fbpx
Home / Catatan Ringan / Jika Kita Islam

Jika Kita Islam

Ilustrasi : renunganislam

Oleh : Khoiril Arif Ya’qub*

Jika pun kita sama-sama meyakini misi Islam adalah merahmati seluruh alam, marilah kita mulai menyadari bahwa Islam telah membuka harapan hidup yang lebih baik bagi setiap umat. Jika pun Islam dijadikan tonggak sejarah sebagai hari dimana perempuan dinaikan derajatnya, kita perlu menyadari pula bahwa Islam adalah agama ramah perempuan. Dan jika poligami dijadikan sebab perihnya sebuah perasaan dalam persoalan inilah Islam menjadi bencana bagi perempuan.

 

Hari itu aku merasa telah kehilangan Agamaku sendiri, membaca halaman fans page yang penuh melulu menampilkan kebaikan berpoligami. Ucapan itu segera dapat ditangkap maknanya bahwa Islam begitu keras terhadap dan tidak bersahabat dengan perempuan. Islam begitu digunakan untuk membius sebagian besar masyarakatnya sehingga pemeluknya tunduk dan patuh terhadap kepentingan. Dengan janji-janji surga, Islam kemudian mampu mengalihkan perhatian mereka yang menderita dari penyebab penderitaan yang sebenarnya. Sebab mereka kemudian lebih mengharapkan balasan berupa kenikmatan akhirat kelak yang akan dibayar lunas bahkan dengan bonus berlimpah. Dengan cara yang sama pula kaum lelaki bisa menggunakan Islam untuk memperoleh keuntungan dari kaum perempuan.

 

Memudahkan poligami dengan mengatasnamakan Islam hanya karena nafsu. Mengatasnamakan Sunnah Nabi hanya Karena selangkangan. Ini lho mungkin alasan Ibu Menteri Susi menyuruh kita makan ikan, agar tidak dangkal-dangkal amat. Ketahuilah pernikahan Rasul untuk beristri lebih dari satu merupakan perintah langsung dari Allah Ta’ala sedangkan kita, atas perintah siapa?? Sedang nafsu masih terus memunggungi cahaya ilahi.

Perilaku berpoligami tentu saja atas dasar merasa kuasanya makhluk yang bernama lelaki itu. Terlebih dengan banyak didukungnya dalil-dali Agama untuk membenarkan.

 

Karena sifat kuasanya lelaki, aku juga sempat membayangkan bagaimana kalau seandainya lelaki diciptakan dari rontokan rambut perempuan bukan seperti metamorfosis sejarah sekarang ini yang mengatakan perempuan tercipta dari sebuah tulang rusuk lelaki. Coba seandainya perempuan dulu yang tercipta, kemudian ia membujuk pada Tuhan untuk diciptakan baginya seorang teman yang berbeda dengannya. Lalu Tuhan merestui kemudian Ia meniupkan napas kerambutnya yang tergerai. Satu rambut rontok dan jadilah makhluk yang bernama lelaki. Lalu datanglah iblis yang menyamar memberi tahu kepada lelaki bahwa ada sejenis daun yang sangat enak untuk dihisap. Daun itu kelak diberi nama Dji Sam Soe. Kemudian lelaki itu meminta dengan matanya yang memelas pada si perempuan agar mengambil daun tersebut untuknya. Sedangkan si perempuan tetap tak mau tergoda, sebab Tuhan telah berpesan untuk jangan sekali-kali memetik daun tersebut yang kelak bernama Dji Sam Soe itu. Ah.. seandainya saja ceritanya demikian, sayang Tuhan tak melakukan hal tersebut.

 

Begitu getolnya mengampanyekan poligamai malah justru mengingkari bahasa Rahmatan lil ‘alamin. Ini bukan soal menikah dan bisa ho’oh saban malam harinya. Bahwa ada hal penting yang perlu ditampilkan yakni prihal adab atau tatakrama bukankah diutusnya Rasul Muhammad adalah untuk menyempurnakan akhlak sebagaimana dalam ayat innama buitstu li utammima makrim al-akhlak.

 

Yang dimaksudkan adalah salah satu fitrah Allah yang perennial itu ialah bahwa manusia akan tetap berbeda-beda sepanjang masa. Kesatuan umat manusia adalah suatu hal yang berkenaan dengan kesatuan harkat dan martabat manusia itu, antara lain karena menurut asal muasalnya manusia adalah satu karena diciptakan dari jiwa yang satu. Oleh karenanya tampak bahwa “mereka” terlampau menguras tenaga dengan demi dapat berpoligami. Sebagai makhluk sosial ada hal yang lebih patut untuk tidak dilupakan, yakni prihal adab.

 

Dalam bada i’uzzuhur Abu Zayd Al-Bulkhy berpendapat bahwa ilmu (makhorijul ulum) itu terbagi menjadi empat yakni ilmu Rofi’, ilmu Sati’, ilmu Nafi’, dan ilmu Wadi’. Adapun ilmu adab termasuk dalam ilmu Sati’ atau kalau dalam bahasa jawa disebut ilmu cumeleret.

 

Bidang adab adalah bidang yang sering dilupakan oleh umat Islam (lagi-lagi saya katakana tidak semua loh). Padahal dalam bidang yang luas ini ada banyak kesepakatan antara umat islam. Namun disadari energi umat Islam lebih tercurah pada soal akidah dan fiqih, sementara melupakan adab.

 

Bidang adab ini umumnya umat Islam sepakat dalam banyak sekali hal. Misalnya, semua orang Islam sepakat bahwa hal-hal berikut ini adalah salah dan orang yang melakukannya berdosa: berbohong, menyakiti hati orang lain, mengingkari janji, merendahkan martabat orang lain, tak menghormati tamu, tak menghormati orang tua, mencederai hak-hak tetangga, dan seterusnya.

 

Bagi Nurcholish Madjid, amal perbuatan manusia yang bersifat mengedepankan tindakan untuk kemasalahatan kemanusiaan merupakan akibat logis dari keimanan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Baginya, manusia harus menyatupadukan orientasi ketuhanan (teosentrisme) dalam kegiatan hidup atau amal. IniIah yang dimaksud dengan hablun minallah wahablum minannas. Apa pun alasannya, bagi tokoh yang dijuluki Guru Bangsa ini, iman kepada Tuhan, selain membuahkan emansipasi kemanusiaan bagi sang mukmin, juga akan memengaruhi pola-pola  relasi kemanusiaan.

 

Keberagaman yang berorientasi pada cinta lebih menekankan sifat sifat ketuhanan yang lembut, seperti Asma’ Nya Al-Rahman dan Al-Rahim (maha kasih sayang). Hanya dengan cinta kita bisa bertemu dengan orang-orang lain. Dengan ditampilkannya sifat ini tentu akan sesuai dengan misi yang ditawarkan Islam, tidak hanya bagi bumi tapi seluruh semesta raya.

 

Oke, oke mungkin pelaku poligami sanggup berbuat adil. Tapi ingatlah dunia dan kehidupan ini seringkali sangat tidak adil.

 

*Penulis adalah Pengangguran 

Tinggalkan Balasan