fbpx
Home / Catatan Ringan / Puisi Sukmawati dan Nilai Sebuah Seni

Puisi Sukmawati dan Nilai Sebuah Seni

Gambar : tribunnews.com

Oleh : M Hasani Mubarok

Yang viral beberapa hari terakhir, adalah soal puisi yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarno Putri (salah satu Putri Ir. Soekarno) di sebuah acara. Puisi itu memantik banyak komentar oleh karena isinya yang dianggap telah mendiskreditkan satu agama, yakni Islam dan unsur fundamentalnya, yaitu syariat. Alhasil, banyak pihak yang kemudian bernisiasi menyamakan tindakan dan puisinya itu seperti kasus Ahok dengan al-Maidah 51-nya yang terkenal tahun lalu (2016-2017).

Puisi, untuk orang yang awam seni dan kesusastraan seperti saya, tidaklah dimengerti sejauh mana maksud yang ingin disampaikan oleh Sukmawati. Muatan puisinya yang menyebutkan bahwa “sari konde lebih baik dari cadar, suara kidung lebih merdu dari suara adzan” di satu sisi telah menyerang satu perbincangan dalam syariat Islam yang dianggap prinsip dalam Islam dan ini alasan kenapa ia ramai diperbincangkan.

Untuk membaca keseluruhan puisi itu, kita bisa menggunakan dua pendekatan minimalis, paling tidak. pendekatan konflik, bahwa hal itu telah menyerang Islam sebagai agama yang berjasa besar bagi Republik ini, mengingat dia (Sukmawati) membandingkan antara agama dan tradisi Ibu Petiwi satu sama lain saling berhadapan. Ketika sudah dihadapkan seperti ini, konsekuensinya adalah satu di antaranya harus diunggulkan, sementara yang lain dihunjamkan ke tanah. Dalam puisi ini tradisi lah pemenangnya. Masyarakat kalap lagi.

Dan kedua pendekatan simpatik, bahwa puisi itu menjadi semacam kritik di tengah semakin tercerabutnya nilai-nilai luhur warisan Ibu Pertiwi hari ini, tergerus oleh infiltrasi ideologi-ideologi yang keluar masuk bahkan doktrin agama. Harus diakui, hari ini kita lebih senang mendengarkan lagu-lagu Barat, Arab, Tagalog atau Hindia dibanding kidung-kidung jawa, Zapin Melayu, Maumere, Sajojo, Apuse, Ramko Rambe atau Leolang. Atau, kita lebih senang berpenampilan modis ala model-model dunia maya yang gemerlap, ketimbang memakai pakaian eksotisme tradisi dan adat yang kaya kita miliki.

Atau kita menggunakan alternatif alias pandangan ketiga, yakni anggapan bahwa ekspresi seni dan muatan sastra tak bisa diikat oleh satu sekian nilai yang ada. Dalam kata lain, seni bebas nilai dan hidup dalam ruangnya sendiri. Di sini, berarti agama atau apapun sumber nilai yang dihayati oleh manusia tak bisa mengikat ekspresi seorang dalam menyalurkan seninya. Ketika puisi dikumandangan oleh Sukmawati, maka ia adalah otentik dan tiada hal lain yang mengitarinya. Berarti, seni bebas nilai.

Pertanyaan berlanjut, apakah memang “seni itu bebas nilai? Dalam arti tiada keterikatan dengan norma-norma yang hidup bersama manusia yang sangat beragam ini. Berarti dia tak berbatas dan bebas sebebas-bebasnya. Seni dalam hal ini menjadi tidak otentik, ketika muatannya sudah dikooptaso oleh satu kuasa nilai.

Pergulatan panjang bisa kita saksikan dalam perdebatan seputar pertanyaan ini. Di sini kita lihat, bahwa sebagian mengatakan bahwa seni itu terikat dengan nilai bahkan harus menjadi sumber nilai. Dalam dunia musik, kita bisa jadikan Rhoma Irama dan Soneta Grup-nya sebagai pelopor bagi musik Dangdut. Liriknya menyajikan pesan-pesan moral yang harus dihayati oleh masyarakat. Secara tidak langsung, Rhoma Irama menjadikan seni sebagai satu ekspresi yang terikat oleh satu norma, dalam hal ini agama lebih menonjol, karena Soneta sendiri memiliki semboyan The Voice of Moslem atau Nada dan Dakwah. Walhasil musik dangdut-nya Bang Haji menjadi membumi dan dan digemari banyak orang sampai hari ini.

Rhoma dan Soneta Grup-nya menjadi contoh –walau saya memiliki padangan yang kritis dalam beberapa sisi-, bagaimana mengambil nilai-nilai pragmatik dalam satu norma agama yang kemudian dituangkan dalam bentuk lirik-lirik lagu dengan nada khasnya. Seni dalam hal ini kemudian dipihakkan dan hidup. Sementara di sisi lain, kita juga kerap menyaksikan banyak sekali seni yang tidak menggantungkan diri pada satu nilai, dia hanya menampilkan apa saja yang dianggap mengekspresikan keindahan. Di sini, kita sering melihat dangdut atau koplo dengan sentuhan erotisme berlebihan atas nama seni. Seolah tiada nilai yang mengikatnya. Lagi-lagi dualisme sikap dalam mengekspresikan seni muncul.

Baiklah, tiada yang memungkiri bahwa seni memang sulit untuk disepakati secara konsensus bagaimana hendak ia diarahkan. Karena ia adalah sebuah aktifitas naluriah manusia yang menghasrati keindahan yang satu sama lain berbeda. Antara penyuka musik Rock dan Tembang-tembang Qasidah mungkin sulit bertemu dalam satu meja. Dengan ini kita bisa berkesimpulan, bahwa kebebasan dalam seni memang niscaya, karena kita tak bisa memaksakan preferensi seseorang dalam menikmatinya. Namun, harus diingat, bahwa ketika seni sudah mengisi ruang sosial, dia harus bersedia berdialog pula dengan kehidupan.

Seni sebagai sebuah aktifitas keindahan yang diresapi oleh para penikmat memang meniscayakan kebebasan intra-personal yang tak bisa dikekang oleh satu nilai. Dalam bahasa praktis, tiada yang bisa melarang saya mendengarkan lagu-lagu Gayatri Mantram misalnya, oleh karena milik agama Hindu sedangkan saya beragama Islam. Dalam hal ini, sebagai sebuah keindahan, Gayatri Mantram bebas dari nilai-nilai – paling tidak bagi saya. Namun, dalam ruang sosial keislaman, saya sebagai penganut agama Islam haruskah menganjurkan keindahan ini kepada orang Islam yang lain? Di sini lah suatu keindahan harus membuat kontrak sosial dengan nilai-nilai yang mengikat masyarakat.

Kembali pada kasus puisi dari Sukmawati di atas, harus diakui, karena dia sudah menjadi konsumsi masyarakat, maka dia harus terikat dengan satu tata nilai yang baku dan kongkret. Ketika dia berlepas dari norma yang hidup itu, maka resistensi masyarakat akan bermunculan bahkan kontraproduktif dengan nilai-nilai luhur yang ingin disampaikan. Alih-alih menyadarkan orang-orang agar mencintai tradisi leluhur bangsa yang teramat kaya, puisi ini malah terjebak dalam satu kubangan konflik yang melelahkan urat leher.

Apakah dengan melakukan kontrak sosial atau negosiasi dengan nilai-nilai kehidupan, seni menjadi kehilangan otentitasnya? Di sinilah tugas akbar seorang seniman bermain, bukan tugas ilmuwan, sejarawan apalagi komentator sepakbola. Menjaga otentitas seni sebagai sebuah keindahan dan secara langsung berdialog dengan nilai-nilai sosial yang hidup berarti memerlukan kebijaksanaan di balik setiap keindahan yang disajikan. Jika satu dari dua sisi ini overlap, maka satu sama lain akan saling menghancurkan. Yang indah menjadi miskin nilai kehidupan, atau yang penuh nilai kehidupan, tapi miskin keindahan.  Berarti, seni yang hidup adalah tersajinya nilai-nilai dengan balutan keindahan.

Dalam kacamata paling awam akan seni, puisi Putri Presiden Pertama itu memang mengekspresikan keindahan kata dan kekuatan pengahayatan akan kehidupan. Namun, di sisi lain dia menjadi miskin akan nilai-nilai pragmatik yang didambakan oleh masyarakat pendengar yang sangat plural. Dengan ini, Puisi Sukmawati itu menjadi mengambang dan tak menjejak ke dalam hati masyarakat, dia menggelayut begitu saja tanpa tahu apa yang ingin disampaikan. Masalah yang muncul kemudian, ke mana sebuah keindahan harus dipihakkan?

Keberpihakan memang menjadi wajib agar suatu nilai tepat sasaran. Jika tak tepat, maka seni akan mengalami disorientasi nilai dan akan berujung pada kebrutalan keindahan dan kekaburan ekspresi. Seni, ketika dia mulai didialogkan dengan masyarakat dan nilai-nilainya, dia harus berpihak kepada norma-norma. Begitu halnya dengan puisi Sukmawati, dia harus masuk dan berkompromi dengan nilai-nilai agama yang dihayati, dalam hal ini umat Islam agar apa yang ingin dia sampaikan benar-benar masuk ke dalam lubuk hati pendengar.

Bukankah Wali Sanga juga menyajikan nilai dalam bentuk keindahan? Dia mudah diterima oleh masyarakat karena dipihakkan. Hasilnya, Para Wali tidak memproklamirkan keindahan semata, namun nilai yang hidup bersama masyarakat di sekitarnya. 

 

Tinggalkan Balasan