fbpx
Home / Mutiara Sufi / Ilmu Para Abdal (11): Tambahan Penjelasan Ibnu Arobi tentang 7 Kesadaran Wirid Mereka

Ilmu Para Abdal (11): Tambahan Penjelasan Ibnu Arobi tentang 7 Kesadaran Wirid Mereka

Oleh: Nur Kholik Ridwan

Anggota PP RMINU

Ibnu Arobi dalam tulisan sebelum ini telah dijelaskan, bahwa ilmu-ilmu para Abdal salah satunya yang terpenting adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ahwal mereka dalam menghadapi empat jalan masuk setan, dari empat arah: depan, belakang, kanan, dan kiri, yang masing-masing setan ini membawa karakter sendiri. Perjuangan para Abdal untuk melawan setan dari 4 arah ini, membuahkan ilmu-ilmu, di antaranya ilmu yang meneguhkan keberadaan Alloh, kekuasaan Alloh, ke-Esaan Alloh dalam Dzat, Asama, dan Sifat-Sifat-Nya, ilmu-ilmu penjagaan, dan lain-lain.

Penjelasan Ibnu Arobi, masih ada yang lain sebagai tambahan untuk bisa diambil faedah, yaitu penjelasan siapakah Abdal di dalam jalan spiritual, tentang 7 ilmu dan kesadaran wiridnya, dan level-levelnya. Ketika menjelaskan tentang “Wali Autad”, pada “Fashlun: Wa Ammâ Hadîtsul Autâd…” (I: 244), Ibnu Arobi menyebutkan soal siapakah orang yang berjalan di jalan Para Abdal, dengan mengatakan begini:

“Para Autad yang melalui mereka ini Alloh menjaga semesta (melalui pengetahuan dan rohaninya) berjumlah 4 orang, tidak ada yang kelima. Mereka ini lebih istimewa dari para Abdal; dan dua imam lebih istimewa dari Autad; dan Sang Kutub lebih istimewa dari semuanya.”

Kemudian Ibnu `Arobi menjelaskan perbedaan dalam mendefinisikan siapa Abdal, katanya: “Perkataan Abdal di jalan sipiritual adalah definisi musytarok. Ada yang menyebutkan Abdal adalah untuk menyebut orang-orang yang sifat-sifat buruknya telah berganti (karena diganti melalui kekuasaan dan pertolongan Alloh) dengan sifat-sifat kebaikan. Mereka berpendapat, bahwa para Abdal memiliki jumlah tertentu: ada yang mengatakan jumlah mereka 40 dengan 1 sifat yang sama; tetapi ada juga yang mengatakan jumlahnya 7.”

“Di antara sahabat-sahabat kami juga ada yang mengatakan bahwa jumlah mereka adalah 7 orang, dan mereka berbeda dengan Autad; sedangkan yang lain menganggap bahwa 4 orang Autad termasuk bagian dari para Abdal. Menurut mereka, dari 7 orang abdal itu, 4 orang di antaranya adalah Autad; 2 orang lagi adalah imam; dan yang terakhir adalah Kutub. Maka keseluruhan mereka inilah yang dinamakan Abdal.”

“Dalam pandangan mereka, kelompok ini dinamakan Abdal ketika salah seorang di antara mereka meninggal, maka ia akan digantikan oleh orang lain yang diambil dari 40 orang di bawahnya. Lalu 40 orang itu digenapi lagi oleh seorang dari 300 orang yang ada di bawahnya, dan untuk menyempurnakan 300 orang, maka diambillah 1 orang di antara orang-orang soleh dari kaum mukminin.”

“Pendapat lain mengatakan bahwa mereka dinamakan Abdal karena mereka memiliki kekuatan untuk meninggalkan pengganti di manapun dan kapanpun dia mau, yang akan mengurusi perkara orang tersebut dengan sepenuhnya. Jika orang ini tidak bisa mengetahui si pengganti, maka dia tidak termasuk dalam maqom ini. Mereka berasal dari orang-orang sholih dari umat ini; dan ada juga yang berasal dari para afrod (yang menyendiri dalam penghambaan-Nya; ada juga yang menyebut termasuk ahli tajrid).”

Sedangkan ketika menjelaskan level-level Abdal, pada al-Futuhâtul Makkiyah pada bab 15 (juz 14) “Fi Ma’rifatil Anfâs wa Ma’rifati Aqthôbihâ al-Muhaqqiqîn bihâ wa Asrôrihim” (I: 232), mengemukakan: “Imam ini (Kutub pertama, yang disebut dengan Mudawi al-Kulum; sang penyembuh luka) yang memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya akan keberadaan 7 orang yang disebut dengan Abdal. Melalui Abdal ini, Alloh menjaga (keseimbangan dan berjalannya) 7 wilayah iklim, yang 1 iklim untuk setiap 1 badal. (Energi mereka berasal dari)Ruhani-ruhani 7 lapis langit (yang) memberi perhatian khusus dan memandang kepada mereka. Setiap badal (dari 7 Abdal pada 7 iklim) memiliki kekuatan (pengetahuan dan ruhani) dari sisi ruhani para Nabi yang mendiami 7 lapis langit tersebut.”

“Para Nabi itu adalah: Nabi Ibrahim al-Kholil, di bawahnya adalah Nabi Musa, di bawahnya adalah Harun, selanjutnya Nabi Idris, setelah itu Nabi Yusuf, setelah itu Nabi Isa, dan setelah itu yang terakhir Nabi Adam. Semoga Alloh melimpahkan rahmat kepada mereka semua. Sedangkan Nabi Yahya berpindah antara Nabi Isa dan Nabi Harun. Kemudian, turunlah sebagian hakikat-hakikat para Anbiya’ alaihimis salam itu kepada qalbu-qalbu para 7 Abdal itu. Selain itu, 7 planet yang ada pada 7 lapis langit itu, juga memandang (tanzhuru), memberi perhatian khusus kepada para Abdal dalam apa yang dijaga Alloh dalam gerakan dan orbit-orbit 7 langit, berbagai macam rahasia, ilmu-ilmu, dan atsar `ulwiyah dan sufliyah. Alloh berfirman: “Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya” (QS. Fushshilat[41]: 12). Para Abdal menerima melalui qalbu-qalbu mereka itu pada setiap waktu dan setiap harinya dengan apa yang diberikan oleh pengampu dan penguasa ruhani hari itu (dari para Anbiya’ itu)” (I: 236)

Pengampu dan pemancar ruhani pada hari-hari yang berjumlah 7 itu, menurut Ibnu Arobi, saya ringkas, begini:

1. Ahad, mengandung pancaran dari ruhani dan materi Nabi Idris. Kejadian pada hari ini dan ilmu-ilmunya yang berkaitan dengan ini, diterima oleh seorang badal (dari para Abdal yang 7), yang diamanahi untuk menguasai ilmu jenis Iklim Ahad ini. Ilmu-Ilmu yang bersumber dari Iklim Ahad ini, adalah ilmu-ilmu seperti: rahasia-rahasia makhluk ruhani, tentang cahaya dan sinar, kilat dan rentetan cahaya-cahaya, ilmu tentang kesempurnaan mineral, tumbuhan, hewan, manusia dan malaikat; ilmu pergerakan lurus hewan-hewan dan tumbuhan, karakter nafas-nafas cahaya dan lain-lain. Zikir mereka yang menerima sisi ruhani dan pengetahuan pada Iklim Ahad, ini adalah dzikir yang diliputi oleh kesadaran ayat: “Tidak ada yang menyerupai-Nya sesuatupun” (QS. 42: 11). Alloh tidak boleh diserupakan dengan yang lain/makhluk, dia memiliki nama-nama, sifat dan Dzat yang tidak sama dengan makhluk.

2. Itsnain, mengandung pancaran dari ruhani dan materi Nabi Adam. Kejadian pada hari ini dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kejadiannya, diterima oleh seorang badal dari 7 Abdal itu, yang diamanahi untuk menguasai ilmu-ilmu yang bersumber dari Iklim Itsnain ini. Ilmu-ilmu yang bersumber dari Iklim Itsnain ini, di antaranya: ilmu tentang kebahagiaan dan kesengsaraan, ilmu tentang nama-nama dan keistimewaannya; dan ilmu tentang keadaan memanjang dan memendek, tumbuh dan berkurang. Zikir mereka yang menerima sisi ruhani dan pengetahuan pada Iklim Itsnain, adalah dzikir yang diliputi oleh kesadaran ayat: “Sungguh akan habis lautan sebelum habis kalimat-kalimat Robbku” (QS. Al-Kahfi [18]: 109). Ilmu Alloh tidak aka ada habisnya untuk ditulis menjadi kesadaran Abdal di Iklim ini, menjadi dzikirnya setiap saat.

3. Tsulasa’, mengandung pancaran dari Nabi Harun, dan ilmu-ilmu yanmg berkaitan dengan Iklim Tsulatsa’ yang diterima badal dari 7 Abdal itu, adalah: ilmu tadbir/manajemen, ilmu politik kerajaan, perlindungan dan pertahanan, menata pasukan, pertempuran dan strategi perang, ilmu tentang hewan-hewan kurban dan cara menyembelihnya, rahasia hari Kurban, dan ilmu tentang al-huda dan adh-dholâl; dan ilmu untuk membedakan dalil-dalil yang syubhat (meragukan). Zikir mereka yang menerima sisi ruhani dan pengetahuan pada Iklim Tsulatsa’, adalah dzikir yang diliputi oleh kesadaran ayat: “Di dalam diri kalian, apakah kalian tidak melihat” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 21). Yang ketiga ini, tentang pengetahuan diri, meninjau ke dalam kota tubuh mereka.

4. Arbi`a’, mengandung pancaran dari sisi ruhani Nabi Isa `alaihissalam. Daftar ilmu yang lahir dari Iklim Arbi`a’ ini, yang diterima badal dari 7 Abdal pada Iklim ini, adalah: ilmu tentang waham-waham, ilham, wahyu, qiyas-qiyas, mimpi, ilmu tentang kesalahan dalam sebuah pemahaman, tentang tulisan, pendidikan, nujum, sihir, dan mantra-mantar. Zikir mereka yang menerima sisi ruhani dan pengetahuan pada Iklim Tsulatsa’, adalah dzikir yang diliputi oleh kesadaran ayat: “Duhai alangkah baiknya seandainya aku (orang-orang kafir) menjadi tanah (QS. An-Naba’ [78]: 40). Tanah adalah bumi yang memiliki karakter tawadhu, terus berputar sesuai orbitnya, tetapi menumbuhkan, menampung, menjadi tempat mengalirnya sungai-sungai, dipancangkannya gunung-gunung, munculnya uap-uap di udara, dan lain-lain, di tengah ketawadhuannya.

5. Khomis, mengandung pancaran dari sisi ruhani Nabi Musa. Ilmu-ilmu yang lahir dari Iklim Khomis ini, di antaranya: ilmu tentang hewan-hewan kecil, serangga, tumbuhan, sebab-sebab akhlak mulia dan kebaikan, ilmu tentang kedekatan dengan Alloh, dan ilmu tentang penerimaan amal-amal dan sejauh mana ia berakhir bagi pemiliknya. Zikir mereka yang menerima sisi ruhani dan pengetahuan pada Iklim Khomis, adalah dzikir yang dilputi oleh kesadaran ayat: “Bertanyalah kepada Ahlus Dzikr apabila engkau tidak mengetahui” (QS. An-Nahl [16]: 43). Bertanya adalah sifat seorang anak, maka badal yang memperoleh dari Iklim Khomis ini diliputi pertanyaan-pertanyaan tentang kejadian-kejadian (yang terjadi pada dirinya dan semesta), dan Ahlu Dzikri yang bisa menjawabnya, yang dicari melalui ilmu atau hikmah para sufi.

6. Jumat, mengandung pancaran dari sisi rohani Nabi Yusuf. Ilmu-ilmu yang lahir dari Iklim Jum’at ini, badal yang menerimanya memiliki ilmu-ilmu: tentang bentuk kehadiran al-Jamal (Alloh yang Indah), Keintiman dengan Alloh, dan Ahwal-Ahwal. Zikir mereka yang menerima sisi ruhani dan pengetahuan pada Iklim Jum’at, adalah dzikir yang diliputi oleh kesadaran ayat: “Dan aku serahkan urusannya kepada Alloh” (QS. Al-Mu’min [40]: 44). Setelah mendapat jawaban yang jelas dari pertanyaan-pertanyaan dan yakin dengan ilmunya, dibawa kepada ahwal-ahwal yang berpindah-pindah, dia menyerahkan diri kepada Alloh, at-taslim.

7. As-Sabt, mengandung pancaran dari sisi ruhani Nabi Ibrohim al-Kholil. Ilmu-ilmu yang lahir dan dimiliki badal pada Iklim ini, adalah: Ilmu tentang pertumbuhan jiwa (an-nabat), ketenangan (tamkin), ilmu tentang al-baqo’ (langgeng dalam berdekat dan berdzikir dengan Alloh), dan ilmu tentang mudawamah (keberlangsung dalam mencapai istiqomah dan pengabdian kepada-Nya). Zikir mereka yang menerima sisi ruhani dan pengetahuan pada Iklim as-Sabt, adalah dzikir yang diliputi oleh kesadaran ayat: “Sesungguhnya Kami menawarkan amanah…” (QS. Al-Ahzab [33]: 72). Kalau sudah yakin dan menyerahkan urusan kepada Alloh, maka badal yang menerima sisi ruhani Iklim ini, dzikirnya akan berkaitan dengan amanah yang harus dipikulnya; dan tugas-tugas yang harus diembannya.

Dari penjelasan Ibnul Arobi itu (menurut apa yang saya fahami, yang tentu ada kekurangan), Abdal yang hatinya diliputi oleh sisi ruhani dari Nabi Ibrohim misalnya, atau Iklim as-Sabat, maka dia memiliki jalan kesabaran dan keyakinan yang kuat kepada Alloh sebagaimana dicontohakan Nabi Ibrohim, dimana ilmu-ilmu yang lahir darinya, berdasarkan pengalaman ruhaninya, adalah ilmu-ilmu yang berhubungan an-nabat, tamkin, al-baqo’, mudawamah, dan yang dihubungkan dengannya.

Tujuh level itu juga menunjukkan perjalanan kesadaran yang dilalui para Abdal untuk menurun setelah menaik memerangi setan-setan dari 4 arah dan mengendalikan nafsnya, setelah yaqin akan Alloh, eksistensinya, Af`al-Nya, Sifat-Sifat-Nya, dan Nama-Nama-Nya, sampai pada kesadaran diberi/memikul amanah. Karena wali-wali Abdal ini, adalah pengikut syariat Kanjeng Nabi Muhammad, amanah-amanah itu, ada yang berkaitan dengan kecintaannya kepada umat Nabi Muhammad, yang harus dipikulnya, melalui doa-doanya, nasehat-nasehatnya, dan lain-lain.

Oleh karena itu, Hidhir memberikan doa kepada sebagian Abdal, yang telah disebutkan di bagian sebelum ini, seperti dikatakan Imam Yafi`i, tentang doa “kutiba minal Abdâl”, mereka ada yang berdoa terus dengan “Allôhumarham ummata Muhammad, Allôhumma farrij `an ummata Muhammad Allôhuma ashlih ummata Muhammad”. Menurut Ibnu Arobi di atas, mereka ini para Abdal bisa dari kalangan Afrod juga (min ahli tajrid), dan dari kalangan orang-orang sholih di kalangan umat Nabi Muhammad. Allohu a’lam.

Tinggalkan Balasan