Home / Berita / BEM STAI Mempawah Sukses Gelar DIalog Kebudayaan Jawab Kontroversi Tradisi Rebo’-robo’

BEM STAI Mempawah Sukses Gelar DIalog Kebudayaan Jawab Kontroversi Tradisi Rebo’-robo’

MEMPAWAH – NU Khatulistiwa,  Beberapa waktu sebelum pelaksanaan robo-robo dilaksanakan, mulai bermunculan isu-isu di beberapa akun media sosial. Pensyirikan terhdap budaya robo-robo oleh beberapa masyarakat yang diungkapkan  di media sosial pun mulai banyak beredar. Budaya yang sudah menjadi tradisi masyarakat Kabupaten Mempawah itu seolah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat sendiri.

Untuk mengantisipasi terjadinya perpecahan di tengah-tengah masyarakat atas kontroversi  budaya robo-robo ini. Maka Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Mempawah mengadakan ‘Dialog Budaya Lokal’ Rabu, 14/11 lalu bertempat di Aula STAI Mempaah.

Presiden Mahasiswa STAI Mempawah mengatakan bahwa, dialog ini dianggap penting karena robo-robo dilaksanakan setiap tahun, bahkan kampus kami juga Istiqomah melakukan budaya ini. Ia khawatir jika hukum robo-robo ini hanya di ambil dari satu sisi saja. Maka penting jika seluruh elemen masyarakat kemudian tau terkait hukum robo-robo yang di anggap syirik oleh beberapa orang tersebut.

Hadir dalam dialog kali ini, Budayan Kabupaten Mempawah Gusti Fauzi dan akademisi IAIN Pontianak, Bukhari yang menjadi narasumber

Dalam paparannya, Bukhari mengungkapkan bahwa tidak benar tradisi robo’-robo itu mengandung kesyirikan.
“Salah satu kontroversi robo’-robo’ adalah tradisi buang-buang. Prosesi buang-buang  pada acra robo robo hanya berupa telur, sirih,pinang dan sebagainya  sebagai simbol penyambutan terhadap  kedatangan sultan, serta simbol membersihkan sifat dlm diri kita dan kembali ke alam. Oleh sebab itu, tidak  ada hal-hal yang mengarah kepada syirik. Sebab syirik itu terkait dengan  aqidah, keyakinan yang  menyekutukan Allah SWT, menyembah dan meminta kepada selain Allah SWT’ ungkap Bukhari

Kemudian Bukhari menambahkan bahwa proses tersebut  juga tidak  bisa digolongkan pada  perilaku tabdzir atau idho’atul maal dengan mendasarkan pada ayat.
ولا تبذر تبذيرا ان المبذرين كانوا اخوان الشياطين

“Para ulama memiliki batasan tentang tabdzir. Dalam  kitab al-Bajuri dijelaskan membuang sesuatu (untuk  keperluan tertentu) yang  nilainya kecil maka hukumnya boleh, kalau  banyak hukumnya makruh tanzih. ” pungkas Bukhari.
Dialog ini dihadiri juga oleh beberapa dosen dan alumni STAI Mempawah serta masyarakat Kabupaten Mempawah yang tertarik dengan tema dialog yang diangkat BEM STAI Mempawah tersebut. (red.Fauzi)

Check Also

PKPT IPPNU IAIN Pontianak Gelar Rutinan KARTINI

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) IAIN …

Tinggalkan Balasan