nabi menjadi suatu pemandangan khas ala Indonesia dengan berbagai macam kemasannya. Kemasan yang populer adalah rangkaian bacaan sholawat, disusul tausiyah dari sejumlah da’i dan kemudian ditutup do’a serta pembagian bingkisan makanan ala kadarnya yang menyesuaikan dengan situasi setempat.

Begitulah tradisi itu telah menjadi bagian dari semangat keberagamaan umat muslim Indonesia. Disitu jugalah kecintaan terhadap baginda Rasulullah tereskpresikan dengan kemeriahan dan kegembiraan dengan berbondong-bondong menyelenggarakan peringatan kelahiran beliau, dari suatu masjid ke masjid yang lain, bahkan tidak jarang juga dilaksanakan dari rumah ke rumah. Begitulah bulan Rabiul Awal itu menjadi momen istimewa yang hampir mirip dengan perayaan hari-hari besar keagamaan Islam lainnya.

Kearifan tersebut dalam sejarahnya mengundang beberapa pendapat, ada yang membid’ahkan, sebagian lain mempertanyakan validitas historisnya sementara yang lebih dominan adalah menerimanya.  Suatu respon yang sudah biasa terjadi dalam dinamika keberagamaan umat muslim, khususnya muslim Indonesia. Kelompok yang membid’ahkan adalah kelompok umat muslim dari kalangan puritanis yang menginginkan agama itu bersih dan rapi tanpa tambahan dan pengurangan seperti halnya pada saat ia diturunkan. Sementara kelompok yang menyangsikan validitas kesejarahan adalah kelompok muslim berparadigma emperisme-positivistik yang melandaskan aktifitas keagamaan pada hal-hal yang benar, tepat dan terukur. Kemudian yang terakhir adalah sikap keberagamaan yang mengedepankan makna-makna substansial.

Barangkali agak sulit untuk saling menyisihkan maupun sekedar untuk mengunggulkan salah satu diantara tiga fenomena keberagamaan tersebut. Masing-masing adalah ekspresi semangat keberagamaan yang tidak perlu dibenturkan jika hanya untuk membenarkan pilihan pribadi. Tetapi sangat mungkin jika mencoba merangkulnya sebagai upaya mengambil posisi baru dan pandangan baru sebagai bagian dari dinamika keberagamaan. Hal itu dapat dilakukan karena masing-masing pandangan yang sudah ada sama-sama memiliki kekurangan yang tidak dapat dipisakan dari kelebihannya.

Misalnya kelompok muslim puritanis memiliki kendala saat menghadapi dua realitas yang sama-sama hadir sebaga keniscayaan yaitu kehadiran ajaran dan budaya. Kuntowijoya pernah memaparkan bahwa agama tanpa budaya adalah jalan kebenaran penuh kesunyian, sementara budaya tanpa agama adalah kemeriahan tanpa tujuan. Begitu juga paradigama empiris-postivistik yang merupakan dampak dari kedigdayaan dan dominasi metode ilmiah yang berlebihan, sehingga dimensi agama yang penuh dengan nuansa metafisik dan eskatologis akan banyak terabaikan.

Barangkali posisi ketiga  yaitu keberagamaan substansial ini dapat dianggap lebih elastis, walau juga tidak harus berlaku bahwa segala hal dapat ditoleransi. Tiga bentuk asimilasi relasi ajaran dan budaya tetap harus menjadi panduan, seperti proses tahmil (akomudasi) terhadap budaya yang memang memungkinkan untuk diakomudasi. Sementara untuk budaya yang tidak dapat diterima, Islam juga memberikan jalan keluar berupa bentuk tahrim (pengharaman). Sebagai contoh, budaya judi dan minum khamr walau didalamnya terdapat nilai-nilai subsatansial berupa silaturahmi, namun tidak dapat diterima dan ditoleransi oleh karena unsur mudharat yang lebih besar daripada manfaatnya. Kemudian bentuk ketiga adalah taghyir adalah bentuk merubah tradisi lama dengan tradisi baru baik secara total maupun secara parsial, disini berlaku konsep al-muhafadhah ‘ala qadimis sholih wal-akhdu bil jadidil ashlah.

Maulid Nabi dalam hal ini tidak dapat didekati dari tiga pendekatan paradigma di atas secara serampangan. Sisi penerimaan maupun penolakannya tetaplah harus dijelaskan dalam ruang keyakinan, validitas logis dan standar kemanfaatan yang terukur. Dalam hal ini dialektika seorang Plato yang mengandaikan pengetahuan itu adalah relasional-kontinuitas dari belief, reason dan true cukup layak sekedar sebuah dialektika metodis untuk menyajikan suatu pemahaman mengenai wacana dan sikap keberagamaan.

Dalam hal ini fenomena Maulid Nabi tidak sekedar berhenti pada tuduhan sebagai bagian dari bid’ah, tidak historis (penyimpangan sejarah) atau diakui sebagai bagian dari kearifan lokal. Kesimpulan tersebut akan memuat berbagai kontradiksi yang memungkinkan untuk saling menyalahkan dan membenarkan pilihannya sendiri.

Maulid Nabi memang tidak boleh hanya dianggap sebagai ritual berbasis teks, sejarah atau ritual berbasis budaya. Tetapi Maulid Nabi dalam pendekatan paradigma keilmuan Plato adalah suatu keyakinan yang meminta “interpretasi dan reinterpretasi” (reason) serta standar kebenaran yang dapat dirasakan saat ini. Dengan demikian, Maulid Nabi bukan persoalan dapat ditarik pada linieritas kesejarahan, tetapi kehadirannya adalah bagian dari keyakinan bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.

Fonomena Mulid Nabi itu adalah ekspresi teologis dengan mempertimbangkan aspek historis semangat kepribadian, uswah dan ajaran yang dibawa oleh Muhammad. Aspek historis disini bukan persoalan persesi faktual tetapi lebih kepada nilai. Maka yang mesti dikembangkan dalam diskusi Maulid Nabi bukan persoalan kelahiran Nabi seacara biologis kapan dan dimana dilahirkan. Barangkali kepribadian Nabi sebagai anak yang dilahirkan dengan keadaan yatim (surah 93:6) serta beberapa kepribadian lainnya dimana Muhammad dilebelkan sebagai manusia yang terpercaya (al-Amien) oleh kuamnya saat itu menjadi salah satu yang harus disampaikan dalam momentum Maulid Nabi.

Kemudian juga diceritakan di dalam al-Quran bahwa Nabi Muhammad SAW pernah dibelah dadanya yang kemudian dikeluarkan darinya segala hal yang buruk. Cerita ini ada di dalam al-Quran namun dalam sejarah kehidupan Muhammad ditempatkan dengan berbagai macam variasinya, tetapi pada intinya ada proses pembersihan pada hati Muhammad (Lihat Surah 96 dan, ibn Ishaq, Ibn Sa’d, Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, persoalan Maulid Nabi bukan sekedar persoalan Maulidu Muhammad tetapi secara teologis merupakan Maulidu Tauhid, babakan baru ketauhidan yang beberapa kali mengalami pasang surut dalam kehidupan setelah manusia mengalami sejarah kejahiliaan 1400 tahun silam.

Kehadiran Maulid Nabi di bumi Nusantara dalam sudut pandang penulis tidak sekedar persoalan akomudasi budaya, tapi adalah wadah keseriusan warisan pemikiran para ulama ahlu sunnah wal Jama’ah dalam hal ini tentu adalah para kiyai Nahdlatul Ulama yang secara cerdas mengemas dalam pranata dan simbol sosial dengan tujuan reproduksi ketauhidan. Disinilah dimensi true kebenaran dari suatu keyakinan itu harus diterjemahkan, seperti tidak menebar hoax, tidak saling menghina, tidak korupsi dan tidak bertindak keras atas nama agama.

Berdasar pendekatan metodis Plato (belief, reason dan true) maka Maulid Nabi itu adalah sejatinya Maulidu Tauhid dari jenis kejahiliaan baru di bumi Nusantara. “Selamat Bermaulid Allahummah Sholli ‘Ala Muhammad”.        

Check Also

Semarak Harlah ke-90, LP Ma’arif NU Kalbar Gelar Malam Refleksi

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama  merupakan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama, …

Tinggalkan Balasan