fbpx
Home / Catatan Ringan / Bersih-bersih Rak Kitab

Bersih-bersih Rak Kitab

ilustrasi : sriwijayapost

Oleh : M Hasani Mubarok*

Hari ini (22/02/18), daku membersihkan rak buku di kamar yang terlihat begitu berantakan. Kitab-kitab berbahasa Arab penuh debu usang karena lama tak terbuka kubersihkan seraya pikiran menapaktilasi tujuh delapan tahun lalu saat kitab-kitab seperti Jurumiyyah, al-Kawakib ad-Dariyyah, Ibnu Aqil dan sederet kitab fiqih klasik seperti I’anath ath-Tholibin, Fathul wahhab, Kifayat al-Akhyar, Tanwirul Qulub dan lain-lain, masih begitu akrab daku genggam setiap subuh. Kami para santri yang waktu itu tergabung di kelas-kelas halaqoh akan berdiri sambil bercengkrama ringan dengan kitab menempel di dada masing-masing. Sebagian dari kami membicarakan dengan serius tema-tema menarik seputar ilmu nahwu, shorrof dan fiqih yang akan atau telah dipelajari.

Membuka dan membersihkan kitab-kitab klasik yang tersusun berantakan persis di atas lemari pakaian yang memanjang di kamar telah melemparku ke dalam pusaran perasaan yang tak menentu. Sesekali rasa bangga dan syukur terselip karena Allah memberikan hamba kesempatan untuk mengenyam dunia pesantren ini sejak kecil sampai hari ini. Berjuta kenangan serta asyik masyuk perjalanan waktu, canda tawa penuh ria teman-teman seperjuangan seolah masih lekat menempal dan mengisi ruas-ruas kamar sempit pesantren ini. Sekilas lalu perasaan bangga dan syukur itu harus berpindah kepada rasa sesal ketika puluhan kitab yang telah kami sasak (beri arti) harus pudar dengan semakin jauhnya waktu mengajakku ke dalam relung-relung hidup yang rumit berliku.

Di hadapan kitab-kitab dan buku-buku berbahasa Indonesia yang sejatinya baru daku koleksi sejak kuliah, seolah sedang dihadapkan pada kenyataan bahwa masih begitu banyak ilmu yang harus terus diselami, tak perduli apakah usia masih cukup atau kita akan terhenti ketika realitas hidup mulai menuntut dan mengajak untuk mendua. Pikiran kemudian menggelayut ke depan sembari tangan tak berhenti terus bergerak membelah lembaran-lembaran kusam warna kuning yang sampai hari ini masih tetap utuh. Hamparan hari esok yang kian tak menentu merangkai narasi tak berujung dan tak bertepi tentang hendak ke mana langkah kecilku diarahkan. Melihat samudra ilmu yang begitu dalam, kita pantas bertanya sejauh mana kita menyelaminya? Atau kita hanya menyaksikan orang-orang berenang dengan asyik, sedang kita duduk terpekur penuh malas di atas lautan itu?

Salah satu dari sekian kitab yang juga daku susun pagi ini di tengah riuh rendah suara santri dengan aktifitas paginya yang padat adalah karya agung al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali yang bernama Ihya’u Ulumiddin. Sebuah kitab yang merangkum dan membangun kerangka keilmuan Islam sejak dahulu sampai hari ini. Di tengah terpaaan badai keilmuan Barat yang sempit dan materialistik, al-Ghazali merevitalisasi kembali keilmuan Islam dengan begitu baik dan memperkenalkan kepada seluruh umat Islam kapanpun dan di manapun bahwa Islam bukan hanya sekadar agama dengan beragam laku ritual formal, tetapi juga seperangkat ilmu agar menjadi hudaan bagi manusia agar memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat yang seimbang.

Beragama tanpa ilmu hanya akan membawa seorang muslim hanyut dalam aktifitas yang tak diketahui untuk apa semua itu ia lakukan, alias minim substansi dari segala aktifitas keagamannya. Patutlah jika satu orang yang ahli ilmu seribu kali lebih utama dari mereka yang hanya sekadar ahli ibadah tanpa ilmu melandasi. Demikian pentingnya ilmu bagi seorang muslim, karena hanya darinya dan sungguh hanya darinya seorang akan mengetahui apa dan kenapa agama menganjurkan segala macam perbuatan dan mencegah untuk tidak berbuat apapun yang dilarang. Dengan ilmu, seorang muslim akan dengan mudah mencerap ide-ide dan nilai-nilai yang terkandung dalam agamanya. Kemudian dia juga akan dianugerahi kemampuan mengemas muatan agama ini dengan baik dan penuh dengan rahmat dan kasih sayang terhadap sesama.

Kitab-kitab lawas atau yang dikenal dengan kitab kuning itu memenuhi bagian atas rak buku yang menempel erat di atas lemari pakaianku. Di bawahnya, di sebuah pojok buku-buku berbahasa Indonesia terlihat demikian pula berantakan. Dengan sigap mulai kubersihkan seraya menata letaknya meski tak demikian rapi. Buku-buku ini mulai daku koleksi sejak kuliah di IAIN Pontianak. Sewaktu masih sekolah di tingkat Aliyah sebelum kelas tiga, daku agak anti dengan buku berbahasa Indonesia. Namun, seiring persentuhan dengan berbagai tradisi keilmuan di luar yang biasa dipelajari di pesantren, membaca buku kontemporer menjadi kewajiban. Filsafat, pemikiran Islam, diskursus perubahan sosial, studi gender, wawasan fiqh sosial serta tawaran baru dalam dunia tafsir Quran dan Hadis. Semakin bergerak menelurusi liku-liku ilmu, semakin ringkih kita di depan keagungannya.

Persentuhan ilmu-ilmu yang tertuang dalam kitab-kitab klasik dengan diskursus keilmuan kontemporer seperti menjadi kewajiban bagi santri manapun yang ingin terus hadir dalam deru dialektika kehidupan manusia mutahir ini. Tanpa mengetahui perkembangan pemikiran Islam kontemporer dan serangkai diskursus yang merimbuninya, seorang santri yang telah dibekali sekelumit kemampuan dalam membaca kitab-kitab klasik akan tumpul dan bisa jadi tak berkembang atau bahkan hilang vitalitasnya dalam perkembangan epistemologi Islam yang terus berubah, bergeser bahkan beralih sama sekali akibat dinamika terus menerus di dalamnya. Jika karya monumental Ulama Salaf telah menghilang dari panggung pemikiran Islam, maka janganlah berkeluh kesah, jika keilmuan Islam kemudian akan mudah diobrak-abrik oleh tradisi pemikiran di luarnya yang tak seluas dan semulia ilmu-ilmu Islam.

Keilmuan pesantren tidak hanya berfungsi sebagai filter bagi dominasi wacana yang berhembus dari Barat ke Timur hari ini. Tadi dari dalamnya meniscayakan lahirnya kreasi-kreasi epistemik yang memukau dan berpotensi sangat besar membentuk nalar dan logika kehidupan manusia yang semakin meluruh hari ini. Keilmuan Islam akan sangat berguna jika terus mampu mengisi ruang-ruang kelimuan kontemporer yang terus berkembang begitu pesat. Cakrawala fiqhiyyah, nuasa sufistik, kekayaan teologis dan tentu keluasan perspektif Qur’ani adalah modal paling potensial guna mengurai kebuntuan nalar post-modernisme yang rumit dan membingungkan dunia. Ketika dunia tak lagi bisa dibaca melalui nalar-nalar sederhana yang melahirkan teori-teori rumit developmentalisme, maka epistemologi Islam wajib mengambil bagian guna menjadi Mesiah demi terbentuknya tatanan dunia yang lebih baik lagi.

Saatnya para santri mulai membongkar kembali rak-rak kitab-kitab klasik, membersihkan yang usang karena tertutup debu, menata yang berserakan akibat kelengahan waktu sembari menyibak buku-buku kontemporer dan berselancar di tengah pusaran rumit, menyusuri setiap jengkal problematika umat demi terbentuknya sejarah dunia yang lebih indah dan baru.

 

*Pecinta Kehidupan

 

Check Also

KOPRI PMII Kabupaten SIntang Gelar Sekolah Islam Gender Perdana

SINTANG – NU Khatulistiwa,  Pengurus Koprs Putri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Putri Cabang Sintang …

Tinggalkan Balasan