fbpx
Home / Opini / Imam Al-Ghazali dan Media Sosial

Imam Al-Ghazali dan Media Sosial


Oleh: KHAIRUL FUAD
Hubungan Imam Al-Ghazali dan Media Sosial (medsos) tentunya susah dicari titik-tolaknya karena perbedaan ruang dan waktu yang berjarak abad. Imam Al-Ghazali filosof Islam dengan sebutan Hujjatul Islam, yang hidup pada masa lalu, sedangkan medsos merupakan fenomena sosial massif pada masa milenial. Bukan masanya keduanya muncul, tentunya mustahil mempertemukannya secara fisik (kharaji).

Namun demikian, dari sisi dalam (dakhili) justru yang mampu mempertemukan hubungan antara Imam Al-Ghazali dan medsos karena sisi dalam berdimensi nirbatas. Dimensi dalam nirbatas ini memiliki kemampuan mengatasai sekat jarak berbeda dalam ruang dan waktu. Seolah Imam Al-Ghazali yang hidup sekian abad lalu bangkit kembali mewarnai khazanah milineal dengan era digital yang sangkil dan mangkus, termasuk dalam bersosial.

Sisi dakhili (dalam) pastinya mencerap pemikiran Imam Al-Ghazali agar bangkit di tengah massifnya medsos yang tidak dapat lagi dipisahkan dari kehidupan riil sekarang ini. Ihya Ulumuddin karya puncaknya (master-piece) menjadi pintu untuk membukakannya agar dapat memasuki dunia milineal. Pada gilirannya, Imam Al-Ghazali dapat berselancar di dunia maya yang menjadikan dunia ini  global village yang nirbatas.

Saat berselancar, Imam Al-Ghazali justru mengedepankan kritiknya terhadap masyarakat sekarang yang sudah enggan melepaskan medsos, untuk tidak mengatakan sulit berpisah dari gawainya. Melalui Ihya Ulumuddin dijadikan titik-tolak kritiknya atas anomali-anomali medsos sekaligus mengisyaratkan bahwa warisan karya akan membangkitkan dari tidur panjang. Imam Al-Ghazali bangkit melalui piranti Ihya Ulumuddin, karyanya.

Fenomena masyarakat dengan medsosnya sebenarnya sudah disinggung secara implisit oleh Imam Al-Ghazali melalui Ihya Ulumuddin. Dengan kritis dikemukakan di dalam Ihya Ulumuddin bahwa banyak orang yang sadar justru tenggelam, tidak mendengar dan tidak melihat disebabkan kesibukan dengan dirinya sendiri. Ujaran tersebut memiliki relasi dengan fenomena zaman now, masing-masing orang kini justru ”khusyuk” dengan gawai elektroniknya.

Saking “khusyuk”, masyarakat zaman now sepertinya sudah tidak bisa mendengar dan melihat karena tenggelam dengan sebuah benda yang membuatnya bingung saat ketinggalan. Dirinya sendiri secara individu telah disibukkan dengan pembaruan (update) status, dengan komentar dan klik suka (like), dan dengan berita viral di medsos. Situasi semacam itu menyebabkan orang yang sadar justru tengah dalam ketidaksadaran.

Banyak contoh telah diketahui bahwa orang per orang justru sibuk dengan gawainya entoh sekalipun tengah di ruang publik, misalnya di ruang tunggu. Secara tidak langsung telah terpapar oleh ketidaksadaran di tengah-tengah ruang publik sehingga tidak menyadari secara “berjamaah” bahwa ada liyan di samping. Bahkan, gejala tersebut telah menjalar ke ruang domestik, bapak, ibu, dan anak ke mana-mana meski tidak ke mana-mana sebab gawai.

Pada gilirannya, tidak disadari gejala semacam ini semakin memperkukuh bahwa saling menyapa antarsesama di ruang publik telah dianggap perilaku yang aneh. Sekadar basa-basi ngobrol saat menunggu giliran yang kadang didasari rasa curiga, akan semakin membesar rasa tersebut pada era medsos zaman now. Manusia sebagai makhluk dengan karakter homo socius lambat-laun akan tergerus dan hanya menyisakan manusia sebagai makhluk individu saja.

Secara substantif, ujaran Imam Al-Ghazali masih memiliki relevansinya di zaman now dengan relasi medsos di dalamnya. Meskipun diujarkan pada abad lalu, ujarannya di Ihya Ulumuddin tidak kehilangan elan sebagai paradigma kritik-sosial kekinian yang semakin memudahkan melucuti kesadaran manusia sebagai makhluk socio zone. Hal itu disebabkan karena ujaran itu bagian kajian ranah dalam (dakhili) berdimensi luas menepis batas tertentu.

Substantif juga, ujarannya ilmu muamalah (bersifat zahiri) berpotensi terjebak dalam tipu-daya dan jebakan syetan, merupakan kritik terhadap fenomena medsos yang zahiri. Gejala hoaks, ujaran, dan meme kebencian tidak berlebihan jika disebut tipu-daya atau malah jebakan syetan. Oleh karena itu, perlu berpikir kritis (ranah batini) dalam menyikapi bentuk apa pun di ruang medsos agar tidak terpapar hoaks dan tidak ikutan dalam ujaran kebencian.

Imam Al-Ghazali dengan Ihya Ulumuddin telah meninggalkan ujaran-ujaran lestari (everlasting), yang dapat dijadikan dasar kritik terhadap fenomena medsos zaman now. Pemikiran dulu dapat direvitalisasi untuk berhadapan dengan kekinian yang berjarak abad, tentunya dibarengi pemikiran juga sebagai upaya dialektika agar muncul elan kekinian. Kecanggihan kini sebenarnya terdapat dalam jangkauan kekolotan dulu jika dipikir dan rasakan.

Sudut Kantor 100118

Penulis peneliti sastra Balai Bahasa Kalbar  Dimuat di Opini Pontianak Post 20 Januari 2018

Check Also

Kepengurusan PC IPNU IPPNU Kota Pontianak Resmi Dilantik

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama …

Tinggalkan Balasan