fbpx
Home / Opini / Sejak Kapan Islam Butuh Bendera

Sejak Kapan Islam Butuh Bendera

Oleh : M.Hasanie Mubarok

Menurut sebagian pakar linguistik, simbol berasal dari Bahasa Yunani Symballo yang berarti melempar bersama-sama. melempar atau meletakkan bersama-sama dalam satu ide atau gagasan objek yang kelihatan, sehingga objek tersebut mewakili gagasan.

Segala hal yang menjadi tanda (sign) sebuah Materi dinamakan simbol. Tiada satu materi-pun di dunia ini yang tidak terabstraksikan kecuali menggunakan suatu simbol yang darinya suatu realita menjadi identik.

Dalam masalah teologis misalnya, untuk mengenal Allah, seorang harus mampu menangkap tanda-tanda akan keberadaannya yang begitu nyata di alam raya. Tanda akan ada-Nya Yang Mutlak inilah yang kemudian menjadi simbol bagi suatu agama -dalam hal ini Islam. Jika dengan tanda itu kemudian diketahui kebesaran Tuhan dan Kuasa-Nya yang tak berbatas, maka manusia mengekspresikan hal itu dengan membentuk simbol.

Simbol yang pertama diejawantahkan -jika dalam Islam- dengan ucapan kalimat Takbir “Allahu Akbar”. Apa yang ditangkap dan dipikirkan oleh manusia itulah yang membentuk bahasa mereka.
Maka dalam hal ini bahasa menjadi simbol utama tentang alam pikiran manusia.

Variasi bahasa di dunia ini terbentuk oleh apa yang dikenal dengan istilah “La Raison Constituante (Prancis)” atau “al-Aql al-Mukawwin (Arab)”. Menurut al-Jabiri “dua istilah di atas bermakna “sebuah kerja kognitif yang dilakukan pikiran ketika mengkaji, meneliti serta membentuk konsep dan merumuskan prinsip-prinsip dasar”. Dengan kata lain -masih menurut Aljabiri, “nalar aktif adalah naluri yang dengannya manusia mampu menarik asas-asas umum dan niscaya, berdasarkan hubungan antara segala sesuatu”.

Dalam hal ini bahasa menjadi simbol atau bentuk luar dari apa yang dicerap manusia, dari situ terbentuklah cakrawala konsepsi manusia yang mewujud dalam bunyi-bunyi berupa bahasa ucapan.

Simbolisasi yang kedua terjadi setelah ruang komunikasi manusia semakin luas. Akhirnya, dibuatlah tulisan-tulisan yang juga berupa simbol-simbol verbalisme bahasa. Sampai di sini, kita mulai masuk dalam satu fase yang murni dibentuk oleh sejarah, yakni perkembangan budaya tulis menulis di dalamnya.

Awal mula tulisan diketahui pada masa proto dengan sistem ideografik dan simbol mnemonik. Penemuan tulisan ditemukan pada dua tempat yang berbeda: Mesopotamia (khususnya Sumeria kuno) sekitar 3200 SM dan Mesoamerika sekitar 600 SM. Dua belas naskah kuno Mesoamerika diketahui berasal dari Zapotec, Meksiko. Sementara itu, tempat berkembangnya tulisan masih menjadi perdebatan antara di Mesir yaitu sekitar 3200 SM atau di China pada 1300 SM.

Menulis sudah dikenal sejak manusia terhubung dengan komunitas lain di luar mereka. Penggunaan lambang-lambang yang disepakati bersama oleh satu atau dua komunitas menjadi cikal bakal terbentuknya tulisan kemudian hari. Simbolisasi inilah yang kemudian membentuk pola interaksi masyarakat lebih luas, pertukaran tradisi, perdagangan dan bahkan perluasan pengaruh semakin bergantung kepada meluasnya suatu simbol/aksara tertentu.

Inilah letak signifikansi sebuah simbol bagi manusia, mereka tak akan bisa hidup tanpa memahami simbol-simbol verbal yang dipahami oleh masyarakat secara umum. Baik simbol itu berupa ucapan atau tulisan.

Secara langsung, Kita bisa menyimpulkan bahwa simbol bukanlah materi itu sendiri. Simbol-simbol hanyalah aksidensi (a’rodh) yang keberadaannya tidak menunjuk secara khusus pada suatu esensi (Asholatul Mahiyyah).

Bendera Tauhid, Sebuah Simbol

Lantas apa makna sebuah bendera Tauhid? Apakah kalimat yang terlukis pada selembar kain yang dibakar oleh Banser di Garut kemarin adalah Tauhid itu sendiri? Jika ditilik dari skema di atas, maka jelas bahwa bendera Tauhid hanya simbol yang tidak menunjuk kepada Tauhid sebagai sebuah nilai fundamental dalam Islam.

Bendera adalah sebuah tanda pengenal bagi sebuah identitas gerakan atau kelompok. Sejauh ini, bendera hanya dimiliki oleh partai politik, organisasi kemasyarakatan dan sebagai identitas kenegaraan NKRI. Di negeri dengan pluralitas suku dan agama, kita masih belum melihat jika salah satunya memiliki bendera khusus, baik yang agama Nasrani, Hindu ataupun Islam sendiri. Begitu juga halnya, sampai saat belum pernah kita jumpai bendera suku Jawa, Sasak, Bugis, Madura dan lain-lain. Semuanya melebur dalam satu identitas, Kita Indonesia. Apapun agama dan suku kita.

Jadi, sejak kapan umat Islam -di Indonesia khususnya- punya bendera Tauhid? Adalah sejak HTI memperkenalkannya ke negeri ini. Kalau kita perhatikan, ormas-ormas Islam yang perjuangannya sudah teruji ruang dan waktu, tidak satupun menggunakan lambang dengan tulisan atau Kalimat Tayyibah Lainnya apa lagi bendera dengan kalimat Tauhid itu. Apakah orang Faqih sekaligus pakar Hadis seperti Khadratusyaikh Hasyim Asy’ari tidak memahami riwayat tentang liwa’ dan Royah?

Walaupun harus diakui, bahwa pada masa kesultanan Islam berkuasa, bendera bertuliskan Tauhid ini sempat digunakan, hal itu karena Nusantara pada saat itu masih belum bersatu dalam satu kesatuan negara. Tapi, setelah negara Republik Indonesia merdeka, maka semua kesultanan itu komitmen untuk bersatu dengan asas Pancasila di bawah semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

Ketika Nasionalisme sedang berada di puncak yang menentukan dalam sebuah proses perjalanan bangsa, di sinilah HTI dengan semangat Khilafah Islamiyyah-nya mulai memperkenalkan bendera Tauhid (liwa dan royah) sebagai simbol Islam. Padahal bendera ini adalah panji perang yang digunakan umat Islam pada saat itu juga dalam situasi perang atas nama kebenaran, kemaslahatan dan kemanusiaan. Bukan atas nama nafsu ingin berkuasa dan bergagah-gagahan.

Tak hanya bermimpi untuk mengganti nasionaliame dan Pancasila, HTI juga membawa lahar panas gaya beragama formalistik dengan bersusah payah mencabik pandangan keislaman inklusif yang sudah ditancapkan dengan kuat dalam dada umat Islam di Indonesia. Islam yang bersanding dengan budaya lokal, namun tidak sinkretik (campuraduk). Islam yang mencintai negerinya sebagai tempat sujud dan bertahan hidup di jalan Allah.

Inilah alasannya, mengapa ketika bendera HTI dibakar, dengan cepat direaksi oleh sebagian umat Islam dengan mengatakan bahwa bendera itu bukanlah khas HTI, tapi bendera Umat Islam. Sejak kapan umat Islam butuh dan merasa punya bendera bertulis Tauhid ini? Jawabannya, sejak Tauhid ada di bendera itu!

Check Also

PMII Sambas Gelar PKD Pasca Seminggu Dilantik

SAMBAS – NU Khatulistiwa, Seminggu pasca dilantik,  Pengurus Cabang PMII Kabupaten Sambas mengadakan Pelantikan Kader …

Tinggalkan Balasan