fbpx
Home / Catatan Ringan / SEJARAH MASJID RAYA CAMPALAGIAN (Bagian ke 8) 

SEJARAH MASJID RAYA CAMPALAGIAN (Bagian ke 8) 

Dr. Wajidi Sayadi

Keterangan gambar: KH. Muhammad Nur (wafat 1995) sedang memimpin pengajian kitab kuning di serambi rumahnya di belakang Masjid Raya. Sebelah kanan Beliau (penulis) dan sebelah kirinya ust. Abd Rasyid.
Periode Kampung Masigi
Periode kedua dalam sejarah masjid ini adalah periode Kampung Masigi, setelah periode Banua.

Masjid ini pada periode Banua selama 38 tahun sejak berdirinya dipimpin 5 orang Qadhi. Pada masa Qadhi yang ke 5 Hadji Djannatong datanglah seorang ulama dari Jawa Timur yaitu dari Ketapang Banyuwangi bernama Haji Muhammad Amin pada tahun 1825 M.

Tiga tahun kemudian, yakni tahun 1828 M Langgar di Banua dipindahkan ke Kampung Masigi sekarang Desa Bonde atas usulan dan prakarsa dari H. Muhammad Amin bekerja sama dengan Hadji Djannatong dengan persetujuan Maraddia Campalagian Ammana Ma’jju.

Alasan perpindahan Langgar ini adalah karena Kampung Masigi dianggap lebih strategis letaknya pada pertengahan wilayah Campalagian  sehingga lebih mudah terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat yang semakin bertambah, khususnya dalam aktivitas shalat berjamaah lima waktu dan kegiatan keagamaan lainnya. Lokasi yang ditempati bangunan Langgar ini adalah milik H. Muhammad Amin sendiri yang diwakafkan.

Pada tahun 1833 M atas kemauan Maraddia Ammana Ma’jju, maka H. Muhammad Amin diangkat sebagai Qadhi. Beliau menjabat Qadhi hanya 3 tahun lalu mengundurkan diri dan digantikan oleh muridnya yaitu Pua’ Egong. Tidak diketahui secara pasti kapan meninggalnya H. Muhammad Amin, namun yang jelas makamnya ada di kompleks masjid Raya ini. Ketika masjid ini  diperlebar pada tahun 1952, maka kuburannya masuk dalam bangunanaa masjid, yaitu sebelah kiri dari mimbar yang ada sekarang. Beliau terkenal dengan sebutan To Mallinrungnge (artinya Yang ghaib, tak tampak) suatu gelar kehormatan bagi Beliau.

Adapun keturunan dan cucunya  adalah anak dari H. Mustafa Sidik, yaitu Hj. Siti Nur, Hj. St. Aminah, Hj. Raehan, Hj. dr. Nadirah, Hj. Halamiah, dan Hj. Nafiah. Termasuk M. Idrus Alwi Abbana Sima sebagai generasi keempat.
Selama periode Kampung Masigi, masjid ini telah dipimpin oleh 13 Qadhi, masing-masing:

1. H. Muhammad Amin (1833-1836 M) selama 3 tahun.

2. Pua’ Egong (1836-1840 M) selama 4 tahun.

3. H. Djumalang (1840-1875 M) selama 35 tahun.

4. H. Patjo Pua’ Saenong (1875-1882 M) selama 7 tahun.

5. H. Basira’ (1882-1883 M) selama setahun. Adapun keturunan dari H. Basira’ adalah Yaddi, Fida, Kale, Abd Fattah dan Niari. Abd Fattah adalah ayahnya Ampo Jida kakeknya Rustam yang sekarang menjadi imam Mushalla Baiturrahman Kampung Maraddia Desa Bonde. Sedangkan Niari adalah ibunya Subaer Ampo Fudu.

6. H. Pua’ Muriba (1883-1889 M) selama 6 tahun. Adapun keturunan dan cucunya adalah Ampona Ampo Djuba yang melahirkan Djuba, Wa’ Diah istrinya pak Halidda, dan Pati ibunya Drs. H. Jawahir. Cucunya yang ada sekarang adalah Irham dan Ja’far Shadiq, keduanya penghafal al-Qur’an 30 Juz.

7. ………………..

(Bersambung …………..)
Jakarta, 2 Oktober 2017.

Check Also

Perlukah Kontroversial?

Oleh: Ahmad Fauzy Ketua 1 Kaderisasi PC PMII Kabupaten Malang Yang terpenting dari suatu Fenomena …

Tinggalkan Balasan