fbpx
Home / Ngaji / Maha Suci Allah, Tidak Sama Dengan Makhluk

Maha Suci Allah, Tidak Sama Dengan Makhluk

Umat Islam sepakat menyatakan Allah maha suci, tidak ada kesamaan dengan makhluk Nya. Terkait dengan ayat-ayat dan dalil yang seolah secara dzahir ada kesamaan dengan makhluk, maka cara mentanzihkan (menyucikan) ada yang menyerahkan maknanya kepada Allah dan ada yang menakwilnya, seperti tangan Allah ditakwil dengan kekuasaan Allah, mata Allah ditakwil dengan kasih sayang Allah, dan sebagainya.

Namun ada pula yang menetapkan sifat-sifat itu dengan meniadakan kesamaan pada makhluk. Misalnya Allah punya tangan, tapi tidak sama dengan tangan makhluk, dan seterusnya. Keyakinan seperti ini yang perlu diluruskan dalam pandangan ulama Madzhab Akidah Asy’ariyah, Madzhab yang diikuti oleh banyak ahli hadis seperti Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Nawawi dan sebagainya. Termasuk dari kalangan ahli tafsir yaitu Imam Ar-Razi dalam kitabnya Mafatih Al-Ghaib yang disebut juga dengan Tafsir Al-Kabir.

Beliau menolak keyakinan menetapkan organ tubuh pada dzat Allah. Beliau memaparkan:

اﺣﺘﺞ ﻣﻦ ﺃﺛﺒﺖ اﻷﻋﻀﺎء ﻭاﻟﺠﻮاﺭﺡ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻣﺎ ﻣﻨﻌﻚ ﺃﻥ ﺗﺴﺠﺪ ﻟﻤﺎ ﺧﻠﻘﺖ ﺑﻴﺪﻱ ﻓﻲ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﻳﺪﻳﻦ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﺑﺄﻥ ﻗﺎﻟﻮا ﻇﺎﻫﺮ اﻵﻳﺔ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻴﻪ، ﻓﻮﺟﺐ اﻟﻤﺼﻴﺮ ﺇﻟﻴﻪ، ﻭاﻵﻳﺎﺕ اﻟﻜﺜﻴﺮﺓ ﻭاﺭﺩﺓ ﻋﻠﻰ ﻭﻓﻖ ﻫﺬﻩ اﻵﻳﺔ، ﻓﻮﺟﺐ اﻟﻘﻄﻊ ﺑﻪ.

Ada yang berhujjah menetapkan anggota tubuh bagi Allah dengan firman Allah: “Apakah yang menghalangi kamu (iblis) sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” [Shad 75]. Mereka katakan: “Secara dzahir ayat ini menunjukkan hal itu maka wajib kembali ke ayat tersebut. Ayat semacam ini banyak. Maka wajib meyakini”

ﻭاﻋﻠﻢ ﺃﻥ اﻟﺪﻻﺋﻞ اﻟﺪاﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﻲ ﻛﻮﻧﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺟﺴﻤﺎ ﻣﺮﻛﺒﺎ ﻣﻦ اﻷﺟﺰاء ﻭاﻷﻋﻀﺎء، ﻗﺪ ﺳﺒﻘﺖ ﺇﻻ ﺃﻧﺎ ﻧﺬﻛﺮ ﻫﺎﻫﻨﺎ ﻧﻜﺘﺎ ﺟﺎﺭﻳﺔ ﻣﺠﺮﻯ اﻹﻟﺰاﻣﺎﺕ اﻟﻈﺎﻫﺮﺓ ﻓﺎﻷﻭﻝ: ﺃﻥ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺇﻧﻪ ﻣﺮﻛﺐ ﻣﻦ اﻷﻋﻀﺎء ﻭاﻷﺟﺰاء، ﻓﺈﻣﺎ ﺃﻥ ﻳﺜﺒﺖ اﻷﻋﻀﺎء اﻟﺘﻲ ﻭﺭﺩ ﺫﻛﺮﻫﺎ ﻓﻲ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻻ ﻳﺰﻳﺪ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻭﺇﻣﺎ ﺃﻥ ﻳﺰﻳﺪ ﻋﻠﻴﻬﺎ

Ketahuilah ada dalil-dalil yang meniadakan bahwa Allah tersusun dari jisim. Kecuali kami akan menyampaikan hikmah makna yang berlaku secara literal yang dzahir. Pertama orang yang mengatakan Allah terdiri dari anggota tubuh dan bagian, adakalanya menetapkan jisim seperti yang ada di Qur’an tanpa menambahkan, dan ada juga yang menambahkan

ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ اﻷﻭﻝ ﻟﺰﻣﻪ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﺻﻮﺭﺓ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﺰاﺩ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻓﻲ اﻟﻘﺒﺢ، ﻷﻧﻪ ﻳﻠﺰﻣﻪ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﻭﺟﻪ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﻮﺟﺪ ﻣﻨﻪ ﺇﻻ ﻣﺠﺮﺩ ﺭﻗﻌﺔ اﻟﻮﺟﻪ ﻟﻘﻮﻟﻪ: ﻛﻞ ﺷﻲء ﻫﺎﻟﻚ ﺇﻻ ﻭﺟﻬﻪ [ اﻟﻘﺼﺺ: 88]

Menurut alur pertama maka akan menetapkan bentuk yang tidak menambah dalam kejelekan. Sebab hanya akan menetapkan wajah tanpa ditemukan kecuali hanya wajah saja. Allah berfirman: “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya” (Al-Qashas 88)

ﻭﻳﻠﺰﻣﻪ ﺃﻥ ﻳﺜﺒﺖ ﻓﻲ ﺗﻠﻚ اﻟﺮﻗﻌﺔ ﻋﻴﻮﻧﺎ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻟﻘﻮﻟﻪ: ﺗﺠﺮﻱ ﺑﺄﻋﻴﻨﻨﺎ [ اﻟﻘﻤﺮ: 14]

Dari wajah itu akan menetapkan beberapa mata, karena Allah berfirman: “Yang berlayar dengan mata-mata Kami…” (Al-Qamar 14)

ﻭﺃﻥ ﻳﺜﺒﺖ ﺟﻨﺒﺎ ﻭاﺣﺪا ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻳﺎ ﺣﺴﺮﺗﻰ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻓﺮﻃﺖ ﻓﻲ ﺟﻨﺐ اﻟﻠﻪ [ اﻟﺰﻣﺮ: 56]

Dan menetapkan satu lambung. Karena Allah berfirman: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap (lambung) Allah” (Az-Zumar 56)

ﻭﺃﻥ ﻳﺜﺒﺖ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ اﻟﺠﻨﺐ ﺃﻳﺪﻱ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻣﻤﺎ ﻋﻤﻠﺖ ﺃﻳﺪﻳﻨﺎ [ ﻳﺲ: 71]

Selanjutnya akan menetapkan banyak tangan. Karena Allah berfirman: “… yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan tangan-tangan Kami sendiri” (Yasin 71)

ﻭﺑﺘﻘﺪﻳﺮ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻪ ﻳﺪاﻥ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﻼﻫﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺟﺎﻧﺐ ﻭاﺣﺪ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ «اﻟﺤﺠﺮ اﻷﺳﻮﺩ ﻳﻤﻴﻦ اﻟﻠﻪ ﻓﻲ اﻷﺭﺽ»

Kalau pun memperkirakan punya 2 tangan, maka keduanya adalah tangan kanan. Sebab Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda: “Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah di bumi”

ﻭﺃﻥ ﻳﺜﺒﺖ ﻟﻪ ﺳﺎﻗﺎ ﻭاﺣﺪا ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻳﻮﻡ ﻳﻜﺸﻒ ﻋﻦ ﺳﺎﻕ [ اﻟﻘﻠﻢ: 42]

Dan menetapkan satu betis. Karena firman Allah: “Pada hari betis disingkapkan …” (Al-Qalam: 42)

ﻓﻴﻜﻮﻥ اﻟﺤﺎﺻﻞ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ اﻟﺼﻮﺭﺓ، ﻣﺠﺮﺩ ﺭﻗﻌﺔ اﻟﻮﺟﻪ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻋﻴﻮﻥ ﻛﺜﻴﺮﺓ، ﻭﺟﻨﺐ ﻭاﺣﺪ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻳﺪ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻭﺳﺎﻕ ﻭاﺣﺪ، ﻭﻣﻌﻠﻮﻡ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ اﻟﺼﻮﺭﺓ ﺃﻗﺒﺢ اﻟﺼﻮﺭ، ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻫﺬا ﻋﺒﺪا ﻟﻢ ﻳﺮﻏﺐ ﺃﺣﺪ ﻓﻲ ﺷﺮاﺋﻪ، ﻓﻜﻴﻒ ﻳﻘﻮﻝ اﻟﻌﺎﻗﻞ ﺇﻥ ﺭﺏ اﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻣﻮﺻﻮﻑ ﺑﻬﺬﻩ اﻟﺼﻮﺭﺓ.

Kesimpulan dari bentuk ini adalah sekedar wajah saja, banyak mata, satu lambung, banyak tangan, satu betis. Sudah jelas ini bentuk paling buruk. Andaikan ini seorang budak maka tidak akan ada yang mau membelinya. Bagaimana mungkin seorang yang berakal akan mensifati Tuhan seluruh alam dengan sifat itu? (Tafsir Ar-Razi 26/410)

>> Terjemahan ayat disesuaikan dengan bentuk lafdzi yang diyakini golongan tersebut.

Semoga Allah melindungi kita dari akidah Tajsim diatas. Amin

Check Also

Perlukah Kontroversial?

Oleh: Ahmad Fauzy Ketua 1 Kaderisasi PC PMII Kabupaten Malang Yang terpenting dari suatu Fenomena …

Tinggalkan Balasan