fbpx
Home / Mutiara Sufi / Ilmu Para Abdal (12): Syaikh Abdul Qodir al-Jilani tentang Ilmu Mereka

Ilmu Para Abdal (12): Syaikh Abdul Qodir al-Jilani tentang Ilmu Mereka

 

Oleh: Nur Kholik Ridwan

Anggota PP RMINU

 

Ada tiga hal yang diwasiatkan Syaikh Abdul Qodir al-Jilani tentang para Abdal kepada murid-muridnya, yaitu: ilham, maqom-Ahwâl para Abdal, dan Af`al Alloh kepadanya. Hal ini dikemukakan dalam kitab Futûhul Ghoib (Musthofal Babil Halabi, 1973/1392), pada bagian al-Maqôlah ats-Tsâminah fît Taqorrub ilallôh”; pada “al-Maqôlah at-Tâsi`ah fîl Kasyfi wal Musyâhadah” dan “al-Maqôlah al-`Âsyiroh fîn Nafs wa Ahwâlihâ”.

Ilmu Maqom dan Ahwal Para Abdal

Syaikh Abdul Qodir al-Jailani menyebutkan bahwa maqômât (kedudukan dalam pendakian spiritual, seperti niat, taubat, sabar, faqir, tawakkal, ridho, dan lain-lain) itu milik para Abdal sedangkan ahwâl (karunia keadaan-keadaan ruhani dan kondisi spiritual, seperti keadaan takut, berharap, dan lain-lain, yang sering berganti-ganti) milik Auliyâ’ secara umum. Dengan kata lain, Abdal itu bentuk maqom tertentu di kalangan para Auliya’ yang lebih dalam dan tinggi, karena dia ada dalam kemantaban maqômât, dan tidak berubah meski ahwâl berubah-ubah.

Syaikh Abdul Qodir al-Jilani menyatakan begini:

“Sekiranya perintah batin itu tidak ada, dan yang ada (yang engkau rasakan) adalah perbuatan Alloh, maka ini memerlukan at-taslîm (penyerahan diri kepada Alloh). Bila engkau telah sampai pada hakekat kebenaran, yang disebut mahwu (tenggelam dalam tarikan Alloh) atau fanâ’ (penghancuran sifat-sifat buruk masuk ke dalam sifat-sifat baik dan masuk dalam perbuatan al-Haqq), berarti engkau berada pada maqam para Abdal” (hlm. 28)

Dalam bagian lain, Syaikh Abdul Qodir al-Jilani menjelaskan bahwa ahwâl itu milik Auliya’ dan maqômât milik para Auliyâ’ yang tergolong Abdal. Akan tetapi untuk mencapai maqômât, tentu saja harus bisa melewati ahwâl. Syaikh Abdul Qodir al-Jilani mengatakan begini:

“Kamu tidak punya hak memilih dalam perkara ini (perubahan ahwâl untuk memperoleh ridho-Nya). Jika kamu meminta untuk memilih, maka hal itu pertanda bahwa kamu mengingkari/kufur atas nikmat hal/keadaan (yang diberikan Alloh), dan penentangan demikian itu merendahkan derajat kamu di dunia dan akhirat. Karenanya teruslah berbuat sebagaimana yang kami tunjukkan, sehingga kamu dinaikkan ke dalam keadaan yang lebih tinggi dalam suatu maqom dan ditetapkan dalam maqom itu. Maka ketika itu kamu akan mengetahui bahwa semua itu adalah karunia Alloh yang telah menjelaskan, dan menunjukkan tanda-tanda keagungan-Nya, maka pegangilah, dan jangan berusaha menghilangkannya. Maka dari situ, dapatlah dikatakan bahwa al-Ahwâl adalah milik Auliyâ’, sedangkan karunia maqômât adalah kepunyaan para Abdal” (hlm. 21-22).

Syaikh Abdul Qodir al-Jilani mengatakan demikian, berhubungan dengan persoalan, pengalaman batin yang diberikan Alloh kepada orang yang dikehendaki-Nya (baik melalui jalan majdzub ataupun salik), dan orang itu menempati dalam kedudukan maqom tertentu, misalnya dalam maqom sabar (sebagaimana yang dilakukan para Abdal, dengan kekuatan sabarnya). Maka, dalam hal itu janganlah meminta kedudukan yang lebih tinggi atau meminta yang lebih rendah, meski ujian datang silih berganti seperti gelombang; dan janganlah ahwâl mengubah kedudukan maqômât, sehingga ingin diturunkan atau dinaikkan.

Syaikh mengibaratkan begini, apabila seseorang ada di depan istana (biasanya penglihatan batin diwujudkan dalam bentuk ini), janganlah masuk sebelum disuruh masuk, meskipun pintunya di situ telah dibuka. Bisa jadi, itu adalah dalih dan tipuan dari seorang Raja Pemilik istana. Hendaklah kamu bersabar (ujian untuk mengukuhkan maqom sabar), sampai kamu dipersilahkan masuk oleh Sang Raja. Bila ternyata orang itu masih dihukum juga oleh Alloh dengan berbagai hukuman/ujian, itu disebabkan bisa jadi karena masih ada ketamakan, tidak sabar, dan tidak memiliki adab. Apabila dipersilahkan masuk, itupun harus dibarengi dengan penuh adab, menaati perintah, dan tidak meminta untuk dinaikkan derajatnya ke dalam maqom yang di atasnya.

Karena yang disebut kebaikan dalam keadaan itu, menurut Syaikh Abdul Qodir, adalah justru terletak pada “kekuatan menjaga keadaan dan kedudukan yang sudah ada,” merasa cukup, dan menjauhkan dari keinginan yang lain, misalnya untuk dinaikkan derajatnya, atau diturunkan. Karena bisa jadi, memang maqom itulah yang dikhususkan untuk orang itu, misalnya ada di maqom sabar. Dan, bila itu dikhusukan untuk orang itu, maka orang yang berakal, tidak berusaha mencari-cari ujian dari Alloh agar derajatnya dinaikkan.

Menurut Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, baru setelah dinaikkan oleh Alloh dalam maqom tertentu, itupun harus dengan cara yang sama, tidak meminta dinaikkan atau diturunkan, penuh dengan adab dan mengerti terhadap perintah-perintah dan kedudukan yang diembannya. Para Abdal, menurut Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, adalah mereka yang ridho dengan kedudukan yang diberikan, menjaganya, berinteraksi dengan adab dalam kedudukan itu, tanpa meminta untuk dinaikkan atau diturunkan.

Inilah yang sebenarnya berhubungan dengan apa yang disebut sebagai sikap at-taslîm (atau ufawwid amrî), dan mengakui dengan sebenar-benarnya, Mâ Syâ’allôh, menerima apa yang dikehendaki Alloh, dalam kedudukan yang diterima dan diembannya, menerima takdir-takdir yang diberikan kepadanya. Orang yang tidak ridho dengan kedudukan yang diberikan, dia akan diuji oleh Alloh dengan berbagai ujian, yang bisa jadi tidak dikehendaki oleh orang itu, yang bisa bnerakibat buruk baginya, karena itu sama dengan menentang karunia ahwâl dan maqom yang diberikan kepadanya. Maka, ilmu para Abdal, adalah ilmu yang kokoh dengan maqômât, tanpa terburu-buru meminta dinaikkan, atau mundur minta diurungkan karena hebatnya cobaan yang dihadapi. Akan tetapi tentu saja, kemantaban dalam maqom tertentu, misalnya sabar, telah berhasil melewati ahwâl yang berubah-ubah, dan itu tidak mempengaruhi. Dalam al-Qura’an ini disebut “innallôha ma`ash shôbirîn”, sebelum akhirnya didudukkan dalam “innalloha ma`ana”.

Ilmu Jamal dan Jalal Alloh

Jalal Alloh
Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, juga menyebutkan para Abdal dan Auliya’ kaitannya dengan pengalaman batin, ditampakkan dalam penglihatan dan kesadaran terhadap perbutaan-perbuatan Alloh, yang mewujud dalam bentuk dua hal: Jamal dan Jalal Alloh. Seorang Abdal dan Auliyâ’ yang telah ditampakkan oleh Alloh akan Jamal dan Jalal-Nya, mendorongnya teguh dan kokoh dalam tauhidnya, penghambaan dan pelayananannya dalam hidupnya, semata-semata diperuntukkan untuk mencari ridho-Nya.

Syaikh Abdul Qodir al-Jilani mengatakan begini:

“Af`al Alloh itu disingkapkan kepada para Auliyâ’ dan Abdal di dalam pandangan dan pengalaman ruhaninya. Perbuatan Alloh ini di luar jangkauan akal manusia dan keluar dari adat kebiasaan. Penyingkapan itu ada dua jenis: dinamakan Jalal (keagungan dan kebesaran kekuasaan-Nya) dan yang kedua dinamakan Jamal (keindahan-Nya dengan berbagai karunia dan kelembutan-Nya). Penampakan Jalal ini menimbulkan kehebatan (mencekam) dan mempengaruhi sedemikian rupa, sehingga tanda-tandanya tampak dalam badan fisik seseorang….” (hlm. 22).

Sebagai contoh, Syaikh Abdul Qodir al-Jilani mengungkapkan bahwa Kanjeng Nabi Muhamamd saja, yang mengalami hal seperti itu, dengan kapasitas spiritual yang paling tinggi, ketika sedang sholat, pernah mendengar bunyi seperti air mendidih dalam hatinya, ketika hatinya menghadap kepada Alloh: pengalaman batin itu berdampak dalam aspek jawârih-nya, anggota badannya. Hal ini terjadi apabila Alloh ingin menunjukkan perbuatan Jalal-Nya kepada seseorang; dan hal ini pernah terjadi kepada Nabi Ibrohim al-Kholil dan Sayyiduna Umar bin Khothob, sehingga membuahkan kesadaran dalam dirinya secara kuat bahwa Alloh itu Maha Kuasa, tempat kembali segala sesuatu, tak ada selain-Nya yang berkuasa.

Bentuk lain dari Af`al Alloh yang mencerminkan Jalal-Nya, yang dialami seseorang misalnya, untuk mempermudah sebagai ibroh dan bisa diambil faedah: orang biasa diberi sakit, sudah dicarikan obat ke mana saja tidak sembuh, kepada dokter, kepada tabib alternatif, dan kepada guru untuk minta didoakan. Sakitnya seakan mencekik dan menjadikan ia merasa seperti seakan sudah akan meninggal. Karena jalan wasilah dari orang lain sudah ditutup oleh Alloh, akhirnya ia kembali meninjau dirinya sendiri, dan memohon kepada Alloh dalam keadaan sakitnya itu, agar disembuhkan, dengan kalimat-kalimat dzikir dan doa, dia bisa bertahan. Ternyata dia bisa bertahan, puluhan tahun bahkan setelah itu. Kejadian ini adalah Af`al Alloh yang ditampakkan kepada orang biasa, dan bisa difahami di antaranya dengan cara tafakkur,eninjau dirinya dan merasakan Jalal Alloh.

Bagi seorang yang dikehendaki dekat dengan Alloh, Af`al Alloh yang mencerminkan Jalal-Nya Alloh, menjadikan apa yang dibuat Alloh dalam dirinya itu, diperlihatkan (baik dengan pendengaran batin atau dengan penglihatan batin) menjadikan dia takut, tidak berdaya apa-apa, dan tidak memiliki kausa apa-apa untuk berbuat. Contoh hal seperti ini, misalnya seseorang yang dikaruniai Alloh untuk ditampakkan/dibukakan pendengaran batinnya, di mana semua hal bisa didengar-Nya, mulai dari pohon-pohon, burung-burung, sampai dzikirnya makhluk semesta, sehingga ia ditarik oleh kadaan yang tidak sanggup lagi bertahan melalui keagungan kuasa-Nya, tidak bisa tidur, dan suara-suara itu kencang seperti orang berbicara terus dengan orang lain. Maka tidak ada jalan lagi kecuali menyerahkan diri kepada Alloh, mencari cara untuk bisa dekat dengan Alloh; dan menutup jalan bagaimana suara-suara seperti itu agar bisa mengecil, dengan at-taslim dan terus berdoa.

Af`al Alloh lewat aspek Jalal-Nya, adalah cara Alloh untuk membuktikan kepada orang yang dikehendaki-Nya itu untuk mengakui Alloh itu berkuasa; menguasai segala sesuatu dan meliputi segala sesuatu; bahkan terhadap nyawa, keadaan, ketakutannya, dan jalan keluar dari kesulitan yang dialami seorang mahkluk-Nya, lewat doa, dzikir dan kepasrahan. Jalal-Nya Alloh dalam hal itu dimaksudkan untuk menghancurkan kesombongan dalam dirinya, yang bisa jadi selama ini tidak mengakui keberadaan Alloh, atau peran Alloh dalam perbuatan makhluk; atau untuk peneguhan hujjah.

Dari Af`al Alloh yang ditampakkan itu, seseorang yang dikehendaki untuk menyaksikan itu, menyadari “Keberadaan Alloh” bukanlah omong kosong, bukan imajinasi, angan-angan, apalagi nihil. Dia ada senyata-Nya, dan seorang yang mengalami itu merasakan-Nya. Bentuk-bentuk dari orang-orang yang mengalami (dengan berbagai bentuk) dan menemukan kesadaran aspek Jalal Alloh ini banyak sekali, dalam cerita-cerita orang sholih.

Jamal Alloh

Dalam Kitab Futuhul Ghoib (hlm. 22-23), disebutkan bahwa tanda-tanda orang yang merasakan aspek Jamal-Nya Alloh, akan berdimensi dan berdampak pada ruhani dan batin seseorang. Seseorang yang mengalami seperti itu akan merasa gembira, tenang, sentosa, selamat; akan mengucapkan ungkapan-ungkapan indah kasih mesra kepada Alloh, mengungkapkan syukur akan karunia-karunia yang diberikan-Nya; menambah kedekatan kepada-Nya; dan menyadari akan keluasan rahmat-Nya.

Orang seperti itu, pada akhirnya akan teguh, dengan tauhidnya, meskipun apa yang dilakukan itu di mata umum hanya kecil, dia tidak merasa hina atau tidak merasa “tidak berfaedah”; tidak berputus asa dan terus menerus melakukan sesuatu yang bermanfaat, kendati mereka menjumpai hambatan kendala dan rintangan dalam menjalankan ibadah dan menjalani hidup di dunia. Aspek Jamal Alloh membentuk seseorang yang mengalami penyingkapan dari Aspek Jamal ini, meninjau diri dan menempat diri untuk lembut, kasih, dan welas asih.

Dalam diri Kanjeng Nabi, Syaikh Abdul Qodir al-Jilani menunjukkan 2 contoh bagaimana aspek Jamal Alloh mempengaruhinya, terlihat dalam riwayat bahwa Kanjeng Nabi Muhammad sering berkata kepada Sahabat Bilal bin Robah (sang mu`adzin): “Wahai Bilal, gembirakanlah hati kami.” Maksud Kanjeng Nabi, hendaklah ia serukan azan agar beliau bisa shalat, guna merasakan perwujudan-perwujudan rahmat Ilahi. Nabi juga bersabda: “Dan mataku sejuk, bila aku shalat.”

Dalam bentuk yang lain, Jamal Alloh ini juga mempengaruhi Kanjeng Nabi dalam mengabarkan dirinya, bahwa dia itu nabiyurrahmah, diutus bukan untuk melaknat atau mencaci maki, tetapi untuk menebarkan kasih sayang, memperbaiki akhlak, berdakwah dengan bilhikmah wal mauizhoh hasanah. Semua ini bersumber dari kesadaran batin yang telah ditampakkan aspek Jamal Alloh, berupa nikmat-nikmat, pertolongan, perlindungan, pemeliharaan, dan lain-lain.

Sebagai contoh lagi untuk mempermudah memahami asp[ek Jamal Alloh, adalah apa yang dikisahkan dalam kitab Kulashotul Mafakhir karangan al-Yafi`i, pada hikayat ke-173 tentang Af`al Alloh yang ditampakkan kepada Syaikh Abul Hasan, lewat penyingkapan “setiap apa saja yang ditemuinya mengadu dan berbicara kepadanya,” dalam keadaan tertentu dan tidak konstan; berbeda dengan penampakan Jalal Alloh dalam aspek ini dalam bentuk secara konstan, sampai membuat mencekam dan menakutkan yang dikehendaki memperoleh pengalaman seperti itu. Begini ceritanya:

“Syaikh Yahya bin Mahfuzh (Ibnu Dibaqi atau Syaikh Abul Hasan) berkisah: “Ada dua pohon kurma, satu di antaranya sedang berbuah dan satunya lagi sedang meranggas. Aku mendengar suara yang berkata dari pohon yang meranggas itu, “Aku memohon kepadamu, Ya Alloh. Wahai Abul Hasan, apakah engkau sudi memakan buahku?” Seketika tumbuhlah tangkai buah kurma lengkap dengan pelepahnya. Selanjutnya, dari pohon yang satunya lagi terdengar suara: “Aku memohon kepadamu ya Alloh, Tuhan Yang Maha Agung. Apakah tuan sudi berwudhu di bawahku?” Maka tiba-tiba memancarlah mata air. Lantas Syaikh Abul Hasan berwudhu dan meminum airnya. Pohon yang meranggas tadi jadi menghijau dan mengeluarkan buahnya, dan mata air terus mengeluarkan buahnya pula, sedangkan mata air terus mengeluarkan mata air hingga meluber ke mana-mana.”

“Berkatalah Syaikh Abul Hasan: “Ya Tuhanku, Engkaulah Dzat yang menjadikan segala sesuatu berbicara kepadaku.” Pengarang Kitab ini (yaitu al-Yafi`i) bercerita: “Setelah kejadian itu, aku melewati itu dan aku teringat peristiwa tersebut. Kemudian aku makan buah kurma yang tumbuh di pohon tersebut untuk bertabarruk kepada Syaikh Abul Hasan.”

Cerita ini menggambarkan ditampakkannya aspek Jamal Alloh kepada seseorang, karena membuatnya menyadari kelembutan Alloh dan pertolongannya untuk berwudhu. Dalam bentuk yang lain, aspek Jamal Alloh, bisa mewujud dalam kesadaran seseorang yang menyadari perubahan dalam dirinya; dari seorang yang ingkar dan pendosa, dibawa oleh Af`al Alloh kepada situasi yang penuh penyesalan dan kembali kepada jalan Alloh. Bagi orang seperti itu, Alloh sangat disadari Maha Pemurah, Maha Rahman, Yang Ghofur, karena masih menerima taubat dari seorang hamba-Nya yang sebelumnya berlumuran dalam dunia hitam. Bagi orang biasa, hal itu tidak diikuti dengan pembukaan kasyaf dari aspek perubahan itu, tetapi langsung bisa menyentuh ke dalam hati, tanpa ada pendengaran batin atau penglihatan batin yang ditampakkan Alloh. Yang dirasakan adalah muncul ketenangan.

Akan tetapi bagi yang dikehendaki Alloh, kepada orang-orang sholih yang dikehendaki-Nya, bisa saja ditampakkam melalui pendengaran batin, seperti dalam kasus Syaikh Abul Hasan di atas. Dari sini dapat difahami, dimenasi Jamal Alloh tentu saja luas, yang meyangkut karunia kelembuitan, rahmat Alloh, kasih saying Alloh, pertolongan Alloh, pemeliharaan dan penjagaan Alloh, yang diberikan kepada makhluk-Nya. Tujuan dari Af`al Alloh dari aspek Jamal kepada hamba-Nya yang demikian, agar dia menyadari bahwa Alloh itu luas rahmat-Nya dan jangan sampai putus asa. Hal ini mendorongnya untuk berdoa, berdzikir, dan melakukan kegiatan-kegiatan di masyarakat, meskipun kecil, tidak harus merasa hina.

Ilham Para Abdal

Salah satu ilmu yang dimiliki seorang Abdal, menurut Syaikh Abdul Qodir al-Jilani adalah ilham yang sering datang di dalam hatinya. Yang datang ini bisa baik dan buruk, yang kekuatan untuk memilahnya ditentukan oleh kemampuan seseorang yang diberikan Alloh dan kebersihan hatinya, dengan idzin Alloh. Seperti telah disebutkan di bagian-bagian sebelumnya bahwa pengetahuan spiritual para Abdal, di antaranya adalah pendengaran-pendengaran batin. Dalam soal ini, guru tarekat Qodiriyah, yang sering dipanggil “Ghoutsul A’zhom” ini, yaitu Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, mengatakan bahwa para Auliyâ’ dan Abdal juga didatangi ilham-ilham ini. Imam al-Qusyairi menyebutkan di dalam tulisan sebelum ini, bahwa ilham-ilham itu, formulasinya adalah dalam bentuk kalam-kalam.

Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, dalam kitab Futûhul Ghoib, pada makalah ke-10, mengatakan:

“Bagi Alloh itu hal biasa untuk mengulang ilham itu, atau untuk membuka suatu tanda yang dibukakan bagi para Ahli Alloh, yaitu tanda yang hanya bisa dipahami oleh para Auliyâ’ yang bijaksana dan para Abdal. Janganlah terburu-buru mengerjakan perkara-perkara itu, karena kamu tidak mengetahui akibat dan tujuannya. Dan kamu tidak mengetahui ujian dan jalan yang merusak atau menguji kamu.”

Ilham adalah bagian dari pendengaran batin bagi yang sudah dibukakan Alloh melalui dibukannya pintu pendengaran batin dalam diri manusia, menurut yang dikehendaki-Nya,elalui qalbunya. Pendengaran batin ini, manakala dimaksudkan oleh Alloh untuk membuktikan kekuasaan dirinya dari aspek Jalal-Nya, maka dia bisa meluas ke luar jangkauan dari apa yang ada dalam kota tubuhnya sendiri. Maka, dia bisa mendengar berbagai macam suara di alam semesta, yang bisa menimbulkan suasana mencekam dan menakutkan.

Akan tetapi ada juga, yang hanya pendengaran batin itu terbatas pada kota tubuh sendiri, sehingga ia mendengar suara dari jurusan, seperti diceritakan oleh Imam al-Qusyairi, kalam-kalam itu dari: nafs, malaikat, setan dan Alloh. Sementara Ibnu Arobi dalam Kitab at-Tadbirôt al-Ilâhiyat, memasukkan aspek akal yang bisa didengarkan secara batin, untuk mengendalikan keganasan nafs, ketika orang sudah dibukakan karunia seperti itu.

Karakter kalam-kalam bartin itu sudah dijelaskan di bagian tulisan sebelum ini, dalam penjelasan Imam al-Ghozali di dalam Kitab Minhâjul `Abidîn, ilâ Jannati Robbil `Âlamîn. Tentang ini, Syaikh Abdul Qodir al-Jilani menyebutkan:

“Bila engkau mendapati larangan dari Al Qur’an dan Sunnah Rasul tentang yang terlintas pada benakmu dan yang kau terima melalui ilham, maka engkau harus menjauhi gagasan dan ilham semacam itu. Yakinilah bahawa gagasan dan ilham itu berasal dari setan yang terlaknat. Dan jika Kitab Allah dan Sunnah Rasul membolehkan gagasan dan ilham itu, semisal pemenuhan keinginan-keinginan yang dibolehkan hukum, seperti makan, minum, berpakaian, menikah, dan lain-lain, maka jauhilah pula gagasan dan ilham itu, jangan menerimanya. Ketahuilah, hal itu merupakan dorongan nafsu hewaniyah, kerananya, tentanglah dan musuhilah hal itu.”

“Bila engkau mendapati tiadanya larangan atau pembolehan di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul, tentang yang engkau terima, dan engkau tidak mengerti, semisal engkau diminta pergi ke tempat tertentu, atau menemui seseorang sholeh, padahal melalui kurnia ilmu dan pencerahan dari Allah kepadamu, engkau tidak perlu pergi ke tempat itu; atau tidak perlu menemui orang sholeh itu, maka bersabarlah. Jangan dulu melakukan sesuatu, dan bertanyalah kepada dirimu sendiri (dengan akal): “Benarkah ini ilham dari Allah dan mesti aku laksanakan?” Adalah biasa bagi Allah, mengulang-ulang ilham semacam itu, dan memerintahkanmu untuk segera berupaya atau menyibakkan isyarat semacam itu bagi para ahli hikmah, suatu isyarat yang hanya bisa dimengerti oleh para wali yang arif dan para Abdal yang teguh. Kerana itu, engkau tidak harus segera berbuat, sebab engkau tidak tahu akibat dan tujuan akhir urusan, cobaan, bahaya, dan sesuatu rancangan ghaib dari-Nya.”

Maka, dari penjelasan itu, para Abdal, menurut Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, dia sudah bisa membedakan antara mana itu yang harus dijalankan, mana yang hanya mubah, dan mana yang tidak diperlukan. Dengan kata lain, dia sudah bisa membedakan karakter dari ilham yang datang dalam hatinya dari nafs, setan, malaikat, dan Alloh. Hikmahnya, pertama-tama agar orang itu tahu dirinya agar ia mengenal Alloh; dan setelah itu, dari kalam-kalam itu dia menerima amanah untuk menjalankan peran dan kedudukan sesuai maqomnya, tidak berubah karena perubahan ahwâl.

Tinggalkan Balasan