fbpx
Home / Opini / Pesan Reflektif Nabi di Balik Gerhana

Pesan Reflektif Nabi di Balik Gerhana

tribunnews.com

Oleh : M Hasani Mubarok*

Peristiwa gerhana matahari atau bulan merupakan peristiwa alamiah yang tak rutin terjadi sehingga begitu spesial. Memori hangat dalam ingatan kita peristiwa Gerhana Matahari Total yang terjadi pada tahun 2016 lalu. Ribuan massa memadati titik-titik tertentu agar menjadi bagian dari saksi sejarah yang menyaksikan peristiwa ini secara langsung. Semua orang terkesima penuh takjub oleh karena ditampilkan di hadapan mereka sebuah fenomena alam yang begitu memukau. Demikian pula, bulan awal 2018 ini gerhana bulan menyambut seolah menyiratkan tanda agar manusia benar-benar mampu untuk menerjemahkan dua fenomena ini dengan seksama.

Secara teologis, fenomena ini jauh-jauh waktu sudah direkam oleh al-Quran dan Hadis. Sehingga bagi umat Islam yang mendapati peristiwa gerhana ini disunnahkan untuk melaksanakan salat sunnah Kusuf dan Khusuf. Hal ini dipilih oleh Islam mengingat beredarnya mitos-mitos purbakala yang mengelilingi dua fenomena alam itu. Di Indonesia contohnya, kepercayaan bahwa matahari atau bulan yang sedang mengalami gerhana karena dimakan oleh serigala atau raksasa. Akibatnya, orang-orang dahulu sesegara mungkin membuat kebisingan di bumi dengan memukul dan menabuh apapun sehingga hingar bingar segera membahana memekak.

Di daerah Timur Indonesia khususnya daerah Ternate dan Tidore mengenal sebuah tradisi Dolo-dolo pada saat peristiwa Gerhana. Tradisi untuk memukul sekaligus membangunkan seluruh makhluk yang ada di bumi agar menolong rembulan atau matahari yang sedang dimangsa oleh raksasa rakus. Tak hanya itu, di era kegelapan Eropa misalnya, mitos bahwa gerhana disebabkan oleh pertarungan antara dua srigala juga menjadi bagian dari mitos purbakala. Hampir semua peradaban yang ada dan pernah di dunia menanggapi peristiwa gerhana ini dengan berbagai aktivitas tak biasa dan mistik, tak kecuali Arabia yang waktu itu masih diselimuti kabut jahiliyah sebelum Islam datang berikut rahmatnya.

Sebuah kepercayaan sempat beredar di bumi Arab ketika meninggalnya Putra dari Nabi Muhammad Saw yang bernama Ibrahim Bin Muhammad. Gerhana yang secara mendadak terjadi segera ditafsirkan oleh penduduk Arab dengan nalar metologis “bahwa gerhana ini disebabkan semesta turut bersedih atas meninggalnya Ibrahim”. Mendengar hal itu Rasulullah memberikan respon dengan sebuah hadis masyhur yang tercantum di dalam Kitab Sohih Bukhori sebagai berikut:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat (tanda) di antara ayat-ayat Allah. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena hidup (lahirnya) seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoalah kepada Allah dan sholatlah hingga tersingkap kembali.

Anjuran Rasul dalam hadis itu tidak hanya sekadar bermuatan perintah sunnah untuk melaksanakan salat sunnah ketika terjadi gerhana, lebih jauh hadis itu merupakan argumentasi yang kuat dalam rangka menggugurkan segala macam mitos yang berkembang pesat di tengah masyarakat Arab pada khsususnya dan umat Islam secara umum. Dengan penegasan bahwa gerhana adalah salah satu dari sekian tanda kebesaran Allah di muka bumi ini menjadi poin penting bagi timbulnya kajian mendalam terhadap ayat-ayat kauniyyah di dalam al-Quran. Dengan adanya gerhana, seolah Allah sedang ber-tajalli di tengah kepongahan manusia, bahwa tiada yang lebih kuasa dari-Nya dalam mengatur dan menentukan segala sesuatu yang terbentang di semesta raya ini.

Poin selanjutnya yang dinarasikan dengan jelas dalam hadis itu adalah bahwa gerhana tidaklah terjadi oleh karena kelahiran atau kematian seseorang. Kata singkat ini telah mematahkan mitos yang berkembang pada saat itu tentang penafsiran mitologis terhadap meninggalnya anak laki-laki Nabi Muhammad . Setelah pada penggal kalimat pertama Nabi menjelaskan alasan rasional dan jauh dari unsur mitos, melainkan adalah tanda (ayat) kebesaran Allah yang harus dikaji oleh manusia. Segera setelah itu Beliau menjelaskan bahwa tiada keterkaitan antara gerhana dengan hal-hal yang sifatnya irrasional dan hanya berdasar pada purbasangka belaka. Hal ini sangat cocok jika kita paralelkan dengan realita mutahir tentang betapa purbasangka (hoax) dalam pola mengkonsumsi informasi terhadap suatu hal menjamur kembali bak cendawan musim hujan.

Pelajaran selanjutnya dari Hadis Nabi di atas adalah anjuran beliau agar siapapun dia yang menyaksikan gerhana baik matahari atau bulan agar bersegera berdoa dan melaksanakan salat sunnah kusuf  bagi matahari dan Khusuf  bagi bulan. Poin ketiga ini memang terlihat tak memiliki alasan rasional bahkan terlihat begitu dogmatis jika dipahami secara literlek. Namun, jika kita mau membaca dengan serius tiga narasi singkat padat dari hadis di atas, kita akan bisa menyimpulkan, bahwa gerhana yang merupakan gejala alamiah dan jauh dari unsur mitologik adalah kumulasi dari sebuah pementasan Kuasa Allah atas segala hal yang ada di jagat raya ini. Orang akan bergetar dan benar-benar tersadar, bahwa tak selamanya matahari akan bersinar demikian pula rembulan. Semuanya dengan mudah untuk dipadamkan dengan kuasa Allah yang tiada bertepi.

Drama singkat tertutupnya matahari atau rembulan adalah bukti bahwa bumi ini bergerak dan digerakkan oleh dzat yang Maha Tinggi dan Kuasa. Demikian, kehidupan manusia juga berada di bawah naungan kuasa-Nya. Pergerakan jagat raya yang demikian teratur ini sesungguhnya dengan begitu mudah bisa dibuat luluh lantak, tumpang tindih dan hancur tiada sisa hanya dengan sekejap. Perintah Nabi agar umat Islam berdoa dan melaksanakan salat adalah sebuah perintah yang mengharuskan seseorang pemimpin, rakyat jelata, Kiai, penegak hukum dan semua orang yang masih dikaruniai akal sehat untuk bersujud sejenak dan mulai menyadari “adalah Dia di atas segalanya”.

Di tengah meluruhnya berbagai nilai-nilai kehidupan hari ini, di tengah pongahnya para penguasa, di antara desas-desus mulut bau para politisi yang merimbuni jagad media, di tengah noraknya kelakuan para pencuri hak rakyat, Allah menegur hamba-Nya dengan dua kali Gerhana dengan jarak waktu yang tidak begitu lama. Gerhana matahari total 2016 dan Gerhana bulan di awal 2018 mungkinkan sekadar gejala alam yang tiada menyimpan pesan? Bukankah sering kita dengarkan pesan yang begitu jelas dalam al-Quran bahwa tiada satu ayatpun yang diturunkan oleh-Nya melainkan sebagai peringatan dan petunjuk bagi manusia? Wallahu a’lam.

*Santri Ponpes Aljihad, Sui Jawi-Pontianak Barat.  

Check Also

“Ayo Menanam” Dalam Hadapi Krisis Corona

Oleh: Dr.Yusriadi, MA Ketua PW ISNU Kalbar Sore itu di akhir Maret 2020, di Group …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com