fbpx
Home / Opini / Manusia Mahluk Pembaca

Manusia Mahluk Pembaca

Gambar: Liputan6.com

Oleh : M Hasani Mubarok*

Tiada yang lebih penting dalam hidup ini kecuali membaca. Dengan membaca manusia mampu untuk terus melanjutkan kehidupan dan megarahkannya menuju perubahan yang lebih baik. Segala sesuatu yang ada di dunia kemudian menjadi jinak dan menurut pada kehendak manusia setelah proses membaca dikenal oleh manusia. Kemudian, aktifitas membaca tak hanya sekadar kebutuhan, namun telah ber metamorfosa menjadi fitrah manusia untuk membaca segala sesuatu yang dia jumpai dan rasakan.

Wahyu pertama dalam al-Quran yang disampaikan kepada Nabi saat beliau di Gua Hira berbunyi “Bacalah dengan Nama Tuhan-mu!”. Sebuah perintah yang hampir tak masuk akal untuk dipenuhi bagi masyarakat awam. Seorang Nabi yang tidak tahu baca-tulis diberi perintah oleh Malaikat Jibril utusan Allah agar membaca. Hal ini analog dengan anda yang memaksakan seorang anak kecil yang belum bersekolah agar membaca. Wajar jika kemudian orang akan bertanya, apakah anda waras?

Nabi Muhammad sebagai manusia biasa wajar jika bingung dengan perintah mendadak al-Quran itu. Hal ini yang kemudian membuat Beliau harus berkata “aku tidak bisa membaca”. Sesegera itulah Jibril melanjutkan perintah yang dibawa dengan kalimat selanjutnya “dengan Nama Tuhan-mu”.

Jika diteliti dari sisi kajian semantik, kata iqra berasal dari kata dasar (fiil madhi) qa ra a yang bermakna membaca, merenung, meneliti dan memperhatikan. Kata ini tak selalu berkonotasi pada aktifitas membaca pada sesuatu yang hanya tersurat (tertulis) namun juga yang tersirat. Sesuatu yang tersurat selalu mengandaikan adanya tulisan agar dia memberikan informasi dan pengetahuan bagi yang membaca. Namun, perintah kepada Nabi agar membaca, memiliki spektrum makna yang lebih luas. Bahwa, jangan hanya membaca kepada sesuatu yang tertuang dan berbentuk teks. Tapi, membaca dan merenungi segala sesuatu yang tak tertulis (tersirat) adalah bagian dari aktifitas membaca pula.

Begitulah, kontemplasi panjang Nabi Muhammad dalam melakukan transformasi besar-besaran di dataran Hijaz adalah hasil yang nyata dari proses membaca Nabi yang sangat luar biasa di bawah sinaran wahyu al-Quran. Tiada sehari pun yang Nabi lewatkan selain membaca dan membaca lagi. Dari perintah membaca itu, kejayaan Islam yang membentang dari semenanjung Arabia sampai Persia dan Indonesia hari ini merupakan alasan konkrit kenapa manusia harus selalu membaca setiap dan segala sesuatu yang telah ada, ada dan yang akan ada.

Sebagaimana disebutkan di muka, bahwa yang dinamakan membaca bukanlah sekadar aktifitas formal yang objektnya hanyalah tulisan. Tapi, lebih dari itu, aktifitas membaca sesungguhnya adalah sebuah perilaku meneliti dan menyerap segala sesuatu yang ada di sekitar. Membaca segala yang tersurat dan tersirat adalah makna sesungguhnya dari membaca.

Sering kita temukan manusia yang rajin membaca segala macam tulisan dan buku yang dia temui, namun tak memiliki korelasi apapun dengan sejarah yang ada di sekitarnya. Hal ini karena kesalahan dalam memaknai kata membaca, sehingga aktifitasnya sama sekali tak melahirkan perubahan dan pengaruh apapun di tengan tumpang tindihnya problem sosial di sekitarnya. Kita bisa menarik contoh yang lebih konkrit di sekeliling kita, bahwa satu rak skripsi yang ditulis oleh puluhan mahasiswa tak melahirkan apapun bagi sejarah kecuali hanya sekadar kebanggaan bahwa dia telah lulus studi. Percaya atau tidak, hal ini karena sempitnya arena pembacaan yang dianjurkan di kampus-kampus kita hari ini. hasil karya dan penelitian yang kehilangan konteks sosial, adalah mandulnya proses membaca yang dilakukan oleh banyak orang yang katanya “cendikiawan”.

Al-Quran selalu memperingatkan kepada manusia, bahwa membaca yang tersurat dan tersirat adalah kunci guna terus terhubung dengan segala bentuk kebaikan yang ada di sekitar. Membaca puluhan buku tetapi mengambil jarak dengan realitas sejarah yang berkembang adalah bentuk pembacaan yang begitu sempit dan menyebabkan kemandulan bagi lahirnya dialektika sosial menuju perubahan yang lebih baik. Al-Quran menginginkan agar manusia tidak hanya membaca segala sesuatu yang tertulis saja, namun yang tak tertulis sekaligus. Hal inilah yang kemudian membuat seorang intelektual Islam masuk ke dalam arus perubahan sosial, politik, agama bahkan ekonomi.

Membaca yang tersurat (tertulis) bisa dikategorikan sebagai laku membaca terhadap teks yang ada. Darinya setumpuk informasi dan pengetahuan akan diperoleh. Sedangkan membaca yang tersirat (yang tak tertulis) adalah membaca konteks sosial, agama dan ekonomi yang hari ini mengitarinya. Dengan kombinasi dua model membaca inilah kemudian manusia masuk dalam dinamika dan menjadi saksi sejarah bagi lahirnya perubahan yang lebih baik dalam hal apapun. Hanya dengan inilah, dia layak disebut dengan julukan al-Mutsaqqof atau intelek.

Pemisahan dua poin penting dalam proses membaca akan mengakibatkan dampak negatif bahkan destruktif bagi perubahan. Dari sini kita mafhum dengan lahirnya kaum skripturalis yang tak mampu mempertemukan dengan damai antara konteks sosial dan teks dalam agama dan disiplin pemikiran lainnya. Pemikiran skripturalisme (texs oriented) dalam Islam telah melahirkan fundamentalisme yang tak jarang berujung pada lahirnya gerakan radikalisme destruktif yang sulit terbendung. Skripturalisme telah menanggalkan konteks sosial, latar sejarah bahkan kondisi konkrit dari proses membacanya. Teks kemudian menjadi mandul bahkan tak jarang melenceng dari rambu-rambu perubahan yang sebenarnya.

Begitu pula sebaliknya, membaca konteks dan merenunginya seringkali terjebak dalam pusaran perubahan yang tak tentu arah. Meninggalkan teks agama dalam membincang dinamka keagamaan seringkali tak melahirkan perbaikan bagi agama bahkan penghancuran yang sebaliknya. Gerakan sosial yang diimpikan atas lahirnya sebuah realita beragama yang lebih baik, justru meluluhlantakkan agama. Kita masih ingat bagaimana liberalisme dibicarakan dengan sungguh-sungguh oleh aktifis sosial Islam alumnus universitas di Barat ternyata tak mampu melahirkan perubahan signifikan bagi pengentasan problem sosial keagamaan yang ada di Indonesia.

Pola membaca yang menafikan teks dalam perubahan sosial ini adalah kata lain dari bergerak dengan menafikan landasan teoritik yang ada. Contoh sederhana, para pengkaji dari Islam Libertarian (liberalisme Islam) yang beberapa tahun silam dikenal dengan nama Jaringan Islam Liberal (JIL) memulai kajian keagamaan mereka dengan memperkenalkan tiga paradigma besar guna memperbaharui pemikiran Islam akhir-akhir ini. Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme.

Dalam menjajakan trilogi pemikiran di atas, para pegiat liberalisme kerap kali meninggalkan teks agama (dalam hal ini al-Quran) dan segala macam perlengkapannya guna menembuskan ide-ide tentang egality, equality fraternity di Indonesia. Padahal di dalam Islam, wawasan tentang tiga hal itu sangat kaya dan berbeda secara prinsip dengan trilogi paeadigma liberalisme di atas. Akhirnya, alih-alih untuk membumikan nilai-nilai itu ke tengah masyarakat Timur yang secara kulutral memang berbeda dengan Barat, dengan naif gagasan itu harus tersungkur ke sudut pemikiran Islam mutahir hari ini.

Penggabungan dua pola membaca pun kemudian diupayakan kembali oleh para aktifis sosial keagamaan hari ini. Mempertemukan antara tekstualisme dan kontekstualisme dalam Islam setidaknya melahirkan dua warna gerakan Islam Mutahir. Yang pertama adalah Islam Progresif. Progresifisme yang dimaksud dalam hal ini adalah mengkaji Islam dengan menjadikan materialisme historis dan materialisme dialektis sebagai epistemologi bagi penerjemahan dan pembumian nilai-nilai al-Quran di tengah jutaan problem sosial kemasyarakat hari ini. Dalam epsitemologi Islam, progresifisme ini memang terkesan begitu berbau Marxis, karena memang begitulah tujuan mereka yakni mempertemukan antara keislaman dan sosial change secara dialektis, bahwa segala problem sosial keagamaan hari ini harus dianalisa dari materi konkrit (determinisme ekonomi) yang hadir di tengah masyarakat.

Jenis yang kedua, adalah Islam Moderat. Gerakan Islam yang ini seringkali direpresentasikan bagi NU dan Muhammadiyah sebagai dua ormas terbesar di Indonesia. Epistemologi Gerakan Islam Moderat dibangun dengan menjadikan Post-Tradisionalisme Islam sebagai landasan. Gerakan Islam ini berkeyakinan bahwa dalam rangka berinteraksi dengan teks-teks agama serta dalam sisi berbeda berjibaku dengan konteks sejarah hari ini mengharuskan reinterpretasi dan revitalisasi kembali terhadap nilai-nilai keislaman baik yang lalu maupun yang hadir hari ini. Moderatisme Islam kemudian menyibukkan diri dengan aktifitas penguatan agama sebagai basis bagi lahirnya perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Dua arus besar pemikiran Islam di Indonesia itu adalah wacana yang berupaya mempertemukan antara teks dan konteks dalam proses pembacaan yang komprehensif dari masing-masing sisinya. Jika dua trend pemikiran ini terus digalakkan oleh setiap aktifis dan intelektual Islam, maka pesan al-Quran agar manusia membaca baik yang tersurat atau  tersirat akan benar-benar terealisasi. Dalam perbincangan dan isu-isu hangat tentang bangkitnya Islam, dua proses membaca inilah yang menjadi kunci guna merasionalisasikan kebangkitan itu benar-benar nyata bagi dunia. Bukankah dengan membaca teks dan konteks, Nabi telah mengubah dunia menjadi lebih baik dan Islam semakin berjaya?

 

*Santri Ponpes Aljihad, Pontianak.

Check Also

“Ayo Menanam” Dalam Hadapi Krisis Corona

Oleh: Dr.Yusriadi, MA Ketua PW ISNU Kalbar Sore itu di akhir Maret 2020, di Group …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com