Home / Nyantri / Mu, Si Santri Pengabdi

Mu, Si Santri Pengabdi

Oleh: M Hasani Mubarok

Aku akrab memanggilnya Mu, seorang lelaki bertubuh tinggi, berkulit sawo matang dengan tekstur tubuh dalam bahasa Pontianak terbilang “bongkok udang”. Sehari-hari dia mengabdi pada seorang Ustadz di Siantan. Kurang lebih empat tahun dan hampir masuk tahun kelima dia tinggal bersama Ustadz yang sedang merintis sebuah Pesantren di daerah itu. Pagi hari dia akan ke ladang untuk bertani, siang istirahat dan sorenya dia mengaji sambil menyiapkan perapian untuk kawanan kambing yang turut dipelihara oleh Ustadz. Lokasi pinggiran kota yang tidak begitu akrab dengan hingar bingar macet, deru kendaraan dan sebagainya, membuatku sering untuk sekadar konsultasi sekaligus mengaji kepada Ustadz ini. Beliau bernama lengkap Ustadz Abdul Kholiq Baidlowi. Seorang guru lulusan Pesantren al-Mubarok Lan Bulan yang hidupnya dipenuhi dengan kesederhanaan.

Bersama sang Ustadz, Mu hidup dan tumbuh sebagai orang yang tak semua anak muda seusianya mampu menjalani. Hidupnya jauh dari I-phone, Android atau Hp yang di dalamnya berisi puluhan aplikasi untuk bersenang ria layaknya remaja melenial kekinian. Dia juga tak seperti kebanyakan pemuda yang jika akhir pekan memiliki jadwal eksklusif ke mana dan bersama siapa dan akan merayakan week end. Mungkin karena jadwal mengaji dan mengabdi yang begitu padat, sehingga hal-hal seperti itu begitu saja lepas dari alam hayalnya. Dalam seminggu 3 sampai 4 kali aku menempa sepeda motor butut untuk sekadar mengaji ke sana, dan sekian kali itu pula diskusi serta bertukar pandang kami lakukan.

“Aku sebenarnya udh gak betah di sini” katanya suatu ketika kepadaku. Kata-kata ini mengundang reaksi untukku bertanya kenapa. Seketika itu pula, dia menumpahkan segala kegelisahan yang mungkin selama tiga tahun terakhir dia pendam, tepat setelah patner seangkatan mengabdinya memutuskan untuk berhenti. Sebagai teman, aku mencoba meresapi dalam-dalam setiap butir ungkapan “galau” yang dia utarakan.  Dia kemudian menutup dengan sebuah ungkapan “nt bisa bayangkan sendiri lah kondisi di sini” dengan gaya khasnya.

Mendengar itu, aku terdiam dalam jeda yang agak lama. Bisa jadi, dia berkata demikian karena aku selalu bilang kalau dia berada dalam garis hidup yang beruntung karena diberi kesempatan oleh Allah untuk selalu dekat dengan orang-orang baik. Namun, terlintas dibenakku “jangan-jangan memang pilihan hidup seperti begitu berat”. Dengan melihat aktifitasnya yang hanya berputar antara surau tempat santri mengaji, kebun tempat dia bertani, sungai tempat dia mandi, kandang kambing dan teras rumah Ustadz tempat mengaji, memang terlihat memenjarakan jiwa mudanya. Di saat kawan-kawan seusianya telah berupaya mengumpulkan rupiah dan meretas jalan karir untuk masa depan, dia malah hidup dalam satu kondisi yang tak menampilkan keduanya.

Kemudian aku bandingkan dengan diriku yang beraktifitas antara kampus, organisasi, mengajar di beberapa pesantren dan bersantai ria di warkop untuk sekadar melepas lelah, Hp Android yang selagi punya kuota bisa mengakses berbagai macam perkembangan dunia yang penuh serba-serbi – aku mulai merasa, bahwa bagaimana rasanya jika aku berada pada posisinya. Mungkin stress ringan akan melandaku begitu saja. Atau aku akan merangkai kata-kata sopan dan mohon undur berhenti dari pengabdian itu. Ahh, aku tak berani melanjutkan. Ku pilih menanggapi pernyataan terakhir dari Mu.

Dalam jeda panjang itu, aku hanya memberikannya satu ungkapan singkat yang diharapkan bisa jadi motivasi, penguat di tengah gundah atau hanya sekadar memberi obat penenang baginya. Sebuah hadis yang banyak dicantumkan di kitab-kitab klasik sebagai janji Allah Swt bagi para penuntut ilmu.

من يرد الله به خيرا يفقه فى الدين

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan Agama-Nya” (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan hadis itu, aku berupaya meyakinkan si Mu sekaligus bagiku, bahwa apabila Allah berkehendak untuk memberikan kebaikan kepada seseorang, dunia dan akhirat, maka Dia akan memberikan jalan melalui kesempatan untuk tafaqquh fiddin.

Angin malam berhembus, lirih dingin menyapa, ku teguk kopi terakhir dan mulai berucap pamit padanya. “Aku balek lok Mu, subuh ngajar”. Dia hanya meyahut “hati-hati” dengan wajah yang tampak sedikit cerah, seolah mengungguli warna sawo matang kulitnya. Sepeda motorku berderu memecah sunyi jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *