fbpx
Home / Opini / Gempa, Penetapan Tersangka dan Pudarnya Nalar Rasionalitas

Gempa, Penetapan Tersangka dan Pudarnya Nalar Rasionalitas

 

Oleh: BUHORI

Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Pontianak

Indonesia kembali berduka. Pasca luluh lantahnya kota Lombok akibat hantaman gempa dahsyat yang memakan ratusan korban, kini giliran pulau Sulawesi yang mengalaminya. Kota Palu dan Donggala ditimpa musibah gempa bumi yang disusul dengan Tsunami. Kota Palu yang cantik nan eksotik luluh lantah diterjang hantaman Tsunami. Lebih dari seribu orang dipastikan meningggal dalam musibah ini, dan angka ini diprediksi akan terus bertambah seiring dengan proses evakuasi yang terus dilakukan oleh pemerintah dan tenaga-tenaga sosial dari berbagai kalangan.

Ditengah kesedihan ini, rakyat Indonesia disuguhi dengan sajian yang kurang elegan. Sajian yang minim rasa empati terhadap kesedihan mendalam yang tengah dirasakan saudara-saudara sebangsa di Palu dan Donggala. Sempat viral di berbagai media, statement yang mencoba mengait-ngaitkan bencana besar ini dengan penetapan status tersangka dari kepolisian pada seseorang yang dinilai melakukan tindak pidana. “Adakah itu (musibah gempa dan Tsunami)  jawaban Alloh atas kedholiman yang menimpa Gus Nur atas penetapan dirinya sebagai TERSANGKA ??”ungkapan-ungkapan senada juga banyak berseliweran di media sosial yang mencoba mengaitkan bencana besar ini dengan persoalan-persoalan yang bernuansa politis. Sebuah sikap yang menggambarkan memudarnya nalar rasionalitas dalam menyikapi sebuah bencana.

Berfikir Logis Dalam Menyikapi Bencana

Saat ini manusia hidup di era digital. Semua informasi mudah tersaji dan berada dalam genggamannya. Media sosial memiliki peran besar dalam kehidupan manusia, sehingga kondisi tersebut kerap membuat manusia mudah kehilangan akal sehatnya, terbuai arus informasi yang hilir mudik di hadapannya. Oleh sebab itu, hal penting yang harus dipertahankan adalah tetap bisa menjaga kewarasan di tengah gempuran informasi yang banyak mengandung berita menyesatkan.

Pada masa nabi Muhammad saw. pernah terjadi peristiwa gerhana matahari. Peristiwa itu bersamaan dengan kejadian meninggalnya putra satu-satunya yang dimiliki Rasulullah SAW,  saat itu, Ibrahim bin Muhammad saw. Ibrahim merupakan satu-satunya anak lelaki yang dimiliki Rasulullah hasil pernikahan Beliau dengan perempuan Mesir bernama Mariatul Kibtiyah.

Peristiwa ini menimbulkan duka mendalam, tidak hanya dirasakan oleh nabi Muhammad saw dan keluarga, namun duka itu juga dirasakan oleh masyarakat muslim Madinah. Ditengah kedukaan yang dirasakan, terdapat sebagian masyarakat Madinah yang mencoba mengkaitkan peristiwa gerhana ini dengan peristiwa kematina putra nabi Muhammad saw. Hingga akhirnya nabi Muhammad saw. bersada:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَإِنَّهُمَا لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا وَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا (رواه البخاري ومسلم)

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah swt. gerhana terjadi pada keduanya bukan karna disebabkan kematian seseorang, dan tidak pula karna kehidupan seseorang.  Maka ketika kalian melihatnya, hendaklah kalian bertakbir, berdoa kepada Allah swt, mendirikan shalat dan bersedekahlah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Peristiwa yang tergambar pada hadits di atas jelas menggambarkan larangan rasulullah saw. kepada masyarakat Madinah untuk mengkaitkan peristiwa gerhana matahari dengan hal-hal kematian, kedukaaan atau apapun. Beliau menegaskan bahwa gerhana sebagai tanda kebesaran Allah SWT., tidak ada hubungannya dengan kematian dan kehidupan seseorang. Nabi juga mengajarkan kepada umatnya untuk menyikapi sebuah peristiwa, kejadian ataupun musibah dengan berfikir logis, dan bersikap bijaksana dengan mengembalikan kepada Tuhan sang Pencipta, dengan cara melakukan hal-hal yang positif, yang dicontohkan dengan memperbanyak doa, zikir, shalat, istigfar dan sedekah,”. Hal ini pula yang seharusnya diamalkan oleh umat nabi Muhammad saw. saat ini dalam menyikapi banyaknya musibah yang akhir-akhir ini banyak melanda negeri kita tercinta.

Unsur Rasionalitas Dalam Beragama

Berfikir logis dan bersikap rasional dalam menyikapi persoalan merupakan bagian dari ajaran Islam. Agama juga memerlukan unsur rasionalitas (ad-dinu aqlun), maka bagi siapa saja yang tidak menggunakan potensi akal warasnya, maka hakekatnya dia tidak beragama (la dini liman la `aqla lahu).

Ajaran akan pentingnya sikap kritis, berfikir logis dan sistematis dalam menjalani kehidupan ini juga dapat terinspirasi dari kisah Sayyidina Umar berikut: Suatu waktu di bulan Ramadhan, Sayyidina Umar bin Khattab ra tak tahan untuk mencium istrinya. Sesaat beliau ingat bahwa saat itu adalah bulan Ramadhan, maka tersentaklah beliau dan bergegas menemui Nabi Muhammad saw, seraya melaporkan diri kepada nabi, “Hari ini aku melakukan kesalahan besar, aku telah mencium istriku padahal sedang berpuasa”. Rasulullah saw kalem saja menanggapi pengaduan Sayyidina Umar ra, beliau malah balik bertanya, “Bagaimana pendapatmu jika kamu berpuasa kemudian engkau berkumur-kumur ?” Umar menjawab, Seperti itu tidak mengapa”. Kemudian Rasulullah saw bersabda, “ lalu apa masalahnya ? (HR.Ahmad).

Riwayat ini menjadi inspirasi yang kuat akan pentingnya berfikir secara logis dan sistematis. Rasulullah saw menjawab pertanyaan Sayyidina Umar sekaligus mengajarkan logika. Mencium dianalogikan dengan berkumur-kumur, yang sekaligus menegaskan bahwa ia tidak sampai meminum air. Sama halnya mencium tidak sama dengan menggauli isteri. Nabi bisa saja mengatakan dengan tegas “tidak apa-apa”. Akan tetapi beliau memilih memberi jawaban sembari menuntun sahabatnya, Sayyidina Umar ra, untuk berfikir logis dan sistematis, hingga akhirnya Umar dapat menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapi. Saya kira, ini pula yang diinginkan oleh baginda nabi kepada seluruh umatnya, agar mampu berfikir logis, memperhatikan nalar rasionalitas dalam menyikapi sebuah persoalan.  Al-Syatibi dalam al-I`tisham menyitir sebuah perkataan bijak “Ij`al as-Syar`a fi yaminika wa al-aqla fi yasaarika”  (letakkanlah syariat di tangan kananmu dan aqal di tangan kirimu).

Dalam Islam, kewajiban dan syarat sah menjalankan ibadah, mu`amalah adalah harus sampai batas `aqil – baligh. Achmad Dhofir Zuhri, seorang akademisi produktif memaknai `aqil sebagai proses mendayagunakan mekanisme intelektual dengan benar, dengan itu manusia akan sampai pada konteks-konteks kebenaran (baligh). Terakhir, mari kita renungi sabda nabi berikut: izdad `aqlan tazdad min Rabbika qurban (tingkatkan kapasitas akalmu, niscaya menigkat pula intensitas kedekatanmu dengan Tuhan).

Oleh: BUHORI

Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Pontianak

 

Tinggalkan Balasan