fbpx
Home / Seni Budaya / Kompetisi Simpang Jalan

Kompetisi Simpang Jalan

foto: sejambakmawar

Oleh : M Hasani Mubarok*

Sumpah serapah membanjiri sesak jalan raya sore kemarin. Tepat di simpang empat jalan Sultan Hamid, Tanjung Raya 1, jalan Tanjung Raya II seorang ibu dengan motor metic hampir saja terjatuh akibat tubrukan ringannya dengan motor Satria F. Anak muda yang mengendarai motor tergesa-gesa dan ugal-ugalan tak memperdulikan sumpah serapah si ibu yang segera disambut dengan pekikan klakson motor-motor dan mobil. Seekor kucing yang terlihat sedang mengeluarkan isi perutnya mendadak terhenti karena terkejut oleh omelan si emak-emak berkerudung renda-renda.

Daku turut kesal dengan apa yang dilakukan oleh anak muda berpakaian rapi yang menorobos lampu merah itu, untuk melampiaskan kekesalan tak mau kalah kupencet dengan keras klakson motor bututku, sebelum aku sadar ternyata klakson itu sudah tak berfungsi sekitar 3 tahun yang lalu. Kesal dan gegabah ternyata bisa membuat seorang lupa ingatan.

Setelah suasana reda, polisi berseragam lengkap dengan pluit menggelang di tangan kirinya bergegas ke pertengahan jalan dan memberi isyarat agar orang kembali fokus ke jalan yang sedikit demi sedikit mulai reda. Sumpah serapah emak-emak yang tadinya memporak-porandakan susana macet telah hilang, seekor kucing yang ketika kegaduhan melanda menggagalkan agendanya untuk buang kotoran di tumpukan pasir di pinggir jalan, kembali membuat lubang untuk menyembunyikan kotoran khasnya.

Kehadiran polisi berkumis tebal menutupi kulit bibirnya telah berhasil membuat stabil kembali perjalanan. Meski demikian, tetap saja ada orang yang berseloroh kesal “Polisi nih kalo udh selesai baru gak nak turon” tutur seorang lelaki berpakain bak tukang bangunan dengan dialek khas Melayu Pontianak. Ingin rasanya daku menghibur lelaki yang lebih tepat kupanggil bapak itu dengan sebuah nyanyian akrab nan mesra di telinga kita, sebuah penggal lirik dari lagu berjudul Dari Sabang sampai Marauke yang kutempelkan mesra di telinganya “i-tu-lah In-do-ne-sia”.

Namun semua itu daku urungkan, karena lampu hijau dan mata polisi itu mulai mengamati kelengkapan motor satu persatu. Daku menghilang bersama motor butut di tengah himpitan motor-motor besar lainnya. Setelah menghilang dan tak terlacak oleh polisi, daku dapat mengendarai motor tuaku -yang secara administrasi tak dapat dipertanggungjawabkan- dengan lebih tenang dan santai.

Lepas dari persimpangan jalan bagiku seperti baru saja terselamatkan dari berbagai petaka. Gambaran lampu merah yang bersinar sayu penuh angkuh, belum lagi CCTV yang menggantung bak mata malaikat pencatat dosa, segerombolan polisi berwajah garang nyaris tanpa senyum, belum lagi budaya menerobos masih saja marak dilakukan jika polisi sekitar masih sibuk menyeruput kopi. Saling rebut peluang adalah wajar di tengah persimpangan, jika polisi tak pernah ada, kita tak tahu bagaimana seharusnya kompetisi perebutan lampu hijau dan perebutan peluang menerobos lampu merah dilakukan oleh ratusan pengguna jalan itu sepanjang harinya. Ketika seperti ini, masih perlukan lampu komando di jalan?

Dalam keseharian sebagai pengguna jalan, persimpangan adalah momen paling krusial bagi pengendara untuk berlomba. Ketika lampu merah, maka pengendara barisan depan akan mencari peluang agar sebisa mungkin menerobos dengan catatan tak ada polisi yang biasanya mengambil posisi di tengah. Yang barisan belakang, melihat lampu merah hampir selesai, segera memacu lebih kencang gas motornya agar bisa memperoleh jatah lampu hijau lebih dahulu. Demikian pula ketika lampu hijau, orang-orang akan memacu motornya sedemikian kencang, agar lampu hijau tak keburu memerah. Ketika lampu merah adalah sebuah komando untuk isyarat kompetisi, maka semua orang adalah kompetitor.

Dunia kompetisi tak benar-benar erat dengan nilai-nilai atau kode etik yang seharusnya diserap dengan baik oleh otak manusia. Ketika peluit kehidupan ditiup, seseorang akan berlari kencang meninggalkan lainnya tak perduli apa yang akan terjadi. Solidaritas dan kepedulian sosial jadi begitu mahal harganya. Individualitas akan menjamur, pragmatisme kebenaran mengangkangi segala hal ihwal, nilai-nilai luhur terjungkal berganti digantikan oleh nihilisme kepongahan.

Di persimpangan jalan, manusia terburu-buru ke segala tempat yang dituju sedang berlomba-lomba menuntaskan segala birahi dan ambisi. Lampu merah hanya benar-benar berfungsi jika Pak Polisi tanpa senyum berdiri tegak di tengah polusi dan sengatan matahari. Kita saksikan, betapa laku sosial pengendara baru muncul jika peluit melengking berderai di antara sahut – sahutan knalpot mesin. Mungkin Marx ada benarnya bahwa manusia terasing dari sosialitasnya. Berlaku sosial hanya karena peluit pak polisi terdengar begitu menyeramkan. Ketika seperti ini, ke manakah fikiran dan hati yang membedakan kita dengan binatang?

Berpagi-pagi, para Filsuf Muslim –utamanya Neo-Platonik seperti Ibnu Sina , al-Farabi dan lainnya- telah memberikan perhatian yang serius terhadap dualisme sistem yang bekerja secara independen bagi manusia ini, bahkan mereka menamainya dengan intelegensi manusia itu sendiri. Belakangan, dunia Psikologi memperkenalkannya dengan dua istilah, emosional (hati) dan rasional (fikiran / otak). Atau mengikuti istilah yang diberikan psikolog University of Virginia yaitu Jonathan Haidt, guna mengartikulasikan kerja dari dua sistem itu. Emosional diandaikan sebagai gajah (Elephant) sementara sisi rasional adalah Pawang (Rider).

Dalam menjalankan kompetisi kehidupan, dua sistem ini harusnya menjadi modal utama. Ketika emosional (gajah) yang begitu kuat hasrat dan keinginannya telah membuai manusia untuk menikmati dan merasakan segala hal, rasio bertindak sebagai pawang yang bertugas mengarahkan bagaimana harusnya hal demikian ia lakukan. Untuk menjadikan seekor gajah jinak dan bertindak sesuai intruksi saat pagelaran sirkus, seorang pawang mempersiapkan segala hal dan menimbang segala macam kemungkinan agar penampilan si gajah bisa maksimal dan menghibur.

Simpang empat jalan adalah titik di mana pengendara memilih hendak ke mana laju kendaraan diarahkan. Dengan berbekal dua sistem intelegensia yang konsisten bekerja itulah manusia akan selamat dari keterasingan sosialnya. Dia akan menjalankan kompetisi berebut lampu komando dengan sehat, emosi yang mengantarkan hasrat seseorang untuk melanggar, ugal-ugalan dalam berkendaraan apalagi sampai menyerempet emak-emak akan tertolong oleh pawang agung yang bernama rasio.

Akhirnya, kita tak perlu Karl Marx hanya demi mendiskusikan macet atau fenomena pengendara ugal-ugalan sampai pak polisi berwajah sangar, cukup bergerak sesuai dengan lampu komando dan kendarailah motor anda dengan pelan, hati-hati berurusan dengan emak-emak dan jangan lupa pakai helm!.

 

*Pecinta Kehidupan

Check Also

KOPRI PMII Kabupaten SIntang Gelar Sekolah Islam Gender Perdana

SINTANG – NU Khatulistiwa,  Pengurus Koprs Putri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Putri Cabang Sintang …

Tinggalkan Balasan