Home / Opini / Sunni Syiah Dalam Preferensi Keberagamaan Muslim Indonesia

Sunni Syiah Dalam Preferensi Keberagamaan Muslim Indonesia


Oleh: Ach. Tijani*)

Relasi Sunni Syiah di Indonesia secara umum dapat dikatakan kurang baik. Namun masih dapat dikatakan kondusif jika dibandingkan dengan negara-negara di timur tengah (Suriah, Irak, Yaman dll). Relasi keduanya dalam konteks Indonesia kurun 5 tahun terakhir dapat dikatakan lebih melunak setelah sebelumnya bergesekan cukup keras di daerah Sampang Madura pada tahun 2012. Namun demikian, potensi konflik dan benterokan yang tidak diinginkan tersebut dapat saja terulang, mengingat pandangan streotipe antar keduanya masih cukup mengakar.

Memahami Sunni-Syiah memang tidak cukup sekali baca dalam satu perspektif. Keluasan pandangan dengan berbagai macam perspektif sangat diperlukan untuk mengeliminasi munculnya syahwat dan emosi yang desktruktif. Hal tersebut berkaitan dengan suratan hsitorisitas antar keduanya sejak awal kemunculan hingga perkembangannya dari waktu ke waktu telah memunculkan diskursus dan gesekan fisik yang cukup berarti. Diskursus mengenai teologi serta gesekan suksesi kepentingan politik menjadi warna mencolok yang selalu berkelindan dalam pembacaan relasi Syiah-Sunni.

Dalam pandangan muslim Indonesia dengan mayoritas Sunni telah menempatkan Syiah ke dalam dua pandangan besar. Pertama, Syiah ditempatkan sebagai kelompok yang perlu diwaspadai dan kedua Syiah telah dianggap sebagai saudara seiman yang mempunyai hak setara yaitu hidup damai di bumi Nusantara. Pandangan pertama lebih banyak diterima oleh masyarakat luas, mengingat perbedaan teologis serta catatan sejarah kekerasan berdarah telah dianggap menutup jalan untuk hidup berdampingan. Sementara pandangan kedua adalah pandangan minoritas yang berkonsekuensi riskan bagi mereka yang memilihnya. Tuduhan akan keserupaan (tasyabbuh), antek, sesat dan kafir adalah konsekuensi yang sangat familiar dan harus siap diterima bagi mereka yang memiliki pandangan keagamaan inklusif.

Sebagai alasan historis yang cukup berat untuk memilih kelegaan (inkulisifitas) dalam memandang dan menerima Syiah adalah persoalan penolakan terhadap kekhalifahan tiga Sahabat Nabi oleh kelompok Syiah. Penolakan tersebut dianggap kurang etis dan bahkan sebagai bentuk pelecehan terhadap kemuliaan tiga sahabat tersebut (Abu Bakar, Umar dan Usman). Dengan pengertian yang sederhana, tiga sahabat Nabi tersebut oleh pandangan Sunni eksklusif adalah sosok mulia dengan indikator kedekatan kepada Nabi, kesholehan, kedermawanan dan loyalitasnya kepada Islam menempatkan mereka sebagai bagian dari simbol kemuliaan dan kesucian.

Berbeda dengan pandangan Syiah yang melihat dari perspektif politik dan teologis. Menurut Syiah penolakan pemerintahan dan kepemimpinan dalam sejarah kehidupan manusia, baik dalam Islam ataupun masyarakat dunia adalah hal yang lumrah. Kesholehan para sahabat di zaman Nabi adalah kenyataan yang seratus persen terjadi hampir pada setiap individu, namun hal tersebut tidak menutup adanya koreksi dan perbedaan pandangan, terlebih setelah wafatnya Rasulullah. Maka penolakan kepemimpinan tiga sahabat tersebut adalah perbedaan pandangan politik yang tentu tidak dapat dimentahkan dengan pertimbangan kesalehan dan kemuliaan mereka secara pribadi.

Titik perbedaan di atas menjadi salah satu diskursus yang terus berkembang pada persoalan-persoalan teologis mengenai ketaatan dan kepatuhan terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi. Pada unsur teologis inilah persetegangan itu terus dipertahankan. Kelompok Sunni menganggap bahwa kekhalifahan tiga sahabat Nabi adalah sah secara politis dan sesuai dengan basis keimanan (teologis). Sementara Syiah memandang bahwa proses politik yang dilewati oleh tiga sahabat tersebut tidak berkesesuaian dengan pesan Nabi menganai peristiwa Ghadir Khum yang secara eksplisit telah menunjuk Ali sebagai pemimpin pengganti Rasulullah. Isyarat tersebut dimaknai oleh Syiah bahwa orang yang paling berhak menjadi pemimpin setelah wafatnya Rasulullah adalah Ali bin Abi Thalib.

Polemik teologis di masa awal politik Islam terus berlanjut pada gesekan-gesekan yang lebih berarti sperti terbunuhnya Usman bin Affan, perang Jamal, Karbala dan Amul Jamaah. Sejarah politik dan polemik teologis Sunni-Syiah hidup melintasi teritoti zaman dan geografis hingga sampailah juga di bumi Nusantara dan di era kita sekarang. Sebagai indikator adanya tensi yang cukup tinggi mengenai Sunni-Syiah di Indonesia selain peristiwa kekerasan di Sampang Madura tahun 2012 adalah munculnya term Syiah yang dianggap berkonotasi sama dengan Kafir, Yahudi dan sesat.

Upaya penyerataan Syiah dengan term Kafir, Yahudi dan sesat terus bermunculan hingga melengahkan diskursus esensial Sunni-Syiah. Penyebaran video, pernyataan, artikel dan data yang disampaikan secara serampangan terus menggiring pandangan muslim Indonesia pada satu perspektif yang mengarahkan kebencian. Hal ini didukung kuat dengan kebiasaan baru masyarakat Indonesia yang sebagian besar banyak meluangkan waktunya di depan layar LCD menikmati realitas virtual.

Sampailah kemudian pada pergeseran kultural-faktual yang juga terkesan serampangan dengan menganggap Syiah sebagai bagian dari musuh Islam. Anggapan ini tentu sangat jauh dengan historisitas kultural Islam Nusantara yang sejatinya sangat terbuka, bahkan sebagian kultur dan pemahaman Islam Nusantara adalah hasil ijtihad dan kearifan ulama Nusantara yang melebur-baurkan perpecahan Sunni Syiah menjadi segmen keislaman yang khas.

Misalnya NU dengan sejumlah tarekatnya merupakan segmentasi integrasi yang arif dengan meninggalkan percekcokan politik dan telogisnya. NU lebih mengedapankan pada nilai peresapan, penghayatan keberimanan dalam bentuk tindak kesufian. Dalam kesufian inilah Sunni-Syiah melebur tanpa cekcok, pilihan ini dibaca cermat oleh NU, sehingga NU dan Syiah adalah dua perbedaan yang tidak saling memojokkan.

Namun demikian, keberadaan kubu yang masih bersetegang juga terus tumbuh dengan tetap menguatkan titik-titik perbedaan. Hanya saja sangat disayangkan persetegangan tersebut tidak lagi murni persoalan polemik teologis yang mendalam. Hal tersebut terlihat dari argumentasi-argumentasi murahan, seperti persoalan mut’ah, hajinya orang syiah tidak ke Ka’bah di Mekah, al-Quran Syiah berbeda, adzannya berbeda  dan segmentasi-segmentasi tuduhan dangkal lainnya dimana orang Syiah sendiri tidak memahami juga terhadap tuduhan-tuduhan expired tersebut.

Sekarang pilihan ada di atangan kita. Bercokol dengan pengetahuan expired nir kearifan atau bersama NU kita rangkul keragaman.
Tulisan ini disampaikan pada acara Studium General dialog Sunni-Syiah di Fakultas Ekonomi Islam IAIN Pontianak

*) Pengurus Lakpesdam PCNU Kota Pontianak

Tinggalkan Balasan