fbpx
Home / Catatan Ringan / Ketika Club Motor Ber-PMII

Ketika Club Motor Ber-PMII

Gambar : nukhatulistiwa

Oleh : M Hasani Mubarok*

Memoar Bung, salah satu buku yang ditulis dengan sangat baik oleh Isfandiari Mahbub Djunaidi dan Iwan Rasta. Nama pertama adalah putera asli dari si-empunya memoar, yakni Bung Mahbub Djunaidi. Mahbub adalah seorang wartawan, kolumnis, organisatoris sekaligus sastrawan yang telah memimpin PB PMII untuk pertama kali sejak didirikan (17 april 1960). Nama Bung Mahbub kemudian dikenal dengan julukan si Pendekar Pena. Ini karena kuatnya karakter tulisan dan cara menyampaikan pemikirannya kepada semua pembaca dari dulu hingga beliau wafat.

Kang Isfan, sebagai penulis dan sekaligus putera ketua umum pertama PB PMII, tentu merupakan kebanggaan kader PMII –khususnya PK IAIN Pontianak- manapun ketika bersua dengannya. Sosok Bung Mahbub yang ringan dan kocak tentu tak berbeda jauh dari anaknya. Sosok yang ringan bahkan lebih ringan sepertinya dari sang ayah, minimal dari sisi penampilan. Wartawan sekaligus anggota club motor MMC Outsider ini terlihat sangat gaul dan santai dengan penampilan –yang bisa jadi- kurang etis di tengah kader-kader PMII yang biasanya berjas rapi. Namun, begitulah jiwa Bung Mahbub, begitu pula seperti yang tampak diri Kang Isfan.

Membedah buku Memoar Bung dengan penulisnya langsung sebagai pembicara pada tanggal 18 maret 2018, di Aula Kanwil Kemenag Kalbar kemarin, membawa nuansa the second coming of Mahbub. Tentu bukan kehadiran Mahbub sebagaimana dambaan orang-orang utopis dan lebay itu.Tapi sisi semangat yang membuat semua yang hadir merasa optimis bahwa PMII masih memiliki stok penerus perjuangan Mahbub Djunaidi baik sebagai organisatoris, penulis atau sastrawannya.

Semangat yang pertama dan sangat mahal harganya, adalah fakta bahwa baik Kang Isfan maupun kang Iwan Rasta adalah sama-sama anak Club Motor. Namun, yang membuat kader PMII wajib merasa kerdil di depan mereka adalah semangat menulis yang layaknya aktifis organ mahasiswa. Menulis memang bukan hal yang mudah, karena dia bukan sekadar aktifitas fisik (jari) tetapi juga aktifitas hati dan otak sekaligus. Apa yang mengalir melalui jemari merupakan hasil dari pertarungan apa yang ada di dalam fikiran serta apa yang dibisikkan oleh hati.

Yang kedua, adalah fenomena masuknya gerombolan Club Motor ke dalam forum PMII untuk pertama kali pada acara bedah buku itu. Kalau akademisi mungkin sudah memang tempatnya untuk mengisi forum-forum PMII, mengingat merekalah yang bertugas untuk terus mengarahkan agar organisasi ini terus berfungsi sebagai lumbung intelektual NU. Politisi bisa dimaklumi karena mereka memang rajin memanfaatkan organisasi sebagai kendarannya. Namun, jika Club Motor yang khas dengan style sangar dan penampilan bak rocker, masuk ke forum PMII, tentu merupakan ketidakwajaran. Dikatakan tidak wajar, karena luar biasa.

Sejak 1988 MMC Outsider ini lahir, memang memiliki sejarah panjang dengan Bung Mahbub, selain karena si Bung yang gemar naik motor dan cinta otomotif, sifat mudah bergaul dan tak jaim membuat mereka betah berlama-lama dengannya. Mereka sering berdiskusi tentang apapun bersama Bung Mahbub. Hingga saat wafatnya, MMC Outsider-lah yang kemudian membuat jalanan di Kota Bandung lenggang demi menghormati jenazahnya. Mereka mengawal dari mulai proses penyalatan sampai ke liang lahat, di mana Bung tak terlihat lagi setelah itu.

Hari itu (1 Oktober 1995), Bandung menjadi saksi bagi meleburnya beberapa unsur masyarakat yang saling berbeda, mulai para Kiai, santri, politisi, akitifis sampai anggota Club Motor. Maka wajar, jika saat ini banyak sekali masyarakat merindukan si Bung. Merindukan kehadirannya seperti sediakala tidak mungkin. Namun, senarai perjuangannya yang mampu membuat masyarakat happy adalah kewajiban bagi setiap mereka yang merasa punya tanggungjawab sebagai penerus. Salah satunya adalah kader PMII. Khususnya IAIN Pontianak. Di tengah rakyat yang gundah gulana, mudah terselut amarah, Mahbub baru harus lahir agar bangsa dan agama tak terbakar.

Sontak tepuk tangan gemuruh memenuhi aula bedah buku kemarin, ketika serombongan lelaki berbadan tegap dengan jaket-jaket hitam dengan paduan warna kuning yang keras dilengkapi asesoris berat lainnya –seperti kalung, rantai, sepatu hitam- masuk dan mengikuti prosesi bedah buku dengan penuh khidmat. Ternyata, di balik “wajah jalanan” para pecinta motor yang tergabung  dalam MMC Outsider Chapter Singkawang  itu, tersimpan satu misi yang sama dan mungkin selama ini kurang diketahui oleh para aktifis. Bahwa mereka mencintai perdamaian dan keadilan di negeri ini. Mereka datang sebagai penghormatan terhadap Kang Isfan yang tak lain adalah Putera Bung Mahbub sendiri.

Dan, kita harus jujur. Dari mereka kita perlu belajar banyak perihal militansi dalam berorganisasi. Sebagian dari mereka mungkin sudah tak muda lagi, menaggung nafkah keluarga sudah pasti, namun kecintaannya kepada MMC Outsider-nya tak pudar walau usia terus berjalan. Bukankah banyak organisasi –termasuk PMII- yang telah melahirkan orang-orang besar, namun berpaling ketika usia dan kemapanan telah didapatkan. Nilai-nilai ke-PMII-an yang sewaktu masih mahasiswa dipegang erat-erat seperti balon agar tak meletus, kemudian hari harus ditundukkan karena kepentingan pribadinya.

Selanjutnya, kita perlu pula belajar bagaimana cara mereka mengelola dan mengarahkan organisasinya agar tetap pada jalur sebagaimana pendirinya inginkan. Secara pribadi, saya tidak mengetahui pasti apa dan bagaimana Club Motor menggerakkan aktifitasnya. Namun, sepertinya mereka tak pernah merepotkan negara, memangkas anggaran apalagi berkejar-kejaran hanya karena rebutan proyek atau timses. Mereka berorganisasi karena mereka cinta dan hobi. Sudahkah kita berorganisasi atas nama cinta dan hobi. Jangan-jangan karena … ah, sudahlah!.

Oh ya, satu lagi. Mereka punya semboyan yang tak kalah menarik “Mama On The Top” yang tak kalah dengan “Tangan Terkepal dan Maju ke Muka” kerennya. (MHM)

 

*Penulis adalah Pecinta Kedamaian

Tinggalkan Balasan