fbpx
Home / Opini / Ustadz Abdul Shomad – Behind The Scene

Ustadz Abdul Shomad – Behind The Scene

Oleh: M Hasani Mubarok

Ustadz Abdul Shomad adalah seorang Da’i Islam fenomenal dari sekian banyak penceramah kondang lainnya. Jutaan orang menjadi pendengar dan pengikut setia pengajiannya yang selalu update di youtube. Penikmat ceramah dan pengajiannya juga hadir dari berbagai kalangan, mulai politisi, guru, pegawai swasta, santri bahkan banyak Kiai-kiai dan Habaib juga sangat mengidolakan UAS (Ustadz Abdul Shomad). Tak salah jika kita memberi nama da’i satu ini dengan sebutan Ustadz Fenomenal.

Beberapa hari yang lalu (09-September-2018) adalah kali kedua dia hadir di Kota Pontianak dalam rangka menghadiri Haul Akbar Sultan Syarif Abdurrahman al-Qadri (Pendiri Kota Pontianak). Sambutan atas kehadiran kedua kalinya ini terkesan lebih mewah dari kedatangannya yang pertama. Bagaimana tidak, sebuah mobil mewah dengan KB (nomor kendaraan untuk daerah Kalimantan Barat) bertulis “KB 1 UAS” disediakan oleh Sultan Pontianak (Syarif Melvin al-Qadri), hampir tak kalah dengan tulisan pada plat mobil kepresidenan “RI 1.”  Hiruk pikuk kehadiran UAS pun menjadi perbincangan di mana-mana. Selain pengawalan yang super ketat, sambutan tokoh-tokoh melalui spanduk-spanduk besar juga tak kalah semarak.

UAS memang fenomenal, di antara sekian banyak da’i-da’i yang biasa hadir menghiasi layar televisi dan menjejali channel-channel youtube, nama UAS memang terus melambung di tengah terpaan kontroversi yang mengundang reaksi kerap terjadi. Kalau boleh jujur, penceramah yang tak kalah mumpuni dengan UAS juga menjamur dan bisa diaskes dengan mudah di media. Sebut saja Ustadz Adi Hidayat, seorang Da’i muda yang memiliki kecerdasan luar biasa, mampu menghafal al-Quran dan Hadis berikut nomor, halaman bahkan letak posisi keberadaanya. Namun, demikian pun masih kalah dari sisi popularitas dengan UAS yang namanya terus melambung.

Sejak masuk dalam daftar Cawapres yang akan disanding oleh Prabowo Subianto beberapa bulan lalu, nama UAS sebagai seorang penceramah yang istiqomah dalam jalur dakwah semakin meninggi setelah dia memutuskan untuk tidak menerima tawaran bergengsi dan rebutan banyak politisi itu. Hari ini UAS bukan sekadar penceramah yang keberadaanya sangat dihormati oleh para penggemarnya di Indonesia –atau mungkin dunia, tapi dia juga seorang yang dianggap mampu membawa sebuah arus politik bagi bangsa. Mungkin ini salah satu alasan kenapa kehadiran UAS sangat dielu-elukan oleh banyak masyarakat muslim Kalimantan Barat.

Kenapa UAS bisa sangat fenomenal?

Pertanyaan di atas itulah yang pertama kali mengemuka dalam benak saya ketika menulis catatan ini. Secara pribadi, sejak kemunculannya di media sosial, saya tak pernah menyimpan atensi berlebih kepada UAS. Selain karena saya kurang aktif dalam mengakses informasi via media, penceramah lawas seperti al-Marhum KH Zainuddin MZ –menurut saya- masih terus mempesona sampai tak mudah “berpaling hati” darinya.

Popularitas dan fenomenalnya seorang UAS ini bisa kita bincang dengan mengusung dua pendekatan. Yang pertama adalah pendekatan sekuler, dan yang kedua adalah pendekatan agama. Keduanya perlu disuguhkan untuk memperjelas fenomenalitas seorang UAS yang membuat Prabowo “kepincut” untuk meminangnya sebagai seorang cawapres ketimbang ustadz-ustadz lainnya.

Pendekatan kedua yakni agama, sudah jelas sepertinya kesimpulan yang bisa kita tarik. Selain UAS memiliki basis keagamaan yang kuat sejak kecil (seperti terlihat dalam biografinya), dia juga peraih gelar sarjana di beberapa universitas Islam terbaik di Mesir dan Maroko. Selain itu, sosok wajahnya yang teduh dan ikhlas juga menjadi cerminan dari ketulusan hati dalam melaksanakan tugas dakwah yang diemban. Hal ini tentu di samping kepiawaiannya dalam mengolah materi ceramah agar bisa dicerna dengan mudah dan cepat oleh masyarakat sekarang (yang memang suka sesuatu secara  “instan”). Sampai pada titik ini, maka UAS adalah manusia yang agamis dan mencintai agamanya seraya terus berkomitmen dalam mengembangkan sayap dakwah untuk mencerahkan manusia.

Kesimpulan berbeda bisa kita temukan, manakala kita melihat fenomenalitas UAS muncul tak terlepas dari kondisi sosial, agama dan politik yang mengitarinya. Pendekatan seperti ini adalah sebuah langkah untuk melihat sejauh mana kondisi –kondisi yang menyejarah mampu menentukan, membentuk bahkan melahirkan tokoh-tokoh baru yang kelak akan menjadi bagian daripada ideolog-ideolog dari satu kecenderungan pemikiran. Dari sini kita perlu menyingkirkan balutan agama untuk menyingkap sebuah peristiwa agar benderang di hadapan kita.

UAS dan Kondisi Sosial di Baliknya

UAS hadir di tengah beberapa perubahan sosial yang drastis. Yang paling kentara dari sekian pergeseran itu adalah terbentuknya ruang-ruang sosial baru, di mana masyarakat terkoneksi satu sama lain, saling berbagi dalam media sosial. Hal ini ditentukan oleh kecanggihan teknologi informasi yang semakin kencang. Walhasil, segala hal yang di-share ke media sosial segera menjadi hak publik dan begitu cepat proses persebarannya. Di zaman seperti ini, video-video konyol sebegitu cepat viral sesuai dengan kecakapan seseorang dalam mengolah dan menyebarkan informasi.

Kecanggihan media informasi hari ini memang telah menembus sekat-sekat kehidupan sosial manusia. Bahkan teritorial hanyalah istilah untuk menunjukkan jarak, bukan hubungan. Orang-orang yang berada di ujung timur negeri ini hanya perlu untuk terus terhubung dengan internet untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di di Ibu Kota dan sekitarnya. Jaringan-jaringan media yang membentuk untaian tali-temali yang mampu melintas cakrawala yang ada di atasnya. Walhasil, kondisi sosial yang bergantung erat dengan media hari ini laksana AC (Air Conditioner) yang dilekatkan pada pojok ruangan, ketika tombol On ditekan, seketika hawa dingin memeuhi ruang itu.

Begitulah peran vital media yang mampu menyebar ceramah UAS dengan cepat, masif bahkan sangat terstruktur. Penggalan ceramah yang disesuaikan dengan tema-tema tertentu, jawaban atas beberapa persoalan spesifik bahkan ceramah UAS dengan full time semua bisa diakses dengan baik oleh para pengguna media.Di tengah kecanggihan informasi seperti ini dan seiring “urbanisasi” masyarakat dari dunia nyata yang semakin kecil ke dunia maya yang semakin besar, UAS hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

UAS dan Kondisi Agama di Baliknya

Kecanggihan media informasi dan semua hal yang mengisi tiap sudutnya tentu masih belum menjamin seseorang akan menjadi sangat fenomenal. Ribuan pengguna media yang pernah lahir karena viral dan fenomenal, sebelum tenggelam setelah beberapa saat. Mulai dari atraksi menyanyikan lagu serta kreatifitas lain yang disuguhkan kemudian ditawarkan ke hadapan publik, masyarakat memberi tanggapan yang berbeda. Dari sana fonomenalitas seseorang terbangun. Jika dia tak mampu mempertahankan ritmenya, maka dia akan digusur oleh yang lain.

Dari golongan penyanyi, sebut saja duet romantis di aplikasi smule yang mempertemukan Kai Bahar dan Bebi Shima. Dua orang berkebangsaan Malaysia ini mampu menghipnotis media karena memiliki keindahan suara ditopang oleh faktor fisik (tampan-cantik). Beberapa bulan, video yang bersebaran di youtube atau di media sosial kerap meng-upload video nyanyian mereka berdua. Selain itu, selebgram seperti Madkucil, Alfi Saga dan lain-lain juga tak kalah diminati oleh karena kepiawaian mereka dalam mengemas video berdurasi pendek, namun mengangkat problem percintaan ala remaja secara cerdik dan kocak. Tak terhitung, berapa banyak orang berlalu lalang di antara jaring-jaring media sampai detik ini. Semua turun naik, kadang hilang dan kadang muncul kembali kepermukaan.

Tak begitu dengan fenomenalitas UAS, dia bukan sekelas selebgram apalagi penyanyi smule. Sejak sekitar tahun 2017, sampai detik ini dia tetap menjadi penceramah yang konsisten dan kesohor. Kenapa bisa demikian konsisten? Hal ini karena UAS hadir di tengah kondisi sosial-keagamaan yang juga menentukan. Ada beberapa kondisi sosial-agama yang menentukan di baliknya:

Pertama, kembalinya peran vital agama dalam kehidupan sosial. Ribuan atau mungkin jutaan website dan akun-akun keislaman hari ini bertebaran. Hal ini menunjukkan bahwa agama tak pernah kehilangan eksistensi, apalagi di Indonesia. Banyaknya media yang bergerak dalam bidang dakwah seperti ini menunjukkan bahwa atensi umat Islam masih begitu besar terhadap agama sekalipun mereka teramat sibuk dalam waktu-waktunya. Ekspansi ideologis dari Barat dan Timur telah mempertemukan dua narasi di mana agama berbenturan dengan yang sekuler. Umat Indonesia memposisikan diri sebagai penonton dan tak melepaskan agama sebagai identitas pribadinya, alih-ali demikian, justru agama semakin menguat dengan lahirnya term fundamentalisme agama di Indonesia.

Hal ini jelas membuat segala “komoditas” agama yang dikemas di ruang sosial menjadi laris. Strategi marketing pun dikembangkan agar manusia mempunyai tempat pulang di tengah keresahan dan problem sosial yang membelit hari-harinya. Dalam kerangka yang seperti ini, UAS adalah produk dari kerinduan masyarakat akan siraman keagamaan sekaligus dikemas dengan sangat baik dalam pasar sosial.

Kedua, manusia hari ini cenderung menyukai segala sesuatu yang instan dan tak suka bertele-tele dalam hal apapun, apalagi dalam masalah agama. Ceramah-ceramah singkat dan straight to the poin menjadi solusi agar mereka bisa mengakses pengetahun seputar agama dengan cepat. Kita hanya perlu menulis beberapa kata kunci untuk mengetahui pandangan UAS atau penceramah lainnya tentang beberapa hal seputar agama. Jawaban akan diperoleh hanya dengan melihat ulasannya dalam durasi waktu lima menit.

Maka tak heran, serial ceramah-ceramah yang agak panjang, meransang pikiran, menuntut kajian-kajian mendalam terkait fenomena dan ajaran Islam sepertinya kurang laris. Satu contoh saja, kajian-kajian yang diberikan oleh Ustadz Adi Hidayat –misalnya, terkesan tidak selaris UAS. Minimal ini terbukti ketika UAH memberikan kajian di Pontianak, alih-alih Sultan yang menyambut, spanduk-spanduk-pun hampir tak kita jumpai. Ini dikarenakan, dalam memberikan ceramah dan menjawab pertanyaan, UAH sedikit lebih detail dan komprehensif dari pada UAS.

Sampai di sini kita bisa berkesimpulan, bahwa fenomenalitas UAS seiring dengan kecenderungan beragama masyarakat Indonesia hari ini. Terlepas dari dampak lain dari kecenderungan ini, kita bisa mengapresiasi bahwa UAS memiliki strategi dakwah yang baik sehingga mampu unggul di atas lainnya.

UAS dan Kondisi Politik di Baliknya

Sepertinya isu politik sulit untuk tidak dijadikan sebagai satu dari sekian alasan atas karir UAS dalam menempuh jalur dakwah. Pasalnya, tidak ada satu tokoh pun yang menjadi public figure hari ini yang tidak memiliki sikap politik –bagaimanapun kecilnya- , politisasi atau malah dipolitisir. Dari suasana politik yang sedang berkembang, kita bisa melihat secara alamiah, bahwa fenomenalitas UAS bukanlah sekadar ditopang oleh kedalaman ilmunya. Tapi dia menjadi sebuah fenomena yang bisa kita tundukkan dalam kacamata sosial.

Sejak menguatnya narasi politik Islam dalam beberapa hajat politik beberapa tahun terakhir ini, kita melihat bahwa UAS juga kerap masuk dalam sebuah perbincangan politik baik dalam materi dakwahnya atau haluan simpatiknya. Yang terakhir adalah keterlibatan UAS dalam ijtima’ ulama ke-1, di mana ijtima’ ini bukanlah sebuah perkumpulan keagamaan seperti bahtsul masa’il atau sebagainya. Ini adalah rapat koordinasi politik untuk mengarahkan suara umat Islam menjelang pilpres 2019 nanti. Terbukti kemudian, bahwa UAS direkomendasikan sebagai Cawapres representasi ulama yang akan digandeng oleh Prabowo Subianto sebelum sirkulasi politik menakdirkan lain.

Sebelum ijtima’ itu terjadi, media sosial sudah melakukan seleksi terhadap berbagai macam ulama. Sebagai standarnya, haluan pilpres atau sikap terhadap kubu “oposisi (Prabowo) atau status quo (Jokowi)” yang bertugas menyeleksi mana ulama yang akan diajak ke ijtima’ yang diselenggarakan di Jakarta beberapa bulan lalu. Kalau kita lihat, lumbung ulama terkuat secara kultural tentu dimiliki oleh NU dan Muhammadiyah, namun tiada satu pun dari ulama-ulama kedua organisasi bersejarah ini yang diundang untuk hadir pada acara yang juga diberi sambutan oleh Prabowo itu. Jelas sudah, bahwa ijtima’ ulama pada waktu itu adalah ulama-nya pihak oposisi, sedangkan NU dan Muhammadiyah adalah dua pilar penting bagi status quo.

Artinya, sampai hari ini kedua belah pihak yang akan berseteru dalam hajatan politik terbesar 2019 nanti, sama-sama memiliki kekuatan Islam –dalam hal ini ulama- yang dianggap memberikan sumbangsih signifikan terhadap dua kompetitor. Dari atas kita sudah bisa melihat, di mana posisi UAS sebagai seorang ulama. Dia berada dalam kubu oposisi. Dari sudut pandang ini, kita sulit untuk melihat netralitas apalagi objektifitas UAS dalam merespon isu-isu aktuil seputar agama, sosial apalagi politik yang sedang berkembang hari ini.

………….

Beberapa poin di atas menunjukkan, bahwa fenomenalitas UAS terbangun dan bersambut erat dengan kondisi-kondisi yang memungkinkan dia untuk memperoleh efektifitas dakwah, baik di dunia maya atau dunia nyata. Selain kita harus mengakui bahwa UAS memiliki keilmuan yang terhadap Islam yang mumpuni, namun kita harus sadar bahwa “dia tetaplah anak dari zamannya, yang besar dan tumbuh bersama segenap perubahan mendasar dalam kehidupan sosial, politik dan agama di Indonesia”. (MHM)

Tinggalkan Balasan