Home / Opini / ​Hewan, Pelajaran Penting Idul Adha

​Hewan, Pelajaran Penting Idul Adha

Oleh : Muhammad Hasanie Mubarok

Ketua 1 PC PMII Kota Pontianak / Santri Ponpes Al Jihad Pontianak

_____________________________

Harus diakui bahwa di Kota ini (Pontianak) Idul Adha mungkin tak semarak kota-kota lain yang menjadikan lebaran kecil ini dengan penuh riang gembira. Masyarakat di sini lebih senang kembali kepada aktifitas masing-masing selepas salat Ied, tentu berbanding terbalik dengan Idul Fitri. Ini semua wajar, karena berkembang sebuah keyakinan kecil di hati umat, bahwa lebaran ini hanya untuk mereka yang hari ini berkesempatan melaksanakan Haji (semoga kita diberikan kemampuan untuk ke sana). 
Idul adha –seperti biasa- seringkali ditandai dengan sesaknya sisi-sisi jalan dengan macam-macam jenis kambing, sapi, domba dan serba-serbi ketupat. Media sosial dipenuhi profile dengan twibbon cap kambing dan sejenisnya tanda partisipasi, status ucapan permintaan maaf dan salam hari lebaran sebagaimana biasanya ditujukan kepada teman, kerabat dan handai taulan. Yang menarik, Idul Adha sepertinya menjadi hari lebaran bagi hewan-hewan Qurban. Karena tiada lebih fenomenal selain kambing, sapi dan lain-lain menjadi ikon penting di hari ini. 
Seperti biasa, sebagian pemilik status membaper di media tentang hewan qurban dan nilai-nilai reflektif yang ada di dalamnya. Bahkan dengan nada bijak, sebagian orang berkata bahwa momen idul adha adalah saat yang tepat untuk kita lepas dan “menyembelih” sifat-sifat kebinatangan yang mengurung di dalam diri. Bagi sebagian masyarakat, mungkin kata-kata ini sangat bermakna, mengingat binatang memang selalu dipandang sebelah mata oleh sebagian kita, tanpa merasa bahwa kita telah banyak berhutang budi kepada komunitas makhluk yang satu ini. 
Adakah binatang di sisi manusia memang selalu akrab dengan imej negatif dan sifat-sifat tak terpujinya itu? Mungkinkah manusia hanya kesal karena pada malam hari tidurnya harus terganggu oleh gangguan kutu busuk (kepinding)? Adakah mereka memadang hewan sebatas karena selalu dibuat marah oleh ayam-ayam yang selau “menghiasi” pekarangan rumahnya dengan kotoran? Apakah mereka memandang keji hewan karena kucing yang selalu membuka tudung saji untuk sekadar mencuri sepotong kepala ikan asin? 
Bukankah masyhur di kalangan kita tentang segerombolan pemuda yang kemudian dikenal dengan sebutan “Ashabul Kahfi” selama bertahun-tahun terlelap dalam goa dan tak terganggu oleh penjahat karena pertolongan anjing peliharaan mereka. Dan Rasulullah yang agung menjadikan kehendak ontanya untuk menghantar beliau kemana kediaman yang akan dituju ketika beliau tiba di Madinah. Abu Hurairah (bapak kucing) adalah seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis ternyata seorang penyayang kucing sehingga diberi julukan demikian. Bahkan, Syeikh Syamsuddin Madura (Nawwarallahu Qobrohu) dalam beberapa kisah diceritakan– memelihara beberapa kutu busuk di bantalnya agar tidak diberi rasa nyaman kala tidur sehingga waktu malamnya maksimal untuk bermuwajahah dengan Allah. Dan, ayam, kambing serta beberapa hewan lain menjadi santapan hampir semua manusia dibelahan bumi manapun.  
Lalu manakah sifat hewan yang -katanya- harus kita sembelih pada momen ini? Keserakahannya? Mereka mencari makan, hanya untuk makan. Tiada satu hewan pun yang memangsa kecuali untuk sekadar makan, bukan untuk menjadikannya sebagai tangga untuk menjadi penguasa dan dengan bebas mengeksploitasi kawanan hewan lainnya. Lalu, marilah kita tanya balik, Seberapa serakah mereka dibanding manusia? Kita hanya perlu berfikir sejenak membuang ego. 
Sifat hewan yang manakah yang begitu buruk untuk kita teladani hari ini? Mereka sering berbuat mesum di tempat umum? Jika ini yang dimaksud, sungguh kita harus melepaskan kacamata kebodohan. Mereka senang mencuri makanan? Adalah bagian dari cara hidup yang sudah diatur oleh Allah. Yang harus kita tahu, tiada satu atribusi tentang baik, buruk, malu, berani, cela, terpuji dan sebagainya yang bisa kita lekatkan ke hewan, karena mereka berbuat dengan penuh jujur (no modus) dan di bawah tabiat hewani mereka. Sifat itu hanya diberikan oleh manusia yang merasa selalu lebih berkuasa di atas segalanya. Hewan tak bersifat sebagaimana kita seringkali melihatnya, kecuali mereka ada dan hidup. 
Sifat siapakah dan manakah yang sebenarnya harus disembelih oleh kita sebagai manusia melalui momen penting ini? Sifat keangkuhan, kesombongan, keserakahan atau ketidakmaluan siapakah yang semestinya ditanggalkan saat ini? Siapakah yang paling banyak memangsa satu sama lain dari dua spesies makhluk bumi ini? Siapakah yang paling banyak merugikan lingkungan hidup sehingga kerusakan di mana-mana? Siapakah yang telah membunuh ribuan bahkan jutaan spesies hewan yang hari ini termasuk satwa langka?
Idul Adha seharusnya menjadi momen kita untuk lebih dekat dengan hewan, bersyukur atas keberadaan dan kerelaan serta penundukan mereka atas kepentingan umat manusia, bukan dengan mengambil jarak jauh sehingga kita semakin terlupa dan terperosok dalam jurang sombong dan angkuh. Bukankah sejatinya kita adalah bagian dari hewan hanya saja kita dilengkapi dengan perangkat akal budi? Bukankah kambing, sapi, ayam dan lainnya adalah hewan yang tidak diberi akal budi? Al-Insan Hayawan Natiq. 
Terakhir, aku teringat tentang sebuah kisah yang disebutkan di dalam kitab Kasyifat as-Saja ala Syarhi Safinat an-Naja karya Syeikh Nawawi al-Banteni al-Jawi tentang keharusan manusia meneladani sepuluh sikap terpuji yang dimiliki dan lekat dalam kepribadian seekor anjing. Seekor hewan yang sering kita sebutkan untuk merendahkan orang lain. Seekor hewan yang –di Pontianak- sering kita jadikan sebagai bahan dasar sarkasme dalam berucap namun begitu disayang oleh para Sufi. 
#Selamat_Idul_Adha

#Semoga_Bahagia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *