fbpx
Home / Catatan Ringan / Tragedi Akhiang dan Sirnanya Kemanusiaan

Tragedi Akhiang dan Sirnanya Kemanusiaan

gambar: paseng. News

Oleh: M. Hasani Mubarok

Apa sebenarnya yang diinginkan oleh orang-orang yang berpakain putih-putih seraya menampilkan kedigdayaan agamanya di hadapan masyarakat? Apa gerangan yang membuat mereka begitu menggebu-gebu “membela al-Quran, ulama dll” sampai merimbuni jalan dengan memakian dan sesekali pekikan takbir? Apa yang mendorong mereka untuk menganiaya seorang pemilik toko yang tak bersalah dengan sedemikian tidak manusiawinya hanya karena ia Cina?

Masih terlalu pagi sepertinya, ketika warga pontianak hari ini (2 Mei 2018) diributkan oleh sebuah berita tentang penganiayaan Akhiang oleh segerombolan orang yang diketahui sebagai anggota dari Ormas FPI Kubu Raya. Pria tak bersalah ini dituduh menghina seorang penceramah oleh karena postingan temannya yang namanya hampir mirip dengan dia: Achiang.

Laskar-laskar ini salah alamat, Akhiang tak melakukan penghinaan itu. Meski demikian dia membela diri dari tuduhan tak benar itu, tetap saja tamparan dengan sandal beberapa kali mendarat di bibirnya seolah menyelahi setiap butir introgasi orang-orang biadab itu. Hari ini, Akhiang terbaring di rumah sakit dengan beberapa luka-luka di kepala yang sangat memerikan. Tak terbayang betapa pedih hati sanak keluarganya!

Nahas menimpa Akhiang akibat ulah sebagian orang yang terdorong oleh semangat agama yang  membabi buta dan tak berperi kemanusiaan. Kekerasan memang tidak identik dengan ormas atau agama apapun, karena kekerasan adalah brutalitas dan kekejian yang tak pernah ditemukan pembenarannya dalam deretan landasan keorganisasian maupun kitab-kitab suci. Memukul bibir seseorang hingga memar bersimbah luka, menggebuk kepala dengan kayu sampai bercucuran darah adalah kekejaman yang hanya dilakukan oleh otak manusia –kalau masih pantas disebut manusia- yang dijejali oleh kebengisan.

Motif dasar pengeroyok ini tidak pernah dilandasi oleh satu nilai kebaikan yang dialiri agama atau satu ideologi ormas, melainkan kebencian dan keinginan untuk menakuti orang lain –dalam hal ini non-muslim- agar tak melakukan penghinaan kepada ulama mereka. Agama adalah sekumpulan nilai universal yang ditujukan untuk membenahi karakter penganutnya agar bertingkah pola yang baik dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Akhirat menjadi tak bermakna apapun jika dunia sebagai cerminnya tidak terhiasi dengan akhlak baik sebagaimana diinginkan oleh semua agama.

Membela agama atau bagian-bagian prinsipil di dalamnya adalah nilai-nilai partikular di tengah universalitas misi satu agama. Partikularitas haruslah senantiasa senarai dengan universalitas misi agama yang sarat dengan moral dan kebaikan. Pembantain terhadap Akhiang adalah wujud dari tak bersambungnya logika partikular kelompok beragama terhadap misi universal. Hal ini terjadi oleh karena dorongan hawa nafsu yang membara untuk membantai siapa saja yang dianggap menyelisihi nilai partikular atas agama yang dianut. Sampai di sini, mereka tak mewakili misi agama, mereka hanya bertindak atas dorongan birahi bobrok yang kemudian dililit dengan nuansa agama.

Inilah dasar utama salah satu dari sekian bentuk peganiayaan atas nama agama atau satu ideologi yang dilakukan manusia-manusia sejak zaman dahulu. Kekerasan terpisah dari nilai apapun yang diberikan agama atau ideologi. Marxisme misalnya, sebagai sebuah doktrin revolutif untuk mengubah haluan suatu sejarah telah melahirkan tragedi-tragedi berdarah di China, Kuba atau bahkan di Indonesia, sebenarnya tidaklah muncul dari universalitas pembebasan manusia yang menjadi pijakan dasar Karl Marx sebagai perumus utamanya. Persekusi justru terjadi ketika nilai-nilai itu harus dimanifestasikan dalam ruang sosial yang partikular, reduksi berujung destruksi.

Demikianlah halnya dengan Islam, tindakan destruktif senantiasa datang menyelinap dalam setiap upaya menampilkan agama ke hadapan publik hanya karena sebagian dari mereka dengan ceroboh mereduksi nilai-nilai itu secara membabi buta dan menutup mata dari kondisi sosial di sekitarnya. Apa penyebab dari kecerobohan ini sehingga berujung pada reduksi terhadap nilai-nilai universal agama atau sebuah ideologi? Adalah hilangnya orientasi kemanusiaan dalam proses pengejawantahannya. Itulah problem pertama dari lahirnya kekerasan atas nama agama atau ideologi tertentu.

Hilangnya Kemanusiaan

Pembantaian secara brutal terhadap Akhiang yang dilakukan oleh segerombol anggoat FPI Kubu Raya, telah mengganggu kedamaian yang selama ini terus diupayakan di Kalimantan Barat secara umum. Selain itu, peristiwa ini juga menunjukkan hilangnya orientasi kemanusiaan dalam menampilkan nilai-nilai agama ke ruangan sosial di Bumi Borneo ini. Manusia sejatinya bukan hanya sekadar objek yang harus dituntun oleh agama, tapi di sisi lain dia juga menjadi subjek aktif yang berhak menentukan hendak ke mana suatu ajaran diarahkan. Kemanusiaan yang berporos pada keadilan, kesamaan, kebebasan individu dalam berkarya, beragama bahkan berekspresi seharusnya menjadi basis bagi persemaian ajaran agama. Hukum positif menjadi barometer sejauh mana kesemua hal itu dimiliki oleh setiap pribadi.

Tindakan brutal seperti dicontohkan oleh orang-orang biadab itu telah mengabaikan penghormatan terhadap sisi kemanusiaan seseorang. Maqashid asy-Syariah yang memegang ketat prinsip hifdzun nafs, hifdzun nasl, hifdzul maal, hifdzul aql dan hifdzud din merupakan lima prinsip (al-Kulliyat al-Khams) yang memberi landasan berpikir dalam mengekspresikan nilai agama bagi kehidupan seorang muslim. Keseluruhannya berorientasi pada konsep kemanusiaan beserta seluruh aspek yang mengitari tiap personalnya.

Perintah salat, zakat, haji dan semua hal yang mengitari konsep Islam seperti jihad dan al-amr bil Ma’ruf wan nahyi anil Munkar harus dipraktikkan dengan menjadikan kelima prinsip itu sebagai poros utama. Kelima hal itu menegaskan segala aspek yang harus dilindungi oleh agama karena menyangkut kebutuhan paling esensial (Dloruri) setiap manusia. Inilah alasan kenapa agama sangat diperlukan bagi manusia yang mendiami kota ini (Pontianak), agar tak ada Akhiang baru yang menjadi korban kebrutalan.

Demikian pula yang terjadi dalam ideologi marxisme sebagaimana dicontohkan di atas, nilai universal adalah pembebasan manusia dari keterasingan eksistensinya oleh karena kapitalisme yang sedemikian kuat cengkramannya dalam sektor kehidupan. Proyek pembebasan ini kemudian berputar balik ketika demi mencapai tujuannya harus memaksa bumi “menegak darah-darah segar manusia”. Demi manusia menghancurkan kemanusiaan! Apa yang didapat? Bukan kesejahteraan yang dirasakan, justru kesengsaraan yang begitu pahit harus ditelan. Ini diakibatkan oleh hilangnya prinsip kemanusiaan dalam menjalankan setiap doktrin marxisme yang dijejalkan.

Kemanusiaan haruslah dihargai sebagai subjek sekaligus objek dalam setiap penyemaian nilai dalam kehidupan ini. Sirnanya kemanusiaan dalam sebuah ekspresi nilai berarti sirnanya kebaikan dan hancurnya sebuah misi serta kesalahan fatal dalam menerjemahkan nilai itu dalam dinamika kehidupan yang komplit. Jika demikian, setiap nilai yang lahir dari agama atau ideologi telah gagal membawa manusia ke derajat terbaik sebagai insan yang dianugerahi akal budi.

Kembali kepada Islam, pembelaan terhadap ulama atau al-Quran bahkan membela siapapun adalah bagian kecil dari syariat yang harus ditujukan demi tegaknya kelima prinsip kemanusiaan di atas. Jika pembelaan itu tak lagi berporos kepadanya atau bahkan putar balik menghancurkan prinsip-prinsip universal itu, maka pembelaan baik berupa aksi atau intimidasi berujung persekusi seperti yang dialami Akhiang harus segera dihentikan, sebelum semua orang akan hancurnya bibirnya karena tamparan sandal.

Tinggalkan Balasan