fbpx
Home / Catatan Ringan / Rumusan Awal Menuju “Islam Kaffah”.

Rumusan Awal Menuju “Islam Kaffah”.

Catatan Diskusi Gusdurian

Kelanjutan dari Kelas Pemikiran Gusdur (KPG) Gusdurian Kalbar.

Kajian yang dihelat kemarin (5/5/2018) sore itu dihadiri oleh anak-anak muda yang tengah berada di masa keemasannya.

Berbagai macam perspektif dihadirkan sekadar untuk membaca ulang pemikiran brilian Gusdur mengenai “Islamku, Islam Anda Islam Kita”. Hal tersebut dimaksudkan agar diskusi pemikiran Gusdur lebih terasa greget.

Perspektif pertama, mengenai term “kaffah” yang bergandengan dengan term “silmi” pada suatu potongan ayat. Dalam perpsektif ini keutuhan dalam berislam tidaklah harus serupa dalam bentuk kemasannya dengan Islam di masa lalu, tapi kaffah itu lebih pada makna substantifnya.

Dalam perspektif berikutnya, Islam itu memiliki keluasan yang tidak terjangkau. Setidaknya ada tiga cara untuk sekedar mengenalnya. Pertama mengenal dengan cara melantunkan ayat-ayat sucinya (tilawah), kedua melihat prilaku umat Islam (sejarah), kemudian yang ketiga menghidupkan nilai kearifan dalam diri (hikmah). Ketiganya adalah satu kesatuan yang menunjukkan sebagai upaya mencapai predikat kaffah.

Berikutnya ada perspektif kekinian yang melihat bahwa berislam itu tidak sekadar memindahkan dari teks ke dalam prilaku. Dalam analogi yang sangat sederhana, berislam itu tidak boleh seperti memindahkan air dari gelas yang satu ke gelas yang lain, tapi harus memaksimalkan fungsi dari air satu gelas tersebut. Dalam maksudd yang lebih sederhana adalah, kebaikan apa yang dapat dilakukan lebih dari sekedar mematuhi perintah dan larangan.

Berikutnya terdapat perspektif yang terbilang sangat filosofis dengan menghadirkan pemikiran pembanding. Dalam hal ini Abid Aljabiri dengan keresahannya terhadap nalar umat Islam terhadap “turats” tradisi yang didalamnya tercakup nash (teks). Dalam perpekstif ini Gusdur dan Aljabiri dianggap serupa, hanya saja Aljabiri lebih terlihat akademis, sementara Gusdur lebih sederhana dan membumi.

Titik kesamaan terdapat pada satu kerisauan mengenai problem epistemologis relasi muslim dan turats. Secara sederhana kerumitan epistemologis itu kemudian disederhanakan oleh para tokoh NU dengan suatu adagium yang cukup populer “almuhafadhah ‘alal qadimis sholeh wal akhdu biljadidil ashlah.

Perspektif yang terakhir, merupakan permintaan sederhana dalam bentuk aksi. Walau diskusi dan kajian teorotis tidak boleh ditinggalkan. Namun pada intinya, kajian pemikiran gusdur tidak boleh berhenti pada persoalan ontologis dan epistemologisnya, tapi lebih dari itu harus mewujud dalam bentuk aksiologis.

Demikianlah sekedar catatan dari diskusi Kelas Pemikiran Gusdur (KPG) kali ini. Secara umum dapat disimpulkan bahwa “Islam Kaffah” adalah suatu idealisme kita semua dengan runtutan proses yang cukup rigid. Mulai dari persoalan epistemologis (cara melihat Islam), Islam itu sendiri (ontologis) dan apa yang harus kita wujudkan untuk mendatangkan kebemaran dan kemaslahatan untuk seluruh alam (aksiologis).

Tinggalkan Balasan