fbpx
Home / Badan Otonom / Sadar Bahaya Radikalsime di Kampus, PMII UNTAN Gelar Dialog Publik

Sadar Bahaya Radikalsime di Kampus, PMII UNTAN Gelar Dialog Publik

 

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Bertempat di Aula Magister Ilmu Sosial Universitas Tanjungpura Pontianak, dengan tema “Meminimalisir Gerakan Radikalisme Di Lingkungan Kampus” yang diselenggarakan oleh pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisaritat Universitas Tanjungpura. (30/10/2018)

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber yaitu : (1) Brigjen, Pol. Ir. Hamli, ME., selaku Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).  (2) Irjen Pol Drs. Didi Haryono, SH. MH., Selaku Kapolda Kalimantan Barat yang diwakili oleh Dr. Yusuf Setyadi, SH,M.Hum,  (3) Dr. Zulkifli Abdillah. M,A Selaku (Wakil Sekretaris PWNU Kalimantan Barat.Dialog ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai OKP kampus terkhusus dari Universitas Tanjungpura, IAIN Pontianak, BSI Pontianak ,dan Universitas Darul Ulum  .

Farizal Amir Selaku Ketua PMII Komisariat UNTAN, menyampaikan dalam sambutannya, tujuan mengambil tema “Meminimalisir Gerakan Radikalisme Di Lingkungan Kampus” agar mahasiswa paham bagaimana radikalisme itu ,  mahasiswa sebagai agen of chagh dan agen of control karena mashsiswa canggup bagi Indonesia , mahsiswa lah yang bisa mengembangkan Negara Indonesia, sebagai gambaran kecil bagi kita yaitu di RIAU ditemukan  alat peledak di kampus, nah disititulah yang kami khawatirkan di Universitas Tanjungpura, maka dari itu PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) siap untuk membek_up jaringan radikal di untan , namun yang lebih khwatirkan yaitu, adik-adik sekolah kita di berbagai tempet, dari itu perlu adanya upaya dari kita selaku mahasiswa untuk menangkal kaum radikalisme tersebut.

Pengurus cabang PMII Kota Pontianak Abdul Wasi Ibrahim, menyampaikan dalam sambutannya, mahasiswa adalah objek utama untuk dirasuki melewati pemnfaatkan jati diri yang tidak sesuai dengan bangsa pancasila, hal yang seperti ini yang harus kita tangkis agar tidak semakin menular bagi yang lain. seperti yang telah di peringati beberapa hari lalu yaitu hari sumpah pemuda 28 oktober 2018 yang menyatakan , Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa INDONESIA, sedangkan pancasila didirikan melalui konsessus bersama. Kita harus berwawasan yang luas untuk selalu menjaga keutuhan NKRI.

Prof. Dr.H. Thamrin Usman, D.E.A selaku REKTOR UNTAN, membuka langsung acara dialog tersebut namun, sebelum beliau membukanya, ada beberapa hal yang beliau menyampaikan bahwa kita Negara Kesatuan Republik Indonesia berjumlah 250 juta penduduk ,  yang beragam etnis, suku, budaya dan agama, seharusnya kita bisa bersatu karena warga luar negeri meniru jejak kita. untuk memajukan Negara kita tidak perlou keluar negeri cukup kita lakukan yang ada di depan kita di Indonedsia ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa di tahun 2045 yang akan datang Indonesia akan di takuti oleh Negara lain, karena persepektif para ahli filosofi Indonesia akan maju ketika sampai pada abat kemerdekaannya.

Brigjen, Pol. Ir. Hamli, ME selaku Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menyampaikan kepada mahasiswa Jangan sampai terpengaruh oleh kaum-kaum terorisme , terjadinya terorisme terkadang disebabkan oleh faktor ekonomi yang tidak mampu namun ada juga dari kalangan yang sudah menjadi Doktor. kenapa BNPT lahir Di tahun 2010 karena waktu itu ada ledakan 23 bom pada tahun 2001 bom lewat pesawat yang dilakukan oleh orang Indonesia yang dilakaukan salah satunya oleh Hambali pada tahun 2002 bom bali, barulah d tangkap kelompok ini lalu polisi membentuk DENSUS 88.

Pada 2009 ada anak lulusan SMA yang mealakukan bom bunuh diri . peledakan bom itu dikarenakan dijanjikan akan masuk surga dan dijanjikan mendapatkan 72 bidadari juga  dia menyebut hukumnya fardu a’in, mereka melakukan karena menurut mereka merupakan fardhu a’in, hal ini lah yang harus kita lakukan untuk mencegah, oleh para mahasiswa, para ulama, dan para dosen, yang menjadi sasaran utama adalah para mahasiswa juga pemuda/I generasi penerus bangsa, dengan adanya hal ini perlu disasdarkan oleh para generasi penerus bangsa agar tidak melakukan terorisme.

Brigjen, Pol. Ir. Hamli, ME tidak ingin mendengar di UNTAN ini ada berita bahwa mahasiswa ditangkap karena ulah terorisme, .di Suriah lagi ramai, yang lagi konflik sesama agama yang saling berperang distulah orang-orang terorisme mulai masuk untuk memperkeruh masalah, masjid di Damaskus yang didirakan oleh Bani Umayyah telah di bom karena ulahnya  terorisme itu. Namun saya berpesan agar di Pontianak jangan sampai terjadi hal yang sedemikian karena konflik seperti itu hanya mengakibatkan kerugian dan akan mengakibatkan pengungisian. ungkapnya

Irjen Pol Drs. Didi Haryono, SH. MH.,yang  diwakilkan oleh bapak Dr. Yusuf Setyadi, SH,M.Hum,, menyampaikan Minimnya anggota POLRI maka diperlukan kerjasama antara POLRI, TNI juga Masyarakat terkhusus kepada para mahasiswa untuk menangkal kaum radikalisme ini,  khusus di Kalimantan barat ini ada forum komunikasi pimpinan daerah. Melalui inilah POLRI selalu berkomunikasi untuk menjaga atau menagkal kaum radikalisme diberbagai tempat. POLRI selalu bermitra dengan tokoh agama juga tokoh masyarakat. Meski di Kalimantan barat masih aman dengan adanya kaum radikalisme namun, POLRI selalu melakukan pengawasan dan pencegahan agar kaum-kaum radikalisme itu tidak berkembang.

Salah satu cara yang dilakukan oleh POLRI adalah Upaya melakukan pengecekan  identitas jika ada kekecurigaan terhadap seseorang maka akan di efakuasi atau ditindak lanjuti melalui pemeriksaan dan juga bukan menjauhkan mereka (kaum radikalisme) dari kita akan tetapi mengajak, mendekati mereka untuk membaur agar bisa di pantau hingga akhirnya bisa selamat dari radikalisme.  Faham radikalisme dan terorisme tidak boleh tumbuh dan berkembang di Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah bulat yaitu pancasila sebagai dan undang-undang dasar 1945 serta dapat merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dr. Zulkifli Abdillah. M,A mengatakan , juga menyampaikan dalam materinya Aksi itu muncul dari pikiran, , radikal itu mengerah ke ekstrim, mengapa kampus yang menjadi pebicaraan karena kampus tempat yang straregis untuk merekrut mahasiswa untuk masa yang akan datang, yang menjadi sasaran radikal adalah mahasiswa, gerakan ini dimulai sejak 1991, penyebab terjadinya radikalisme itu karena kurangnya pemahaman dari berbagai persepektif sehingga kaum radikal itu sendiri merasa dirinya paling benar, nah seharusnya kita bisa memehami persepektif-persepektif yang lain tidak hanya paham satu persepektif saja. Agar radikalisme tidak terjadi, ambil lah persepektif dari para ahli yang lain tidak hanya satu persepektifr saja, untuk menghindari radikalisme, juga menjadi seseorang yang beragama tidak hanya beragama ikut-ikutan saja melainkan beragama harus berpengetahuan tentang agama.  (Rokib/Maulida)

Check Also

PMII Sambas Gelar PKD Pasca Seminggu Dilantik

SAMBAS – NU Khatulistiwa, Seminggu pasca dilantik,  Pengurus Cabang PMII Kabupaten Sambas mengadakan Pelantikan Kader …

Tinggalkan Balasan