Home / Berita / Pengurus Rayon Abu Hanifah Lanjutkan Ngaji Fathul Qorib

Pengurus Rayon Abu Hanifah Lanjutkan Ngaji Fathul Qorib

Pontianak – NU Khatulistiwa, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) IAIN Pontianak, Rayon Abu Hanifah mengadakan kegiatan kajian kitab Fathul Qhorib malam Rabu  tanggal 10/10/17. Kajian ini meruapakan kegiatan rutinan yang dilaksanakan setiap malam rabu. Adapun yang menjadi pemateri pada kajian ini adalah sahabat Hasani Mubarok selaku Pengurus Cabang  Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, kajian dimulai dari jam 19:15 atau setelah sholat isya.

Sebelum dimulainya kajian terlebih dahulu sahabat-sahabat melaksanakan sholat magrib berjemaah dan dilangsungkan dengan  tadarusan  setelah sholat isya’ kajian dimulai. Tema pada kajian ini adalah gerakan separatis  dalam dunia politik. Pemeteri menjelaskan sangat detail mengenai tema yang di usung pada kajian ini dari pemberontakan  yang terjadi  pada 30 Sepetember atau Gerakan Tiga Pulu Sepetember (Gestapul)  dimana pembunuhan terhadap  7 jenderal  pasca Soekarno.

Kajian yang dilaksankan pada malam rabu tidak hanya di ikuti oleh kader PMII IAIN Pontianak tapi ada juga sahabat dari Universitas Tanjung Pura. Sekitar 23 peserta  yang mengikuti kajian ini 2 peserta dari UNTAN selebihnya kader dari IAIN Pontianak, dari 23 peserta merupakan kajian yang banyak di hadiri oleh kader karena sebelumnya tidak pernah sampai puluhan paling banyak biasanya 10 sampai 13 orang, hal ini menunjukkan bahwa kader PMII semakin hari makin semangat untuk belajar.

Setelah pemeteri  selesai menjelaskan dilanjutkan sesi tanya jawab, pertanyaan pertama di lontarkan oleh ketua Komisariat yaitu sahabat  Mustofa, kira-kira seperti ini pertanyaannya mengapa banyak  orang membenci dengan adanya PKI? Bagaimana kalau seandainya PKI ini kita dekati di ajak untuk membangun Negara Indonesia? Pertanyaan yang di sampaikan oleh ketua komisariat seakan –akan controversial dengan pemahaman masyarkat selama ini karena banyak orang menginginkan PKI harus di berantas jangan sampai ada benih yang menghancurkan pertahanan nasionalisme di Indonesia.

Di susul dengan pertanyaan kedua yaitu sahabat Farhan, apakah gerakan separatis sudah terjadi di masa muktazilah? Dan pertanayaan ketiga yang di lontarkan oleh sahabat kiki ia mengatakan, bolehkah masyarkat papua melakukan gerakan separatis dikarenkan adanya ketidak adilan sehingga papua menjadi merdeka?. Dari ketiga pertanyaan ini terjadilah diskusi antara pemateri dan peserta sehingga memecahkan suasana pasif menjadi aktif.

Setelah pertanyaan terjawab semua, pemateri memberikan kesempatan untuk bertanya pada sesi kedua namun tidak ada lagi yang bertanya karena waktu sudah larut malam maka kajian di tutup sekitar jam sembilan lewat. Setelah kajian di tutup di lanjutkan  dengan latihan hadrah dan sholawatan bareng dengan para sahabat

Check Also

Kisah Kaderisasi IPNU-IPPNU Cianjur Didaerah Perbatasan

Cianjur – NU Khatulistiwa, Cianjur merupakan Kabupaten terluas ke-2 setelah Kabupaten Sukabumi di Provinsi Jawa …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com