fbpx
Home / Catatan Ringan / Kemakhlukan dan Keduniaan – Suatu Renungan Eksistensialis

Kemakhlukan dan Keduniaan – Suatu Renungan Eksistensialis

Ilustrasi Surealisme : The Sun

Oleh : M Hasani Mubarok*

Islam adalah agama yang hidup di tengah masyarakat, bak semilir angin sepoi-sepoi membawa aroma kebahagiaan bagi siapa saja yang terkena terpaan lembutnya.  Agama samawi terakhir ini tidak seperti angin puting beliung atau topan yang ketika bertiup, semua yang dilewati akan luluh lantak atau rata sama sekali dengan tanah. Dia datang perlahan, mengobati lara manusia dari dalam dirinya sendiri, tidak dengan memberikan suntikan layaknya dokter penyakit cacar. Begitu Islam sebagai sebuah agama telah menyadarkan manusia, bahwa kebaikan dan kebenaran ada bukan karena Tuhan mengehendaki itu, tapi karena kita membutuhkannya.

Nabi Muhammad Saw, berkata yang kemudian direkam oleh Al-Quran bahwa beliau bukanlah Rasul (utusan) yang baru melainkan hanya melanjutkan apa yang sudah diajarkan oleh para Nabi sebelumnya. Hal ini berarti, bahwa agama Nabi Muhammad sebagai sebuah nilai kebenaran dan kebaikan tidaklah merombak ulang apa yang dilakukan oleh manusia pada saat itu, beliau hanya merevitalisasi dan merekonstruksi nilai-nilai lama yang sudah mulai memudar dimakan waktu. Ini satu alasan, mengapa surat pertama dalam al-Quran memerintahkan Nabi Muhammad secara khusus dan manusia pada umumnya agar membaca dengan nama “Rabbuka” yang berarti Tuhan-mu tidak dengan nama Allah. Ini mengindikasikan, bahwa Allah sebagai Tuhan bagi sekian mahkluk sudah diyakini oleh masyarakat Arab Jahili pada waktu itu.

Dakwah Nabi di Kota Mekah adalah sebuah misi untuk merevitalisasi nilai-nilai Tauhid yang terkontaminasi oleh berbagai ajaran-ajaran di luarnya selama puluhan tahun di jazirah Arabia. Sentuhan tradisi dari luar, telah membuat kesucian monoteis yang dikenalkan oleh Nabi Ibrahim sampai Nabi Isa mengalami distorsi di sana-sini. Inilah tugas Nabi Muhammad, bahwa kesucian monoteis (Tauhid) harus kembali, agar transfer nilai-nilai agung yang terkandung di dalam Islam sebagai agama yang dibawa oleh para Nabi mampu masuk dan dihayati oleh manusia. Islam sebagai sebuah agama tidaklah melulu soal bagaimana relasi antara Tuhan dan hamba, tetapi yang paling penting adalah bagaimana keimanan yang suci itu mampu mengarahkan manusia kepada sifat-sifat agung sebagai fitrahnya sebagai seorang khalifah di muka bumi.

Untuk membuktikan kepada seluruh umat manusia di mana pun ia berada bahwa agama tidak hanya sekadar dua kalimat syahadat melainkan manifestasi nilai kehidupan, Nabi Hijrah ke Madinah dan mulai mengenalkan bagaimana seharusnya sebuah peradaban tamaddun dibangun. Ketika kaum Muhajirin telah beriman dan ikut serta dengan Nabi pada peristiwa hijrah yang sangat fenomenal itu, sebuah proyek membangun dunia ke arah yang lebih baik dirancang oleh Nabi beserta seluruh sahabat-sahabatnya baik dari kaum Muhajirin maupun Anshor secara bersama-sama. Dengan keimanan sebagai fondasi, nilai-nilai wahyu mulai menyinari kota Madinah di mana sinarnya menembus ke seluruh lapisan kehidupan umat manusia pada waktu itu sampai hari ini.

Fungsi sebuah keimanan ternyata begitu penting karena darinya lah nilai-nilai bersumber dan mengalir serta menyegarkan kegersangan. Iman berfungsi bak sebuah inspirasi yang tidak hanya inspiratif tetapi sekaligus aspiratif. Dengan memperkenalkan bahwa manusia adalah makhluk di dunia, iman juga mengarahkan manusia bagaimana seharusnya menjadi makhluk yang baik di dunia. Posisi kemakhlukan inilah yang kemudian mengambil bagian penting dalam sebuah garis vertikal bahwa ada Sang Khalik di sana serta horizontal sekaligus, bahwa dia berada di dunia dengan kefanaannya. Misi Islam -yang dibawa sejak Nabi Ibrahim dan Nabi-nabi yang lain hingga sampai kepada Nabi Muhammad- pada intinya ingin menegaskan sebuah misi kepada seluruh manusia bahwa mereka adalah makhluk dan mereka ada di dunia. Suatu konsep eksistensialisme agung yang diajarkan oleh Islam.

Kemakhlukan dan keduniaan dalam berbagai hal menyatu dalam sebuah konsep sekaligus berpisah jika dilihat dari sudut pandang berbeda. Dengan dua poin eksistensial ini, maka manusia diharapkan akan menuju kesempurnaan sebagai manusia seutuhnya. Konsep kemakhlukan digunakan untuk menunjuk keberadaan yang Maha Menciptakan di atasnya. Di sini relasi vertikal antara Allah dan hamba-Nya terjalin, konsepsi ubidiyyah dikenalkan supaya manusia memiliki ikatan yang erat dan mampu menempa spiritualitasnya agar senantiasa stabil dan tak tergoyahkan.  Dalam bahasa Arab, relasi ini dikenal dengan istilah hablun minallah yang manifest dalam laku ritual dan ketajaman spiritual seseorang.

Memahami kemakhlukan satu paket dengan memahaminya sebagai seorang yang tiada kuasa berlebih yang dia miliki. Dia hanya seorang yang diciptakan oleh Allah agar menjadi abid atau hamba sahaya. Allah berkuasa atas segala apa yang diperbuat olehnya, bahkan menghentikan sama sekali fungsi kemakhlukan yang dia miliki. Konsepsi kemahklukan ini baru bisa utuh dipahami dengan menjadikan Iman kepada-Nya sebagai pintu masuk. Karena hanya dengan berimanlah seseorang akan meyakini bahwa fungsinya di muka bumi tak lebih laksana budak yang tiada berdaya di hadapan Tuhan-nya. Maka jauh-jauh waktu al-Quran sudah menegaskan ini “ Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menjadi hamba bagi-Ku”.

Inilah alasan, mengapa dakwah Rasulullah di Mekah adalah sebuah dakwah yang teramat berat, hal ini dikarenakan beliau ingin mendobrak hati dan pikiran masyarakat Arab tentang kemahklukannya. Makhluk di sini tentu tak bisa dipahami secara simpel dari narasi ketiadaan menuju ada, karena nyatanya, masih banyak orang yang menyadari bahwa dia adalah makhluk yang adanya bersifat temporal, tapi masih berlagak seperti Tuhan. Kemakhlukan di sini adalah sebuah kondisi di mana seseorang adalah “yang diciptakan” oleh “Si Pencipta”. Dibutuhkan diskusi yang panjang tentang dua istilah ini. 13 tahun Rasulullah membangun karakter eksistensial manusia dari sisi yang paling terdalam dan fundamental tentang “kita adalah makhluk” dengan pintu gerbang ketauhidan.

Menyadari kemakhlukan kita secara singkat adalah menyadari tentang adanya Tuhan sebagai pencipta yang secara otomatis memegang segala otoritas atas apa yang dicptakan. Dengan meyakini dan menghayati kemakhlukan, maka manusia tidak akan pernah merasa bahwa dia adalah penguasa yang berhak atas apa saja di muka bumi ini. Seluruh sifat-sifat yang tak seharusnya dia lakukan akan meleruh dan melebur ke dalam kemakhlukan. Dengan ini pula dia akan menyadari keterbatasan serta tunduk pada-Nya dalam setiap keadaan. Dengan ini pula, seseorang akan berupaya agar seluruh aktivitasnya selalu berada pada jalur seorang abid tiada lain.

Misi Islam selanjutnya, selain menyadarkan bahwa dia adalah makhluk dari al-Khaliq, adalah menegaskan kepada manusia bahwa “dia ada di dunia”. Filsuf eksistensialisme Jerman, Martin Heidegger menggunakan istilah bermakna sama untuk poin ini dengan “dasein inder welt sein”. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari fakta bahwa kita, manusia, Annas dalam bahasa Arab atau Dasein dalam bahasa Jerman. Namun, keduniaan yang hari ini meruangwaktukan manusia dalam sebuah realitas duniawi telah melemparkan manusia dalam sebuah keadaan yang penuh dengan misteri. Dari sinilah kita bisa melihat bagaimana Islam ingin menyadarkan manusia tentang keduniannya.

Kita seringkali bahkan –bisa jadi- hampir setiap penutup doa dalam hal apapaun selalu membaca ayat dalam al-Quran yang bermakna “Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan akhirat serta selamatkanlah kami dari siksaan api neraka”. Kebaikan dunia disebutkan pertama dari kebaikan akhirat, hal ini menegaskan bahwa keduniaan manusia menjadi begitu penting dalam Islam, karena dari dunia lah segala hal yang berkait erat dengan akhirat serta keselamatan dari api neraka bergantung. Sedemikian pentingnya, dunia sehingga ayat-ayat duniawi yang mencakup sejarah dan muamalah lebih banyak dari ayat-ayat yang di dalam al-Quran.

Keduniaan dalam pandangan Islam bukanlah sekadar tempat manusia mencari nafkah, membangun rumah dan menikmati segala hal yang menjadi perhiasannya. Namun, dunia berfungsi bak ladang bagi kehidupan kedua yakni akhirat. Dakwah Rasulullah pada periode Madinah boleh kita kelompokkan sebagai dakwah untuk menunjukkan dan menyadarkan tentang keduniaan manusia. Beliau membangun peradaban dan mengajarkan nilai-nilai luhur bagaimana seharusnya hidup dalam sinaran al-Quran yang kesemuanya adalah misi untuk membangun kualitas hidup duniawi seseorang. Jika kehidupan dunianya sudah berkualitas, maka secara langsung panel dengan kualitas ukhrawi-nya.

Konsep ukhrawi atau keakhiratan diajarkan oleh Islam satu paket dengan kemakhlukan. Dengan menjadikan keimanan kepada yang gaib sebagai fondasi, Islam menegaskan bahwa yang gaib memancar cahayanya kepada yang nyata. Demikian, bahwa yang nyata adalah pancaran dari yang gaib adalah analog dengan kesimpulan bahwa “dunia adalah pancaran akhirat” atau “makhluk adalah ada di dunia”. Kesimpulan-kesimpulan itu berujung pada satu kenyataan bahwa “beriman kepada al-Khaliq akan memunculkan kemakhlukan seseorang, akan melahirkan pula kesadaran akan keduniaanya yang dipancarkan oleh yang gaib”.

Akhirat yang merupakan pancaran dunia menjadi alasan kenapa manusia harus hidup di dunia ini dengan sebenar-benarnya dan tetap menjadi abid bagi Allah. Singkatnya fase kehidupan di dunia fana ini telah menjadikan akhirat sebagai alasan bahwa apa yang dikerjakan oleh manusia walau sedikit akan tetap dipetik buahnya di kehidupan kedua nanti. Tanpa adanya alam akhirat, maka singkatnya dunia ini tak akan pernah berarti bagi siapapun. Demikian dalam Islam, dunia bukan hanya sekadar ladang untuk menumpuk materi dan membangun kerajaannya sendiri, tapi sebagai sarana untuk mencari bekal untuk sebuah perjalanan maha panjang dalam fase hidup berikutnya. Pernahkah Anda bayangkan jika saja alam akhirat tidak pernah ada, hendak ke mana kita pasca hilangnya nyawa dari diri? Untuk apakah segala hal yang kita kerjakan? Tak adakah bekas yang bisa kita nikmati dan membuat kita terus hidup?

Sisi keduniaan makhluk yang bernama manusia telah menjadi alasan mengapa Islam sebagai sebuah misi suci diturunkan. Dunia tempat berpijak adalah ladang manifestasi Rahmat Allah bagi semesta. Dalam rangka penyebaran rahmat inilah, Allah mengutus manusia agar memimpin segala hal yang ada di muka bumi ini. Segala apa yang terjadi atas bumi tentang kerusakan flora dan fauna, di darat dan laut bahkan hari ini kerusakan juga melanda udara adalah tanggungjawab manusia sepenuhnya. Hablun minannas (hubungan sesama makhluk) tak hanya berbicara bagaimana hubungan manusia dengan manusia, tetapi dengan seluruh yang ada jagat raya ini termasuk binatang, tumbuhan bahkan yang di luar angkasa.

Allah melalui agama Islam ingin membimbing hamba-Nya agar menjadi manusia dengan kedalaman intelektualitas serta spiritualitas. Intelektualitas terpancar pada perangkat duniawi yang dibekalkan oleh-Nya berupa emosi (rasa) dan rasio (akal), sedangka spiritualitas akan menyinari dua perangkat tadi agar mampu mengarahkannya menuju insan paripurna di dunia maupun di akhirat. Keimanan mengambil pion penggerak bagi keindahan hidup manusia.

Mungkin seseorang akan sukses di dunia dengan alat-alat yang diberikan oleh Allah secara cuma-cuma itu. Namun, jika spiritualitas tak tampak di sana, kegelapan akan segera menyelimuti. Bukankah banyak kita saksikan, orang-orang dengan titel akademik memukau, jabatan politis menyilau, kekayaan harta membuai dan beragam kejayaan yang aduhai, tapi tak mampu membawanya pada sebuah ketenangan. Nafsu serakah berkuasa, korupsi menjadi-jadi serta kelakuan tak terhormat lainnya adalah sebuah bentuk dari kebingungan eksistensial dari dirinya. Keimanannya tak mampu mempertegas kemakhlukannya, kemakhlukannya tak menyinari keduniannya.

Demikianlah, misi sederhana yang dibawa oleh Islam melalui Nabi Muhammad terlihat sangat singkat namun begitu eksistensial. “Manusia adalah makhluk di dunia”.

 

*Penulis adalah pecinta damai

Tinggalkan Balasan