fbpx
Home / Mutiara Sufi / Nasihat Kebaikan dari Iblis Kepada Musa as

Nasihat Kebaikan dari Iblis Kepada Musa as

Oleh Sholihin H. Z.

Kepala MTs ASAJA Pontianak

Satu hari Iblis mendatangi Nabi Musa as dan terjadilah dialog, “Ya Musa, aku akan memberimu nasihat tolong dengarkan,” mendengar Iblis berkata demikian serta merta Musa as berujar, “Enyah kau dari sisiku, tidak pernah ada cerita Iblis menyampaikan nasihat kebaikan, yang ada adalah untuk menjerumuskan manusia pada keburukan,” Musa as berkata demikian sambil berlalu dari hadapannya. Beberapa langkah berlalu dari hadapan Iblis, malaikat yang diutus Allah segera menghadang langkah Musa as, “Wahai Musa, kali ini engkau dengarkanlah apa yang akan diucapkannya, kali ini apa yang akan disampaikannya adalah benar,” Mendengar teguran dari malaikat, Musa as pun menghampiri Iblis dan berkata, “Silakan wahai Iblis apa yang akan engkau sampaikan”.
Iblis kemudian menyampaikan nasihatnya untuk Musa as dan juga menjadi pelajaran berarti bagi kita sampai kapanpun. Pesan Iblis yang pertama adalah, “Wahai Musa, jika engkau ingin melakukan suatu kebaikan, maka segerakanlah perbuatan itu dan jangan engkau tunda, karena jika engkau tunda maka aku akan membuatmu menyesal,” Pelajaran ini menjadi pelajaran introspeksi kita bahwa menunda-nunda untuk melakukan suatu kebaikan adalah tindakan yang tidak boleh dibiasakan.
Setidaknya ada dua hal yang harus menjadi perhatian kita adalah pertama, orang yang menunda bermakna ia tidak menyadari bahwa tidak ada jaminan apakah kita masih bisa beraktifitas esok hari bahkan kita tidak tahu setelah ini kita masih hidup atau tidak. Orang yang suka menunda berarti memastikan akan ada lagi hari esok setelah hari ini, padahal ia adalah misteri. Kedua, orang yang suka menunda akan melakukan sesuatu akan dibuat oleh Iblis ada perasaan menyesal apalagi jika perbuatan itu telah didahului orang lain. “Cobalah aku yang melakukannya,” “Mengapa aku tidak melakukannya,” ini adalah diantara kalimat-kalimat yang tersirat makna penyesalan. Iblis mengarahkan kita untuk tumbuh rasa penyesalan dan akibatnya tidak bernilai apa-apa. Kapan akan belajar mengaji, “Waduh lagi sibuk nih, ntar nunggu waktu agak longgar”, kapan mau ke masjid, “ntar nih, lagi banyak kerjaan”, kapan mau pergi haji, “wah, itu sih nunggu pensiun,” Penundaan yang seakan ia tahu hari dan jam kematiannya. Segerakan kebaikan, jangan tunda-tunda.
Pesan Iblis berikutnya adalah, “Wahai Musa, jika engkau duduk dengan wanita yang bukan muhrim jangan lupakan aku karena aku akan mendorongmu berbuat zina.” Nabi Muhammad saw pernah menyebutkan bahwa tidak ada godaan yang lebih besar pada akhir zaman selain godaan wanita. Sejarah juga membuktikan bagaimana seorang raja dan penguasa yang kerajaannya hancur karena godaan wanita untuk mengekploitasi kekuasaan dan kekayaan negerinya. Tidak sedikit wanita yang sepertinya kondisinya lemah tapi justru padanya terdapat daya pikat yang dahsyat yang jika tidak hati-hati akan menjerumuskan laki-laki atau suaminya pada kejahatan sesungguhnya.
Demikian juga iblis senantiasa membisikkan untuk kenikmatan sesaat yang berujung pada penyesalan, apalagi jika ia punya hubungan tertentu. Dari tatapan mata, berlanjut pada genggaman dan selanjutnya makin tidak terarah dan terkontrol. Dijadikan indah pada pandangan manusia untuk semakin mendekati apa-apa yang secara tegas sudah dilarang agama. Disinilah Islam mengajarkan keseimbangan, penegasan untuk para laki-laki agar menundukkan pandangan dan perempuan tidak berpenampilan tabarruj (berhias yang dilarang agama). Menundukkan pandangan berarti mengalihkan pandangan mata dari pandangan yang tidak semestinya untuk menjaga temperatur iman, bukankah dari mata akan direkam dan menjadi memory yang sewaktu-waktu memory itu akan mencuat ke permukaan dan seakan-akan bermain-main dipelupuk mata, inilah yang oleh Imam Ghazali disebutkan bahwa untuk menjaga kekhusyuan sholat hendaknya diawali dengan menjaga pandangan. Demikian juga untuk perempuan, untuk tidak berpenampilan tabbaruj. Penampilan yang justru mengudang syahwat laki-laki meskipun dengan alasan keindahan.
Pesan terakhir Iblis kepada Musa as adalah, “Wahai Musa, saat engkau marah maka kendalikan dirimu karena aku akan menimbulkan fitnah,” Marah adalah pintu iblis untuk berbuat lebih yang tidak terkontrol. Coba kita lihat orang yang marahnya tidak terkontrol, dari duduk bisa berdiri, dari berdiri terus melangkah dan merusak apa yang ada disekitarnya, ketika sudah dalam kondisi demikian maka ucapannya tidak terarah dan tidak terkontrol, keluarlah segala umpatan dan makian. Tepatlah bila Allah SWT menyebutkan bahwa diantara tanda orang yang bertakwa adalah ketika ia bisa menahan amarahnya, bukan tidak bisa marah tapi ia adalah tipe orang yang mampu menahan dan mengendalikan emosinya.
Semoga kita menjadi orang yang selalu dalam lindungan dan petunjuk Allah SWT.**

Tinggalkan Balasan