fbpx
Home / Opini / Pancasila Ideologiku

Pancasila Ideologiku

 

Oleh:  Muhammad Hotip

Kader Pmii Pontianak

Sebuah negara yang terlahir dengan berbagai macam keindahan warna kehidupan ialah Indonesia. Berbagai macam suku,agama,budaya, ras, tradisi dan lain-lain. Siapa yang tak kenal dengan negri 1000 pulau dan 1000 kekayaan Alam. Tetapi bukan itu saja, tentu masih banya yang dimiliki negri ini. Berkaca pada sejarah dimana proses untuk menciptakan negri pancasila ini penuh dengan tantangan, hambantan dan rintangan yang harus dilewati. Nyawa demi nyawa harus dikorbankan untuk memberikan warisan yang berharga untuk generasi penerus bangsa ini. Tak lekang oleh jaman, sejarah memberikan warisan yang tak bisa kita balas dengan seonggok harta dan tahta. Dimana, para generasi tua harus melawan penjajah, dengan bermodalkan bambu, kayu dan alat-alat yang di ambil dari alam, mereka  rela melawan penjajah yang bermodalkan alat pemakan nyawa yang terbuat dari besi dan tembaga.

Tetapi, itu semua tak menghalangkan semangat juang para pendahulu untuk melawan sang perampas negri ini (penjajah). Kita, sebagai generasi muda tentu tak bisa melupakan semua itu, karena idealnya para pendahulu telah melahirkan Indonesia, yang berlambangkan Pancasila. Kita tahu bahwa setiap tanggal 1 juni selalu diperingati hari kelahiran pancasila. Pancasila adalah sebuah lambang negara Indonesai yang tak bisa diperjual belikan. Dengan proses yag sangat lama untuk merumuskan setiap poin demi poin, kalimat demi kalimat  dan mengurtkan angka satu sampai lima yang memakan waktu, tenaga, harta bahkan nyawa hanya untuk memberikan sebuah warisan untuk generasi penerus bangsa ini. Perlu kita ketahui dan pahami setiap bait dari tulisan dan kalimat yang termaktub dalam lambang sang garuda yang mempunyai makna yang sangat mendalam.

Musim Pemilu 2019 sudah tiba. Pilpres dan Pileg akan hadir di depan mata dalam waktu dekat ini. Saat ini indonesia sedang dirongrong rasa saling menyakiti bukan malah saling mengasihi. Akibat dari sebuah kepentingan yang di aplikasikan kepada saudara sendiri. Tak mengenal siapa dia tetapi apa yang harus dilakukan untuk menjatuhkan lawan-lawannya. Sanak saudara bukan menjadi sebuah halangan hanya untuk memenangkan sebuah kontestasi politik. Ntah, apa yang akan terjadi untuk kedepannya, proses Pemilu sedang berjalan, berbagai macam atribut alat perang sudah disiapkan, dengan pesan narasi provokatif dan hasutan untuk memancing hadirnya sebuah perselisihan dengan saudara di Tanah kelahiran (Indonesia).

Siapa yang tidak tahu politik. Memang bukan politiknya yang salah tetapi proses politik yang dimanfaatan oleh para pelaku politik demi keuntungan segelintir orang. Berbagai macam cara yang dilakukan para aktor dan pelaku politik terus dilakukan. Agama menjadi sasaran, etnis menjadi korban dan rakyat harus berperang dan sengsara,  hanya karena sudah dikendalikan oleh mereka yang menginginkan keuntungan. Padahal masih banya yang harus kita lakukan untuk mengelola negri ini agar kesejahteraan dan keadilan bisa tercipta, ketimbang harus mengurus hal-hal yang tidak menguntungkan negri ini. Tetapi apalah daya, karena sudah menjadi kebutuhan negara mau tak mau rakyat harus menjadi pelakon untuk berperan dalam dinamika yang terjadi dinegri ini. Yang menjadi pertayaan saat ini,apa yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda untuk menjaga negri ini tetap damai dan makna yang terkandung dalam pancasila bisa tercipta? Kita tahu, indonesia adalah salah satu konsumen terbesar pengguna tekhnologi khususnya Handpon atau Gadget. Dengan jaman modern dan gelobalisasi tentu pengaruh kemajuan tekhnologi dari luar negri juga sangat luas sehingga juga masuk ke Indonesia. Setiap tekhnologi pasti ada dampaknya, baik itu yang positif ataupun yang negatif. Nah, saat ini memang dampak positif untuk negri ini sangat banya tetapi tidak menutup kemungkinan negatifnya juga sangat luas. Belum lagi rakyat indonesia yang suka melakukan hal-hal yang berbau memancing emosi orang lain, lebih suka menyebarkan berita-berita bohong, menghasut, berprasagka tidakbaik, tentu ini sangat berdampak pada perkembangan dan kemajuan negara. Dimana rakyat yang seharusnya menjalankan aktifitasnya dengan mengelola alam ini malah harus mengurus sesuatu yang menghambat kemajuan dan perkembangan negara, itulah imbas dari proses pemilu.

Kita sebagai generasi muda bangsa ini harus bisa menjadi pelopor dan aktor untuk menjaga kedamaian tetap seimbang dan tercipta sesuai dengan makna pancasila. Sejatinya generasi muda harus memahami, mengamalkan dan memperaktekkan makna yang terkandung dalam pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi ini juga tidak terlepas dari peran aktif dari lembaga pendidikan negri ataupun swasta yang harus memberikan imunisasi kepancasilaan kepada anak didiknya. Agar mereka bisa menjadi generasi penerus bangsa yang bemartabat. Seperti yang pernah saya baca dalam buku Bung Karno yang berjudul Demokrasi Terpimpin,Milik Rkyat Indonesia (jakarta, 2007)  bahwa setiap saat manusia dihadapkan pada pilihan dan harus memilih. Tidak memilihpun sudah berarti memilih. Keputusan dalam menentukan pilihan akan menentukan takdirnya kemudian kwalitas pilihan,  tergantung kwalitas pikirannya. Artinya rakyat memang mempunyai hak dalam bernegara dan berkehidupan untuk menentukan pilihannya dalam melakukan sesuatu atau mengekspresikan diri. Tetapi hak kebebasan tersebut harus sesuai dengan regulasi yang berada di indonesia. Sehingga alhasil generasi bangsa ini mempunyai pemikiran yang kedepan untuk memajukan negara dimasa depan, bukan malah sebaliknya.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa sejarah telah memberikan kita kehidupan yang layak saat ini. Dengan aneka ragam perbedaan budaya, suku, agama, ras dan lain-lain tentu ini bukan sebagai penghambat untuk menjadikan negara ini sebagai negara yang bermartabat dimata dunia. Para pemuda yang telah lahir di negri pancasila ini harus menjaga, memahami dan menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam berkehidupan bernegara, bukan menyuruh atau mengajak untuk mengesampingkan keyakinan dalam beragama tetapi kita berhak mengetahui bahwa pancasila adalah cetusan dari semua tokoh agama, elemen dan kalangan masyarakat yang telah menjadikan pancasila sebagai lambang negri tercinta. Jadi tidak perlu lagi kita menjadikan pancasila sebuah perdebatan untuk dihilangkan dari tanah air tercinta ini. Menjadi pemuda yang gaul atau eksis bukan berarti harus menghilangkan pancasila dalam bernegara. Melainkan sebaliknya bahwa generasi pemuda yang gaul dan eksis adalah pemuda atau rakyat yang bisa menjaga perbedaan itu tetap bersatu dalam bingkai Bineka Tunggal Ika.

 


Tinggalkan Balasan