fbpx
Home / Catatan Ringan / Beragama ala Mie Instan

Beragama ala Mie Instan

Ilustrasi Surialisme : Forum Liputan 6

Oleh : M Hasani Mubarok*

Sayyidina Ali Karramallahu wajhahu dibunuh oleh seseorang yang sangat alim, hafal al-Quran 30 Juz dan rajin melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. Beliau dibunuh setelah dianggap murtad oleh karena menerima arbitrase untuk berdamai dengan pasukan Muawiyah Bin Abi Sofyan. “Arbitrase ini tidak pernah ada landasannya dalam al-Quran!”, begitu teriak mereka. “La hukma illa lillah (tiada hukum selain hukum Allah) yang lain menimpali. Mungkin nadanya hampir sama dengan dengung-dengung para Dai tv Roja, “itu bid’ah karena tidak ada di zaman Rasul”.

Menerima arbitrase berarti sama dengan mengamalkan suatu bentuk hukum yang tak pernah dikerjakan oleh Rasulullah Saw di zamannya. Dengan begitu dua pihak yang melakukannya dihukumi secara massal oleh kelompok Khawarij sebagai kafir. Salah satu dari pentolan ormas inilah yang kemudian secara diam-diam dan penuh perhitungan sukses membunuh Sayyidina Ali di suatu subuh yang sejuk. Dia Abdurrahman Bin Muljam.

Sebenarnya, motif apa yang mendasari Ibnu Muljam ketika dia meyakinkan dirinya bahwa tindakan pembunuhan itu harus dilakukan? Kita tak perlu berbicara tentang situasi politik panas yang menyaingi panasnya gurun pasir Arab pada waktu itu, karena pasca Rasulullah wafat, politik identitas atas nama Qabilah kembali mengemuka di sana. Kita hanya perlu mencari inspirasi terbesar yang dimiliki oleh Ibn Muljam terhadap tindakannya.

Agama, di dunia ini adalah faktor paling penting dan urgen serta mampu menembus sekat-sekat apapun, membelah laut, menghijaukan gurun bahkan mengubah semak belukar jadi gedung-gedung mencakar selain motivasi yang diberikan oleh agama. Tahukah Anda, bahwa di pedesaan terutama di daerah yang masih terisolir dari keangkuhan kehidupan kota, bahwa seorang pedagang kain sarung yang sebenarnya (sarungnya) dengan mudah bisa kita dapatkan di Pasar Rakyat Tengah (Kapuas) cukup bermodal dandanan ala Pak Ustadz atau membawa embel-embel nama seorang Kiai Masyhur sebagai keluarganya mampu menjual barangnya dengan harga yang lebih tinggi ketimbang kita ke pasar.

Kejadian terakhir, jualan sorban dan kemennyan menjadi pilihan banyak ustadz-ustadz adalah fenomena betapa simbol-simbol agama begitu kuat daya tariknya bagi masyarakat –khususnya pedesaan-. Di sini kita tidak sedang mengkritisi para pelaku dagang yang demikian, karena di dalam Islam itu seolah sudah mentradisi. Sebagian guru ngaji kurang afdhol rasanya jika tak menjual barang-barang itu. Pengunaan simbol-simbol agama baru-baru ini telah sukses diciduk oleh karena modus di dalamnya yang terlalu besar. Mulai dukun cabul berkedok tukang Rukiyah, mereka tak kalah kondang dengan maling berkedok anggota dewan itu.

Motivasi agama juga mampu dijadikan sebagai kendaran politik layak parpol bahkan lebih sadis dan radikal lagi gerakan mereka sampai menggunakan istilah tamasya. Masih ingat kasus DKI dan pilgubnya yang sangat kacau? Tujuh jutaan umat islam mampu diprovokasi dengan mudah agar bergerak mengelilingi munas bagai tawon mengelilingi sarang. Uang berapapun mereka gunakan untuk ke sana karena agama dijadikan sambaladonya. Gaya berfikir instan dalam agama telah membuat sebagian saudara kita yang mulia itu tiba-tiba terserang ayan hingga tak sadar bahwa banyak aktor politik bertanduk setan tengah bertepuk tangan penuh bangga. Mari elus dada!

Begitulah posisi agama hari ini yang banyak dipahami dengan nalar instan minimal tampak pada orang yang seringkali jualan nama Tuhan di pinggir-pinggir jalan. Dikatakan instan karen nalar yang mereka gunakan, Islam – aksi bela Quran – pesta seks di surga. Nalar instan juga bisa berwujud seperti ini, Islam – salat – surga dan Anda bisa menambahkan contoh yang lain, di mana agama hanya menonjol pada sisi laku formal belaka. Gaya berfikir seperti ini sama dengan gaya berfikir sebagian wanita berhijab “syar’i” ketika hendak memilih pasangan hidup, nalar yang dipakai juga tak kalah instan, cowok Islami = yang tidak merokok. Subhanallah Ukhti!

Gaya berfikir serba instan seperti ini tak jarang telah mengikis peran intelektualitas dalam pentas berislam kita hari ini. Banyak sekali masyarakat yang hanya bermodal ikut majlis ta’lim kemudian terjebak dalam sebuah kubangan pemahaman yang sebenarnya tak pernah dipahaminya dengan baik dan utuh sebagaimana mestinya. Kita tentu masih ingat dengan Imam Samudera yang pada saat dieksekusi mati saya masih duduk dibangku SMP sekitar kelas delapan. Orang ini memiliki sebuah pemahaman jihad yang kelewat ekstrem, sangat jauh dari semangat al-Quran yang mengajarkan manusia agar bersifat layaknya eskrim, lembut dan manis, bukan?

Kembali ke Imam Samudera, orang yang terlibat dalam kasus Bom Bali ini adalah jebolan Pesantren Kilat, di mana salah satu gurunya adalah orang yang begitu radikal dalam memberikan pemahaman dan konsep jihad kepada santrinya termasuklah Imam Samudera di dalamnya. Imam Samuder yang sebenarnya bukan nama asli ini juga menggunakan nalar yang hampir sama digunakan oleh orang-orang di atas. Islam – nge-bom Bali – Bidadari Surga. Untuk masuk surga dan beroleh bidadari molek di dalamnya itulah banyak orang yang ikuta-ikutan menggunakan skema berislam seperti ini. Yang pertama teralienasi dari gaya berfikir ala mie instan seperti ini tentu adalah nasi (pulen dan putih) atau intelektualitas.

Memahami Islam seolah sudah tak penting lagi memahaminya dengan bermodal seabrek pengetahuan guna menopang kecakapan intelektual. Pemahaman keislaman seperti Jihad, ulama dan dakwahnya tak berguna dipahami dengan berdaki-daki lagi. Yang penting ikut apa yang disampaikan guru, maka surga sudah dikavling. Walhasil, ilmu Ushul Fiqh, Siroh, kajian atas Turots, termasuk berbagai perspektif lain yang timbul dari perdebatan-perdebatan dan perkembangan pemikiran modern tentang Islam, negara, demokrasi dan isu-isu lain dianggap hanya sebagai debu yang sewaktu-waktu bisa membutakan mata untuk melihat yang jernih dari Islam. Jika pandangan keislaman sudah tak lagi jernih, paha mulus bidadari surga semakin tak tampak di pelupuk mata.

Berislam tanpa berintelektual hanya terbukti banyak menelurkan orang-orang seperti Abdurrahman Bin Muljam. Di mana Islam hanya dipahami sebagai sebuah sperangkat doktrin tanpa ilmu yang mengawal bahkan memperhalusnya. Rasulullah Saw jauh-jauh waktu bahwa “al-ilmu diin, fa undzuru amman ta’khudzuuna diinakum. Artinya begini “ilmu itu agama, maka perhatikanlah dari mana kamu mengambilnya. Ingat pula di ayat-ayat pertama yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad, bahwa Dia adalah dzat yang mengajarkan manusia dengan pena serta mengajarkan manusia apa saja yang tidak ia ketahui!.

Hadis Rasul dan ayat-ayat itu setidaknya menegaskan kepada seluruh manusia khususnya umat Islam tentang posisi pentingnya ilmu (intelektual) guna menyelami samudera agama yang begitu luas. Tak bisa agama dipisahkan dari sisi intelektual, karena pemisahan ini hanya akan membuat agama sakit. Bayangkan, jika ajaran tentang salat yang sebegitu simpel penjelasannya dalam al-Quran serta begitu beragam interpretasinya dalam hadis dan kalam Ulama, jika kecakapan intelektual tak kita miliki, apakah yang harus kita lakukan guna melaksanakan perintah salat? Satu-satunya cara, dengan bermodal kecakapan intelektual standar kita, maka taqlid kepada guru-guru serta kitab-kitab syafi’iyyah menjadi jalan keluar.

Apalagi dengan konsep jihad yang sebegitu kuat narasinya dalam ingatan umat Islam bahwa jihad adalah berperang melawan kemungkaran. Apa yang akan dilakukan oleh Ibn Muljam zaman sekarang ketika menemukan ayat-ayat seperti ini atau hadis bahkan pendapat-pendapat ulama bersambung dengan fenomena kemungkaran di sekelilingnya? Saya yakin, Ibn Muljam baru ini akan masuk ke bilik kamarnya dan mulai mengasah parang lalu masuk ke pusat-pusat kemungkaran. Pemandangan berbeda dengan Sayyidin Ali zaman sekarang, dia masuk untuk membuka lagi-lagi kitab-kitab dan bukunya lalu bersila dengan baik guna meresapi nilai apa saja yang ingin dicapai Islam dalam perintahnya untuk berjihad. Jika Nabi Muhammad adalah Kota Ilmu, Sayyidina Ali adalah pintu gerbangnya.

Sebegitu besar posisi ilmu dalam Islam karena fungsinya sebagai jurumudi bagi berjalannya bahtera agama dan seluruh perangkat ritual yang melekat di sisi-sisinya. Tanpa kehadiran ilmu, maka agama hanyalah doktrin-doktrin yang tak memiliki nilai apapun bagi alam dan sekitarnya bahkan bagi manusia itu sendiri. Rangkaian ritual yang mengikat manusia lama-kelamaan akan mengalami titik kejenuhan, jika proses pengangkatan nilai-nilainya terhenti. Dalam proses pengangkatan dan penggalian nilai-nilai inilah ilmu memainkan perannya. Memberikan landasan, memberikan arahan bahkan memberikan warna bagi agama sampai hari ini.

Terakhir yang harus kita ketahui, mie instan itu mengandung banyak zat kimia yang jika dikonsumsi secara berlebihan akan mengakibatkan kerusakan bagian-bagian vital anatomi tubuh. Berbeda dengan nasi, rasanya yang tawar membuat selera manusia Indonesia tahu kapan harus makan nasi dan dengan apa ia harus disandingkan.

Abang pilih yang mana? Kata Cita Citata dalam lagunya “Perawan atau Janda”. Nasi atau mie instan? Saya menutup dalam diskusi ini. (MHM)

 

*Penulis adalah Pecinta Damai

Tinggalkan Balasan