fbpx
Home / Opini / Tepatkah Khutbah Jum’at Berisi Pesan Politik?

Tepatkah Khutbah Jum’at Berisi Pesan Politik?

Oleh: Ach Tijani

Akademisi Muda NU

Akhir-akhir ini hampir semua ruang dan waktu diisi dengan perbincangan politik. Baik berupa ruang faktual seperti warung kopi, kantor, ruang keluarga dan tempat vital umum lainnya seakan tidak dapat menghindar dari perbincangan beraroma politik. Begitu juga ruang virtual, seperti laman media sosial, group WA alumni, keluarga, perkawanan sesama profesi dan group serupa lainnya juga menjadi arena adu argumen kecenderungan politik.

Wajarkah?. Jawabannya, tentu sangat wajar, namun akan sangat menjadi liar begitu ruang doa juga disesaki oleh pesan-pesan politik. Beberapa akhir ini, terlihat di tanah suci Mekah ada gejolak kecenderungan politik yang menggebu hingga kemudian dalam suasana dan ruang yang sangat sakral suara untuk dukungan atau kecenderungan politik yang belum tentu juga suci terlihat begitu antusias. Antusiasme itu sangat sulit dibedakan antara semangat keikhlasan beribadah dengan semangat menyuarakan kecenderungan pilihan politik.

Berikutnya juga terjadi di masjid-masjid sekitar kita dengan khutbah-khutbah beraroma politik. Sebagian ada yang mendukung, sebagian yang lain juga ada yang setuju agar ruang sakral dan ibadah steril dari kepentingan politik partisan.

Pada bagian fakta yang terkahir saya pribadi masih meragukan, apakah menyuarakan kecenderungan politik di atas mimbar khutbah (khususnya pada khutbah jum’at) tepat atau tidak. Keraguan tersebut mendorong saya pribadi untuk melihat bagaimana sebenarnya Rasulullah menyampaikan khutbah jumat. Adakah didalamnya pembicaraan politik? Jika ada, maka saya akan menjadi kelompok barisan pertama yang akan juga ikut menyuarakan kecenderungan politik di atas mimbar khutbah sholat jumat.

Mencari riwayat mengenai khutbah sholat jumat Nabi Muhammad dapat dibilang sangat susah. Padahal Nabi melaksanakan sholat jumat di Madinah itu selama kurun waktu 10 tahun. Setidaknya ada 500 kali khutbah jumat yang dilakukan oleh Nabi, karena setiap jumat beliaulah yang bertindak sebagai khotib. Namun keberadaan sekitar 500 khutbah Nabi itu tidak pernah dikumpulkan secara lengkap oleh para ahli hadits, bahkan dalam Bukhori dan Muslim juga tidak didapati secara lengkap, kecuali dalam beberapa potongannya saja.

Dalam benak logika dangkal saya, kenapa khutbah jumat yang tergolong istimewa disampaikan di depan orang banyak justru sangat sedikit diriwayatkan. Sebaliknya, ujaran dan tindakan Nabi yang bersifat personal, bahkan bisa jadi hanya dilihat dan didengar oleh sebagian kecil dan per-orangan justru dapat dibilang lebih lengkap. Padahal untuk ukuran kewajaran kekinian, seharusnya khutbah jumat Nabi itu dapat dikumpulkan utuh, mengingat kegiatan sholat jumat dapat dibilang bagian dari peristiwa penting.

Anomali tersebut di atas membuat saya semakin semangat untuk mencari jawabannya. Beberapa jawaban mulai saya kumpulkan. Diantaranya, pertama ada yang berpendapat bahwa para sahabat dianggap tidak memperhatikan atau mengingat khutbah Nabi karena mereka disibukkan dengan urusan duniawi mereka. Pendapat ini, tergolong arogan dan bahkan bisa dibilang ngawur, karena sahabat itu adalah generasi terbaik umat Islam, tidak mungkin untuk mengabaikan khutbah Nabi.

Salah satu bukti dari pendapat arogan di atas adalah, bahwa para sahabat sejatinya sangat memperhatikan khutbah Nabi dengan cara menyebut sifat-sifat dan rangkaian khutbah Nabi. Misalnya hadits dari Jabir yang diriwayatkan oleh imam Muslim menyatakan bahwa Nabi menyampaikan dua khutbah dan kemudian duduk diantara keduanya. Di dalamnya membaca al-Quran dan mengingatkan manusia. Beberaoa riwayat yang lain juga menyebutkan bahwa Nabi mebyanpaikan khutbah dengan suara lantang dan berdiri. Sejumlah riwayat tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya para sahabat tidak abai terhadap khutbah Nabi.

Disampaikan oleh Albani bahwa Nabi mengajarkan para sahabat dalam khutbahnya tentang Islam dari perintah dan larangan di dalamnya, termasuk juga persoalan surga dan neraka. Namun demikian, secara umum belum terdapat khutbah jumat utuh dari sekitar 500 khutbah jumat yang disampaikan oleh Nabi.

Pendapat lain menyatakan bahwa tidak adanya kumpulan khutbah jumat Nabi tersebut disebabkan karena Nabi sering mengulang-mengulang satu tema khutbah yang sama untuk beberapa kali beliau menyampaikan khutbah. Namun sejumlah ulama tidak sepakat dengan pendapat ini.

Dari sekian bacaan yang saya temui terdapat satu pendapat yang cukup rasional dan kuat, yaitu pendapat yang menyatakan bahwa inti dari sholat jumat itu adalah dzikir bukan persoalan ilmu (dzikron wa la ilman). Berdasar pendapat inilah,maka para sahabat kemudian tidak menghafal setiap khutbah Nabi.

Khutbah jumat adalah bagian dari dzikir itu sendiri. Sehingga dengan demikian, dalam khutbah jumat tidak perlu muncul tema-tema berat yang memicu perdebatan, pendapat dan ajakan keduniawian akan tetapi murni hanya untuk mengingat Allah (dzikrullah). Hal ini sesuai dengan dalil sholat tentang sholat jumat pada ayat 9 dalam surah aljumu’ah : “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allâh dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.

Menurut imam Malik khutbah jumat malah sangat sederhana cukuplah dengan dua kalimat yaitu “ittaqullah wa ati’uhu wantahu ‘amma naha”. Lalu ulama fiqih yang lain ada yang menyebutkan ada lima hal yang harus disampaikan yaitu, memuji kepada Allah, sholawat, perintah taqwa, membaca ayat al-Quran walau hanya ayat pendek dan yang terkahir adalah doa bagi orang-orang mu’min.

Dari penjelasan singkat di atas, maka khutbah jumat itu serupa bagian dari rangkaian sholat. Intinya adalah dzikrullah, bukan berisi tema-tema yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan, perdebatan, perbedaan pendapat dan kegelisahan. Jika hal-hal normatif keilmuan saja tidak tepat disampaikan pada khutbah jumat, apalagi persoalan politik yang berpotensi hanya muncul dari asumsi dan perasaan suka dan tidak suka, tentu hal tersebut sangat tidak tepat disuarakan di mimbar khutbah jumat. Wallahu a’lam bil showab.

Pontianak, 13 Dzulhijjah 1439 H

Tinggalkan Balasan