Home / Mutiara Sufi / Jalan Para Abdal (16): Melalui Ikhlas dalam Beramal

Jalan Para Abdal (16): Melalui Ikhlas dalam Beramal

Oleh: Nur Kholik Ridwan

Anggota PP RMINU

Orang yang niatnya bagus atau membaguskan niatnya dalam menjalani hidup dan beramal, akan menjadi orang yang ikhlas dan shidiq, mereka menjadi orang yang benar dan jujur dalam tingkah laku, perbuatan, dan ucapannya. Dalam soal ini, kita akan mengambil faedah dari penjelasan beberapa guru sufi: Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, Imam Abu Hasan asy-Syadzili; Abu Tholib al-Makki dan Imam al-Qusyairi.

Dengan mengemukakan pandangan-pandangan mereka, akan banyak faedah yang bisa diambil untuk memperkokoh niat yang baik, supaya dalam menjalani hidup dan melakukan amal-amal, dapat meniru orang-orang sholih, khususnya para Abdal yang salah satunya jalanya, selain husnun niyat, adalah ikhlas dan shidiq. Selanjutnya akan saya tambah dengan penjelasan hadits 40 hari dalam soal riyadhoh ikhlas yang sering digunakan di dalam berbagai tirakat di kalangan para ahli suluk.

Syaikh Abdul Qodir al-Jilani

Dalam kitab Futûhul Ghoib (al-Maqolah ke-16), Syaikh Abdul Qodir al-Jilani menjelaskan bahwa orang ikhlas itu adalah orang yang melihat dalam dirinya akan perbuatan-perbuatan Alloh atau sifat-sifat-Nya, dengan menghilangkan ketergantungan hati kepada makhluk, karena ketergantungan hati kepada makhluk ini, misalnya keinginan memperoleh hadiah, mendapat kesenangan manusia kepada orang itu, adalah sumber penghalang memperoleh keridhoan dan pertolongan Alloh. Orang seperti itu, menurut Syaikh Abdul Qodir al-Jilani telah jatuh ke dalam perbuatan menduakan Alloh (secara khofi).

Syaikh Abdul Qodir al-Jilani mengatakan:

“Apabila kamu telah menjauhkan dirimu dengan bergantung kepada manusia, dengan menyekutukan mereka dengan Alloh, bergantung kepada penghasilan (dari kerja-kerja), berpuas hati dengannya, dan melupakan pada karunia Alloh, maka di sini kamu telah bersikap seperti orang musyrik. Syirik disini lebih halus dari syirik yang terdahulu (menyembah kepada selain Alloh), karenanya Alloh akan menghukum dan menjauhkanmu dari keridhoan-Nya.”

“Apabila kamu sudah keluar dari keadaan semacam itu dan membuangnya jauh-jauh, melepaskan hatimu pada ketergantungan pendapatan (hasil kerjamu) dan pada daya upayamu, kamu akan melihat Alloh-lah yang sesungguhnya memberi kehidupan ini, menjadi sebab akibat, menjadi sebab mencari pendapatan, dan memberi kekuatan kepada segala yang baik, dan kamu mengetahui bahwa kehidupan itu ada dalam kekuasaan-Nya yang kadang-kadang dibawakan-Nya kepadamu, melalui orang lain, dengan cara kamu meminta mereka pada masa-masa ujian dan perjuangan; atau melalui permohonan kepada-Nya; atau melalui pemberian orang lain; dan melalui karunia-Nya sedemikian rupa, sehingga kamu tidak lagi bisa melihat sebab cara datangnya, maka sudah seharusnya engkau kembali kepada-Nya dan menuju ke hadhirat-Nya, Dzat yang Maha Agung dan Berkuasa.”

“Hal demikian itu, jika Alloh menyingkapkan hijab yang melindungimu dari kerindhoan-Nya dan membuka pintu rezeki dengan kehendak-Nya di dalam keadaan yang bersesuaian keperluanmu waktu itu, bagaikan seperti dokter dengan pasiennya. Inilah perlindungan dari Dia Yang Maha Mulia dan Agung untuk membersihkanmu dari kecenderungan kepada selain Dia. Dan dengan demikian, Alloh akan meridhoimu.”

“Oleh karena itu, apabila Alloh telah mengosongkan hatimu dari setiap tujuan nafsu, dan kehendak, maka dia akan memenuhi hati-Mu dengan kehendak-Nya. Apabila Dia hendak memberikan bagian kepadamu, dan bukan untuk orang lain, maka pasti kamu mendapatkan bagianmu itu. Dia akan mengarahkanmu untuk mendapatkan bagianmu, dan bagian itu akan sampai kepadamui pada saat-saat kamu memerlukannya. Dia akan memberikan kekuatan syukur kepada-Nya. Hal ini menambah kekuatanmu untuk menjauhkan dirimu dari orang banyak dan untuk mengosongkan hatimu dari apa saja selain Alloh.”

“Apabila ilmu dan kepercayaan sudah menjadi teguh, kamu bertambah dekat dengan Alloh, dan kamu telah pantas untuik memelihara rahasia-rahasia-Nya, maka kamu akan diberi ilmu untuk mengetahui terlebih dahulu bahwa waktu bagianmu akan sampai kepadamu. Dan ini tanda-tanda kamu telah diberi kemuliaan dan keridoan-Nya. Inilah karunia-Nya, kasih sayang-Nya, pengarahan dan bimbingan-Nya,”

Jadi, dalam penjelasan Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, ikhlas semata karena Alloh, akan mendorong orang itu, untuk bisa merasakan kekuasaan Alloh melalui Af`al-Nya dan sifat-Nya di dalam kehidupannya; menjadi hanya butuh dan faqir kepada dan hanya dari Alloh; menjadi sabar menghadapi segala ahwal dan rintangan, menjadi syukur dengan segala kehidupannya; menjadi berserah kepada Alloh dalam pengaturan-Nya, dan memperoleh keridhoaan-Nya; serta terus menerus bergerak untuk memperoleh ridho-Nya secara dinamis.

Syaikh Abu Hasan as-Syadzili

Dalam kitab Durrotul Asrôr wa Tuhfatul Abrôr yang ditulis Syaikh Muhammad bin Abul Qosim al-Humairi yang membahas biografi Syaikh Abu Hasan asy-Syadzili, wasiat-wasiat, wirid-wirid, dan doa-doa mahaguru tarekat Sadziliyah, pada bagian membaicarakan keikhlasan, beliau menyebutkan begini:

“Cahaya dari Cahaya Alloh dititipkan ke dalam hati hamba-Nya, yang beriman sehingga memutusnya dari selain-Nya. Maka itulah keikhlasan yang tidak dapat ditengok oleh para malaikat lalu menulisnya; atau oleh setan lalu merusaknya; maupun hawa nafsu lalu membelokkannya.”

“Dan, dari keikhlasan itu bercabang menjadi empat kehendak: Pertama, kehendak untuk ikhlas dalam amal di atas dasar pengagungan terhadap Alloh (dalam Dzat-Nya, Sifat-Nya dan Asma’-Nya); kedua, keikhlasan amal demi mengagungkan perintah Alloh (dalam penghambaan kepada-Nya); ketiga, ikhlas beramal dari menuntut ganjaran dan pahala; dan keempat, ikhlas beramal dari segala noda-noda (cacat-cata al-muhlikat yang menyengsarakan dan membahayakan), tidak memperhatikan kepadanya selain itu.”

“Kita menghamba kepada-Nya dengan kehendak ini. Karena itu siapa yang berpegang satu darinya (dari empat itu), maka dia termasuk orang yang ikhlas. Mereka dalam derajat-derajat di sisi Alloh, dan Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Kepada isyarat inilah Alloh berfirman yang disampaikan oleh Jibril kepada Rasulullah: “Ikhlas itu rahasia dari rahasia-Ku, yang Aku titipkan dalam hamba-hamba-Ku yang Aku cintai.”

Dalam bagian lain, Syaikh Abu Hasan asy-Syadzili mengatakan kisahnya, begini:

“Aku melihat seolah-seolah diriku sedang tawaf di dalam Ka’bah dan ada yang menuntut keikhlasan dari diriku, dan aku memeriksanya di dalam batinku. Tiba-tiba ada seruan: “Berapa sering kalian mendekat bersama orang-orang yang medekat, sedangkan Aku Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Mahadekat, dan Mahawaspada. Pengenalan dari-Ku mencukupkanmu dari ilmu orang-orang dahulu dan kemudian, kecuali ilmu Rasul dari para Nabi.” Kata-kata terakhir ini menjelaskan puncak pengetahuan seorang wali sekalipun, tetap ada di bawah Rasul dan Nabi.

“Ikhlas itu terdiri dari 4 unsur: keikhlasan orang yang berikhlas, apa yang diikhlaskan, dengan apa yang diikhlaskan, kepada yang dikhlaskan kepada-Nya. Dan keikhlasan itu ada dua bagian: pertama, kalangan shodiqin, orang-orang yang jujur, yang menuntut pahal dan ganjaran; dan kalangan shiddiqin, di mana hanya Wujudul Haqq yang dimaksudkan. Maka siapa yang ikhlas itu dititipkan ke dalam hatinya, dialah yang dikecualikan oleh lisan musuh-Nya dalam firman-Nya: “Aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka (QS. Shod [38]: 82-83).”

Dari penjelasan Syaikh Abu Hasan asy-Syadzili, jelaslah bahwa dengan menjalankan ikhlas dalam hidup, amal-amal, dan penghamba seseorang kepada-Nya, sudah cukup bisa untuk mengalahkan nafsu dan setan yang menggoda; yang hal ini akan selalu muncul, baik ketika ia dikarunia pendengaran godaan itu atau tidak. Maka kalam-kalam yang dibukakan kepada orang-orang yang dikehendaki Alloh untuk memperoleh pengetahuan ruhani, dari sudut itu, yang beranekaragam dan mengganggu misalnya, bisa jadi diuji dalam ikhlasnya.

Dan, ketika ikhlas itu telah benar dan menancap di hatinya, berdasarkan ayat yang dikutip Syaikh Abu Hasan asy-Syadzili itu, hanya orang-orang mukhlis yang tidak bisa dibelokkan setan; dan dari hadits Kanjeng Nabi di atas maka maka setan dan malaikat saja tidak mampu menjangkau dari aspek terdalam hati yang did alamnya menancap ikhlas, karena ikhlas itu masuk pada level sirr dan sirrul asror (yang tersembunyi dari yang tersembunyi): yang tahu hanya orang itu dan Alloh.

Menurut Abu Tholib al-Makki

Abu Tholib al-Makki dalam `Ilmul Qulub (Kairo: Maktabah al-Qohiroh, t.t.), pada bagian ketika menjelaskan ikhlas, disebutkan begini: “Ikhlas itu kewajiban agama. Dengan keikhlasan, iman menjadi sempurna. Ikhlas adalah inti amal dan penentu diterimanya amal di sisi Alloh yang Maha mengetahui. Amal-amal tanpa ikhlas bagaikan kelapa tanpa isi, raga tanpa nyawa, pohon tanpa buah, awan tanpa hujan, anak tanpa garis keturunan, dan benih yang tidak tumbuh.” Dari sudut ini, kalau dihubungkan dengan hadits innamal a’mâlu binniyât pada pembahasan sebelumnya, maka niat yang baik harus ikhlas lillahi ta`ala; dan niat yang buruk, adalah mendurhakai Alloh.

Penjelasan Abu Tholib al-Makki soal ikhlas dalam kitab itu, kalau diringkas, menurutnya ikhlas itu harus dilakukan dalam 5 jenis: ikhlas menerima agama Islam meskipun ada agama-agama lain; ikhlas dari hawa nafsu (tahap nafsu yang belum diridhoi dan belum tenang) dan bid’ah yang tercela; ikhlas dari kata-kata dan perbuatan tercela dan tidak berguna; dan ikhlas dalam hal akhlak (dari akhlak muhlikat) untuk mencapai ridho Alloh. Setelah itu Abu Tholib al-Makki mengutip dari perkataan para sufi untuk menjelaskan 5 aspek itu, secara panjang dan di sini tidak akan dikutip.

Menurut Imam Abul Qosim al-Qusyairi

Dalam kitab ar-Risalah al-Qusyairiyah, Imam al-Qusyairi menyebutkan beberapa perkataan sufi ketika membahas bagian soal ikhlas, begini:

1. Abu Ali ad-Daqqoq berkata: “Ikhlas adalah keterpeliharaan diri dari keikutcampuran semua makhluk. Sementara shidiq adalah kebersihan diri dari penampakan-penampakan; orang yang ikhlas tidak memiliki riya’, dan orang yang shidiq tidak akan kagum terhadap dirinya.”

2. Dzunnun al-Mishri berkata: “Ikhlas tidak akan ada kecuali dengan kebenaran dan sabar di dalam ikhlas. Shidiq tidak akan sempurna kecuali dengan ikhlas dan terus menerus di dalam ikhlas. Ada tiga alamat yang menunjukkan keikhlasan seseorang, yaitu ketiadaan pujian antara celaan dan puji, lupa memandang amal-amal perbuatannya sendiri, dan lupa menuntut pahala atas amal perbuatannya itu.” Menurut hikmah Imam Dzunnun al-Mishri ini, iklash hanya bisa ada dengan sabar, yang ini juga menjadi jalan para Abdal; dan dari sabar itu ikhlas akan meningkat menjadi shidiq.

3. Junaid al-Baghdadi: “Ikhlas adalah rahasia antara Alloh dan hamba-Nya. Tidak ada hamba yang tahu dan malaikat yang mencatat-Nya. Tidak ada setan yang mengetahui dan merusaknya. Dan tidak ada hawa nafsu yang membelokkannya.” Perkataan Imam Junaid al-Baghdadi ini, telah juga sama dengan yang dikemukakan oleh Imam Abu Hasan asy-Syadzili.

4. Ruwaim bin Ahmad mengatakan: “Keikhlasan suatu perbuatan adalah ketiadaan kehendak bagi pemeliknya untuk mendapatkan ganti rugi dari dua alam dan ketiadaan permintaan bagian dari dua malaikat penjaga neraka dan surg.” Ini adalah pengertian keikhlasan yang paling tinggi, di dalam empat jenis ikhlas yang dikemukakan Imam Abu Hasan asy-Syadzili di atas.

5. Hadits Nabi tentang makna ikhlas, riwayat sahabat Hudzaifah berbunyi demikian: “Saya (Nabi Muhamamd) bertanya kepada Jibril tentang ikhlas, apa itu?” Kemudian Jibril berkata: “Saya bertanya kepada Tuhan tentang ikhlas, apa itu?” Dan Tuhan menjawab: “Yaitu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku titipkan pada hati orang yang aku cintai di antara hamba-hamba-ku.” Hadits ini juga dikutip Imam Abu Hasan asy-Syadzili di atas.

6. Sulaiman ad-Daroni berkata: “Jika seseorang hamba ikhlas, maka rasa waswas akan terputus darinya”; dan menurut Ibrahim al-Khowas dikatakan begini: “Orang yang shidiq tidak bisa kamu lihat kecuali dalam kewajiban yang ditunaikannya atau keutamaan yang dikenakan selalu untuk Tuhannya.”

7. Ma’khul berkata: “Tidaklah seorang hamba selama 40 hari mampu berbuat ikhlas, kecuali sumber-sumber hikmah akan keluar dari hatinya melalui lidahnya.”

8. Tentang Shidiq, Imam al-Qusyairi berkata: “Orang yang shiddiq, orang yang benar segala ucapan, perbuatan dan keadaaanya.” Dan karenanya menurut Imam Junaid al-Baghdadi: “Orang yang benar dalam sehari akan mengalami pembolak-balikan selam 40 x, dan orang yang riya’ dalam 40 tahun tetap dalam 1 keadaan.”

9. Dalam hadits Nabi disebutkan: “Seorang hamba senantiasa berbuat benar dan selalu benar, dia ditulis di sisi Alloh sebagai shiddiqon (orang yang shiddiq), dan seseorang senantiasa berbuat bohong dan selalu berbohong sehingga dia ditulis oleh Alloh sebagai pembohong” (HR. Abu Daud, No. 4989; at-Tirmidzi No. 1972).

Tambahan Hadits Ikhlas 40 hari dalam Tradisi Riyadhoh

Seperti telah disebutkan bahwa Imam al-Quisyairi menyebut pernyataan Imam Ma’khul tentang ikhlas 40 hari itu begini: “Tidaklah seorang hamba selama 40 hari mampu berbuat ikhlas, kecuali sumber-sumber hikmah akan keluar dari hatinya melalui lidahnya.” Apa yang dikatakan seorang tabii, Imam Ma’khul ini, sebenarnya adalah hadits Kanjeng Nabi Muhammad, yang diriwayatkan al-Hafizh Abu Nu’aim melalui Ma’khul.

Redaksi hadits yang diriwayatkan Abu Nu’aim melalui jalan Ma’khul itu, lengkapnya begini:

“Menceritakan kepada kami Habib bin al-Hasan, menceritakan kepad kami Abbas bin Yusuf asy-Syakli, menceritakan kepada kami Muhammad bin Yasar as-Subari, menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma`il, menceritakan kepad kami Abu Kholid Yazid al-Wasithi, mengabarkan kepada kami al-Hajjaj dari Ma’khul dari Abu Ayyub al-Anshori, berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang hamba selama 40 hari mampu berbuat ikhlas, kecuali sumber-sumber hikmah akan keluar dari hatinya melalui lidahnya.” Begini sebagaimana diriwayatkan Yazid al-Wasithi secara muttashil. Dan meriwayatkan juga Abu Harun; dan meriwayatkan juga Abu Mu`awiyah dari al-Hajjaj secara mursal” (Al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashfihani, Hilyatul Auliyâ’ wa Thobaqôtul Ashfiyâ’, Beirut: Darul Kutub al-`Ilmiyyah, 1989/1409, V: 188).

Hadits di atas diperkuat dengan hadits-hadits lain yang menyebutkan tradisi 40 hari dalam beramal secara ikhlas, seperti disebutkan Imam Baihaqi bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang sholat selama 40 hari secara berjamaah dengan mendapatkan takbirotul ihram pertama, maka ditulisnya 2 kebebasan: dari api neraka dan dari sifat kemunafikan” (HR. Baihaqi, Syu’bul Îmân, No. 2872, dari sahabat Anas); dan Nabi bersabda: “Barangsiapa sholat 40 malam dengan jamaah dicatat baginya kebebasan dari neraka dan dari kenifakan” (HR. Baihaqi, Syu’bul Îmân, No. 2873, dari sahabat Anas)

Hadits seperti ini, dengan redaksi agak berbeda, juga diriwayatkan Imam Baihaqi dalam Syu’bul Îmân, No. 2874, 2875, dan 2876 bersumber dari sahabat Anas bin Malik dan Umar bin Khthob. Sementara Guru salafi wahhabi, Muhammad Nashiruddin Albani menyebut dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shohîhah (V1: 314-315), menyebutkan hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Abu Sa`id Ibnul Arobi di dalam kitab al-Mu’jam, Ibnu Adi di dalam al-Kamil, dan Abul Qosim al-Hamdani dalam kitab al-Fawaid.

Hadits riwayat Abu Nu’aim yang musttashil di atas, isinya dipandang penting dalam tradisi disiplin menjalankan riyadhoh ikhlas selama 40 hari yang dipraktikkan oleh kalangan ahli suluk dan orang yang sedang laku tirakat, dengan niat ingin mendekatkan diri kepada Alloh dan mencari ridho-Nya. Lewat riwayat Abu Nu’aim, batasan 40 hari itu, akan mengokohkan dalam lisan yang menjalankannya dengan kalimat-kalimat hikmah; dan melalui riwayat Imam Baihaqi (dan riwayat lain), disiplin 40 hari itu menghantarkan pada dua hal, dan di antaranya adalah terhindar dari kemunafikan.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, orang yang mengokohkan niatnya dengan baik, lalu mengikhlaskan dirinya untuk Alloh dalam amal-amal di seluruh hidupnya, akan terhindar dari kemunafikan dan diberkahi dengan lisan yang penuh hikmah. Akan tetapi seorang yang ikhlas itu, juga dia akan dibolak-balik terus dengan ujian, seperti kata Imam Junaid al-Baghdadi di atas: “1 hari seorang ikhlas dibolak-balik 40 kali”, untuk menguji keikhlasannya. Dari sini para ahli sering berdoa “Ya Muqollibal Qulûb tsabbit qolbi bi lâ ilâha illallâh, wa as`aluka rahamataka wa maghfirotaka”; seiring dengan berbagai banyaknya rintangan, dari nafs dan setan, dari bangsa jin dan manusia, yang membuatnya waswas. Dengan keikhlasan yang kokoh, gangguan-gangguan ini akan dapat sirna, karena orang yang ikhlas tidak bisa dibelokkan oleh gangguan setan.

Pada sisi lain, menurut Imam Dzunnun al-Mishri seperti telah disebutkan di atas, keikhlasan itu tidak akan sempurna tanpa kebenaran dan kesabaran, perjuangannya adalah dengan kesabaran, dalam meniti kebenaran dan dalam menjalan amal-amal yang bisa dilakukan; kesabaran dalam mengahadapi ujian dibolak-balik oleh Alloh; dan sabar ini pula menjadi jalan yang ditempuh oleh Para Abdal, yang akan dijelaskan di bagian selanjutnya; sabar dalam menjalani laku sebagai seorang shiddiqin.

 

Check Also

Semarak Harlah ke-90, LP Ma’arif NU Kalbar Gelar Malam Refleksi

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama  merupakan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama, …

Tinggalkan Balasan