fbpx
Home / Catatan Ringan / ​SEJARAH MASJID RAYA CAMPALAGIAN (Bagian ke 5)

​SEJARAH MASJID RAYA CAMPALAGIAN (Bagian ke 5)


Oleh : Dr Wajidi Sayadi, M.Ag

Masjid ini sekarang terdapat di Kampung Masigi Desa Bonde Kecamatan Campalagian. Ukuran bangunannya terdiri dari 40 m X 42 m. Di sebelah depannya Jalan M. Daaming, nama sebenarnya adalah H. Muhammad Amin. Beliaulah yang mempelopori sehingga posisi masjid berada di tempat ini, sebab Beliaulah yang mewakafkan tanahnya untuk pendirian dan pembangunan masjid ini. Beliau ini dikenal sebagai To Mallinrungnge sebagai gelar kehormatan. Sebelah utara adalah Jalan Masjid Raya. Sebelah selatan Jalan KH. Maddappungen dan Jalan KH. Muhammadiyah, sebelah timurnya jalan H. Muhammad Said.

Proses pendirian dan perkembangan masjid ini telah mengalami 2 periode: 1) Periode Banua, dan 2) Periode Kampung Masigi. Periodisasinya ini didasarkan pada tempatnya.
1. Periode Banua

Pada periode Banua, masjid ini masih berupa langgar atau mushalla, di tempat lain lebih populer dengan nama Surau.

Banua artinya kampung, daerah atau wilayah. Banua yang dimaksud sekarang adalah sebuah Dusun Banua yang terletak di Desa Parappe masih wilayah Kecamatan Campalagian.

Dalam sejarahnya Banua dahulu merupakan pusat kegiatan pemerintahan Campalagian yang berbentuk otonomi yang dipimpin oleh seorang Raja bergelar Maraddia. Kepemimpinan Maraddia di Banua ini berlangsung sejak sekitar pertengahan abad XVIII M sebelum kolonial Belanda datang daerah Mandar. Di Banua ini terdapat seorang tokoh penyebar agama Islam yang digelar To Matinro-E ri Dara’na (artinya harfiahnya orang yang tidur di kebunnya) sekitar pertengahan abad XVIII M diperkurakan tahun 1750 M. Kuburan To Matinro-E ri Dara’na sampai saat ini masih ada di Dusun Banua Desa Parappe dan masih diziarahi banyak masyarakat. Bahkan Syarifah Munawwarah binti Habib Hasan al-Mahdali isteri Syekh Hasan al-Yamani pernah berpesan, apabila ia wafat, minta dimakamkan dekat dengan kuburan To Matinro-E ri Dara’na. Akhirnya ketika wafat tahun 1970-an, Beliau dimakamkan sebagaimana permintaannya. Kakeknya KH. Muhammad Zein dan KH. Mahdi Buraerah bernama Muhammad Ya’kub yang melahirkan H. Buraerah dan H. Abdurrahman (ayahnya Haji Aco Kepala Bonde yang melahirkan Juniara ibu dari Wajidi Sayadi) juga dimakamkan di area pemakaman To Matinro-E ri Dara’na.
Setelah periode To Matinro-E ri Dara’na muncullah periode To Ilang. To Ilang arti harfiahnya orang yang pernah menghilang. Masyarakat setempat mempercayai bahwa jasadnya dikuburkan di Desa Bonde. Tempatnya itulah yang sekarang disebut pekuburan To Ilang di Jalan Toilang. Menurut cerita dari masyarakat dahulu bahwa To Ilang ini adalah tokoh penyebar Islam yang datang di Campalagian berasal dari Mekah mengendarai sehelai tikar (mungkin semacam Sultan Saladin bersama jin menggunakan sehelai tikar di udara). Allahu A’lam.

Periode To Ilang berlangsung sekitar abad XVIII M sampai sekitar abad XIX M, diperkirakan sekitar tahun 1790 M.

To Ilang inilah yang mula-mula mengajarkan aturan hukum syariat tentang tata cara mengeluarkan zakat fitrah dengan menggunakan sukatan gantang yang populer bagi masyarakat dahulu dengan nama Gantang To Ilang. Beliau juga banyak kerja bersama dengan para tokoh masyarakat dan tokoh agama, khususnya dengan guru agama, yakni guru ngaji. Tokoh agama yang diajak secara khusus oleh To Ilang adalah Puanna Laumma’ untuk membangun sebuah tempat shalat berjamaah dan mengaji serta kegiatan keagamaan lainnya. Tempat shalat yang dibangun inilah yang disebut Langgar. Puanna Laumma’ sendiri yang langsung ditunjuk menjadi imam atau bahasa adat setempat adalah Qadhi karena Beliau juga yang memutuskan perkara dan masalah yang dihadapi masyarakat. Langgar inilah yang kemudian dalam perkembangannya menjadi Masjid dan itulah Masjid Raya Campalagian.

Apabila mengacu pada perkiraan masa periode To Ilang sekitar tahun 1790 M, maka boleh dikatakan berdirinya Masjid Raya ini pertama kali oleh To Ilang bersama Puanna Laumma adalah tahun 1790 M, maka masjid ini sudah berumur 227 tahun.

Selama periode Banua, Langgar ini sudah dipimpin oleh 5 orang Qadhi, yaitu 1. Puanna Laumma’. 2. Hadji Pua’ Djamila. 3. Pua’ Tjani. 4. Pua’ Tipa, dan 5. Hadji Djannatong.

(Bersambung ………….)
Bandara Soekarno-Hatta, 25 September 2017

Tinggalkan Balasan