Home / Opini / Meneguhkan Konsensus Berislam Kita

Meneguhkan Konsensus Berislam Kita

Gambar: KRJogja

Oleh: M Hasani Mubarok*

Negara ini seperti tiada habis berbicara tentang keislaman dan keindonesiaa. Dua komponen penting ini seperti sudah menjadi takdir bagi suatu bangsa sebesar Indonesia dengan pluralitas di banyak sisi. Walaupun mayoritas penduduk negera ini adalah Islam, namun di sisi lain memberikan porsi dan pengakuan yang sama terhadap agama-agama lain yang berlindung di bawahnya merupakan fenomena yang langka di tengah dominasi mayoritas atas minoritas di banyak negara. Di negeri ini, mayoritas bisa duduk dan saling mengakui keberadaan minoritas atas nama satu bangsa, adalah anugerah terbesar yang tidak kita temukan di banyak negara lain.

Indonesia adalah tempat bagi keragaman tersemai dan bersatu dalam satu bingkai bernegara bangsa. Di tengah silang perdebatan tajam antar ideologi besar dunia hari ini, Indonesia masih mampu mempertahankan jati diri bangsa sebagai sebuah kesatuan yang tak gampang dipecah belah. Inilah alasan bagi seluruh rakyat agar pandai mensyukuri kebhinekaan dan persatuan.

Walau demikian, perjalanan tidak berhenti di titik itu, tantangan terus saja hadir dan semakin terjal, tatkala benturan ideologi mulai berusaha mengungguli lainnya atas nama kebebasan dan aspirasi kebenaran. Respon balik juga menambah panasnya perdebatan ideologis itu, sehingga tak jarang berujung pada skisma yang bisa mengancam keutuhan bangsa. Pertikaian semakin terfasilitasi dengan wadah media yang semakin bebas menebar dan mengkonfirmasi isu, sehingga pemerataan opini hingga ke pelosok negeri telah membuat atmosfer bangsa semakin rentan perpecahan.

Di antara banyak ragam perdebatan ideologis yang kian marak itu ternyata seringkali lahir dari tidak bertemunya simpul-simpul pemahaman keberislaman dan keindonesiaan sekaligus. Dalam hal ini Islam mendominasi banyak isu penting oleh karena kuatnya tradisi dan budaya Islam yang melekat dalam serba-serbi berbangsa kita. Maka tak heran, perdebatan ideologis seringkali mempertemukan antara nilai-nilai Islam dan nilai Indonesia dalam satu gelanggang tarung yang tentu diwarnai banyak motif. Agama lain dalam pertarungan ini seringkali jadi penonton dan memilih tak masuk dengan identitasnya. Resikonya kemudian, agama bersangkutan hanya menjadi pelampiasan dari serpihan isu-isu yang penuh motif tumpang tindih tersebut.

Maka, mengutip wejangan dari Gus Mus dalam sebuah talk show, bahwa Islam bertanggungjawab atas kondisi bangsa ini baik dan buruknya. Mengingat Islamlah yang membentuk, menjaga dan menjadi juru mudi kemana bangsa ini hendak menuju. Dari sisi ini, mayoritas Islam memang mendominasi, namun di sisi lain, sifat akomodatif negara terhadap semua agama dan wujud keberagaman di negeri ini adalah hasil dari penerjemahan keberislaman pula. Dari sinilah Islam hanya mayoritas dan mendominasi dari sisi kuantitas, sedangkan sebagai sebuah komponen negara, Islam adalah sama rata dengan agama lain di negeri ini.

Meninjau pola berislam kita

Sebagai agama yang lekat dengan di dalamnya aspek-aspek teologis, Islam Indonesia tentu sama dengan Islam di tempat lain. Tapi sebagai sebuah nilai yang hidup dalam satu lokal, Islam Indonesia memiliki tuntunan fiqih yang juga berangkat dari isu-isu yang dideterminasi oleh budaya dan tradisi yang berkembang di tempat di mana dia hadir. Di sinilah Islam sebagai sebuah nilai universal harus masuk ke dalam setiap partikel kehidupan spesifik manusia. Dialektika konstan antara teks wahyu dan konteks lapangan terjadi dan membentuk secara umum frame Islam yang sarat dengan kearifan lokal yang berkembang. Indonesia dalam hal ini telah membentuk wajah Islam yang tidak kita temukan dalam banyak pola berislam di negeri lain. Ini bisa diidentifikasi ketika mengurai relasi Islam sebagai sebuah nilai yang hidup di tengah masyarakat plural dengan aspek-aspek yang lekat dengan kondisi di Indonesia.

Sejauh ini, pola saling mengisi bergantian antara agama dan hal-hal yang sifatnya lokal memang sudah berjalan dengan baik. Bahkan, hubungan harmoni ini menjadi identitas otentik yang menunjukkan bahwa bangsa ini masih terus berjalan di atas rel dan jati luhurnya sendiri. Dari sini, integrasi antara agama dan negara menunjukkan kemesraan, sehingga Islam Nusantara menemukan basis historis dan materi konkrit di lapangan fakta.

Masuknya agama dalam relung-relung kehidupan dan budaya lokal, menunjukkan bahwa bangsa ini masih terus memegang teguh fondasi utama yang telah digariskan oleh nenek moyang, yakni religiusitas. Bahkan untuk hal terkecil seperti nasib, cobaan dan hal-hal remeh yang menghiasi hidup, agama masih menunjukkan vitalitas keberedaannya. Seperti dzikir, istighosah, doa bersama dan ragam bentuk selamatan kerapkali dijadikan sebagai jalan untuk menjawab problem-problem kehidupan seperti kemarau, kekeringan, tanaman sering diganggu hama atau bentuk krisis yang lain. Religiusitas ini begitu berarti di tengah pergerakan zaman yang semakin menjauhkan agama dengan peraliran budaya sebuah bangsa.

Agama dan isu struktural kita

Seperti tak tampak gesekan antara Islam dan kebudayaan, kecuali menurut sebagian pemikiran yang mengambil jarak dengan tradisi dan memahami Islam sebagai sebuah dogma yang tidak mampu bersikap akomodatif dengan budaya. Hal ini berbanding terbalik tentang realita Islam ketika persentuhan tak terelakkan dengan isu-isu struktural dalam berbangsa dan bernegara yang ternyata sering mempersembahkan puluhan bentuk ekspresi dan pemikiran Islam yang multi-variatif.

Friksi serta teririsnya berbagai macam pemikiran dan ekspresi dalam menanggapi isu-isu struktural yang didominasi oleh warna politik dan hukum itu, telah meneguhkan sekali lagi bahwa dalam hubungannya dengan realita sosial politik, Islam memiliki keragaman interpretasi terhadap konsep dan nilai-nilai yang ada di dalam. Karena itu, perbedaan cara pandang dan pola membaca menjadi begitu determinatif untuk megetahui lebih jauh seperti apa corak yang dikembangkan oleh satu kelompok tertentu dalam Islam di wilayah ini.

Perbedaan pandang itu sekilas lalu tampak alamiah dan maklum, mengingat Islam sebagai sebuah kuasa nilai memang begitu potensial untuk dipahami dengan puluhan cara pandang. Bahkan, realita sosial politik yang dinamis memang mengharuskan perubahan serta perbedaan dalam mengambil bentuk pemahaman. Namun, di sisi lain, realita ini dapat menjadi bumerang dan dalang dari cikal balak terjadinya konflik antar sesama agama bahkan di luar agama yang semakin keras di kemudian hari. Hal ini belakangan terakhir semakin tampak di Indonesia, di mana dominan perpecahan dan gesekan bukan terjadi antar Islam versus agama lain, tapi menghadirkan sebuah konflik satu warna keislaman dan bentuk lainnya yang mengatasnamakan Islam.

Untuk Indonesia dengan populasi muslim terbesar di dunia terkhusus di rumah sendiri, friksi antar satu bentuk keberislaman dengan bentuk yang lain secara langsung juga berdampak terhadap kondisi Indonesia secara umum. Opini massa yang semakin hari seolah semakin panas tentang kebhinekaan dan sebagainya, selalu hadir melalui opini-opini yang di dalamnya Islam mengambil peran lebih –untuk tidak mengatakan mendominasi. Efeknya adalah, keretakan terlihat di sana-sini hanya karena terlalu runcingnya perbedaan yang mengitari dinding berbangsa kita. Lampu merah pun menyala, bahwa jika hal ini terus berlarut, maka desintegrasi bangsa sulit untuk dielakkan.

Tentu kita tak bermaksud mengajak agar pemikiran keislaman lahir dalam sebuah bentuk monolitik. Karena hal ini justru menunjukkan sebuah fase kemunduran dialektika pemikiran Islam yang tidak baik. Namun peneguhan konsensus dalam bernegara bangsa selayaknya dijadikan landasan yang ideal bagi seluruh pemikiran Islam yang hadir. Dalam artian, bahwa kesatuan dan kesatuan antar berbagai agama dan ras yang ada di negeri ini, seharusnya mencapai titik kesepakatan dalam satu bentuk, agar keutuhan tetap terjaga sebagai sebuah bangsa dan satu negara.

Tragedi muslim Rohingya di Myanmar yang semakin memantik amarah dunia akhir-akhir ini layak menjadi sorotan, yang mana bangunan satu bangsa tak bermakna apa-apa kecuali untuk satu entitas dan agama yang mendominasi, sedangkan agama di luarnya harus diberlakukan tak adil. Indonesia sejauh ini, dengan spirit nasionalisme yang masih terus diperbaharui dan dijaga, membuatnya tetap utuh walau ribuan suku, bahasa dan keyakinan berbeda tumbuh subur di dalamnya. Tragedi Rohingya dan berbagai kepentingan yang bermain di dalamnya, secara ringkas disebabkan oleh karena tidak adanya semangat persatuan dan kesatuan dalam bingkai satu bangsa dan satu tanah air, sehingga satu agama dominan dengan dukungan kekuatan militer yang memadai telah merenggut hak hidup dan hak tinggal bagi masyarakat muslim yang ada di tanah tersebut (Rakhine Utara).

Dalam hal ini, sudah waktunya menerjemahkan Islam sebagai sebuah nilai komprehensif (kaffah) dan solutif bagi setiap titik kehidupan – Dunyawi dan ukhrawi– termasuk dalam hal ini persentuhannya dengan isu-isu struktural agar tetap berada pada rel yang tidak membahayakan persatuan dan kebhinekaan. Sejauh apapun interpretasi kita terhadap sebuah nilai, selayaknya harus tetap berporos pada satu titik, yakni keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

*Ketua 1 PC PMII Pontianak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *