Home / Berita Foto / Tasawuf dan  Syariat Islam, Azimat Kemerdekaan RI

Tasawuf dan  Syariat Islam, Azimat Kemerdekaan RI

Oleh: Holi Hamidin, S.Pd.I

Aktivis MWCNU Pontianak Utara

Besokk (17/08), adalah hari spesial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada hari itu, rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Pasalnya, tepat tanggal 17 Agustus itu, Indonesia, melalui Presiden Ir. Soekarno, menyatakan kemerdekaan kepada seluruh Negara di berbagai belahan dunia.

Kemerdekaan itu, selain dapat diraih dengan susah payah, juga dapat dipertahankan selama 72 tahun lamanya. Sebagaimana pengamat sepakbola mengatakan, mempertahankan lebih sulit daripada meraih kemenangan. Bukan berarti pahlawan kita dahulu mengambil kemerdekaan ini dengan mudah, tapi maksud saya, dua-duanya sama-sama sulit, tetapi menurut pengamat sepakbola, lebih sulit mempertahankannya daripada merebutnya.

Untuk itulah, seluruh masyarakat berbahagia. Setidaknya, kebahagian tersebut disebabkan 2 (dua) faktor. Faktor pertama, karena dianugrahi tuhan kemerdekaan. Sedangkan faktor kedua, republik ini, masih Allah SWT, lindungi dengan diberi kekuatan dalam mempertahankan.

Bayangkan saja, penduduk Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama serta bahasa, tak lantas jadi alasan dalam memangkas atau meringkas bilangan kemerdekaan saat ini. Bahkan, perbedaan tersebut menjadi kekuatan yang hingga saat ini masih tetap kuat menjadi benteng kokoh pertahanan Negara. Tentu hal ini bertolak belakang atau tidak sesuai dengan nalar dan teori para akademisi sosial dunia. Saya pun beransumsi, kemerdekaan ini, jika bukan sebagai bentuk rahmat Allah SWT, kepada kita rakyat Indonesia, tentu umur kemerdekaan kita ini, tak sepanjang jalan dari sabang hingga merauke.

Menyinggung tentang perbedaan, manusia yang paling agung di dunia hingga saat ini, Sayyidina Muhammad SAW, pernah bersabda bahwa ummatnya  akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Menurut beliau, diantara golongan tersebut terdapat satu golongan yang akan selamat. Sabda beliau pun dibenarkan dan kita, yang lahir pada abad ini melihat perpecahan dalam kubu Islam itu sendiri. Tak hanya itu, setelah wafatnya baginda nabi Muhammad SAW, perlahan tapi pasti, perpecahan Islam pun telah ada. Sebelum mengomentari apa yang tersebut di atas, saya ingin mengatakan bahwa semua ini menunjukkan bahwa benar Firman Allah yang berbunyi, sesungguhnya, tidaklah apa yang dikatakan oleh seorang nabi, kecuali wahyu Allah. Lahaula wala Quwwata Illa Billah…

Ya. Beberapa orang pintar dan pandai, sekaliber Professor, Doktor dan sebagainya mencoba kepiwaiannya meneliti tentang keadaan Islam saat ini khususnya di Indonesia. Islam pecah dan tak bersatu, Islam berpecah-belah, Islam bla-bla-bla. Untuk itu, dalam rangka memperbaiki negeri ini, Islam harus bersatu dan sebagainya. Begitulah komentar mereka saat mereka mengomentari tentang Islam di Indonesia. Belum lagi tentang apa yang telah terjadi di timur tengah. Yang pada intinya, merendahkan martabat Islam. Mengomentari pendapat itu, dengan ini, saya menyatakan bertolak pandangan dengan pendapat tersebut di atas. Alasannya adalah firman Allah SWT dan Hadist Baginda Nabi Muhammad SAW serta pendapat para ulama yang pada intinya, perbedaan adalah rahmat bukan sebaliknya. Itu dapat dibuktikan oleh Republik Indonesia.

Sebelum menjurus ke permasalahan yang lebih panjang, saya ingin menyampaikan pendapat ketua harian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, kepada pemirsa, bahwa Islam bukan hanya tentang Syari`at dan Aqidah saja, tetapi jika bicara tentang Islam, ketika bicara tentang Islam, selain kedua hal itu, juga bicara tentang ilmu pengetahuan, pembangunan, kemajuan, peradaban, kebudayaan, politik, ekonomi, dan kemanusiaan. Wow, mungkin itu sedikit dari apa yang telah beliau pelajari.

Loh, pertanyaannya, kenapa Negara yang mayoritas dihuni oleh Islam, tak maju-maju? Bahkan, Negara yang tak berpenghuni Islam, jauh lebih maju dan berkembang ketimbang Negara lain yang dihuni non muslim? Tentu hal ini menjadi masalah. Antara teori dan fakta lapangan berbeda.

Ukuran Keberhasilan

Itulah terkadang saya geli tertawa sendiri. Negara maju dan berkembang menjadi ukuran keberhasilan, untuk semua hal. Ini sangat memprihatinkan, untuk saya dan orang-orang yang mengerti. Jika ada seseorang yang mengukur keberhasilan dari maju dan kembang seseorang atau sebuah Negara, tentu orang ini telah terjangkit virus hedonisme alias hubbud dunnya (cinta dunia). Tapi memang, untuk maju dan berkembang, bagus untuk sebuah Negara. Akan tetapi tak dapat kita jadikan tolak ukur sebuah keberhasilan.

Saya melihat, teori yang disampaikan oleh ketua PBNU dan fakta yang ada di Indonesia sekarang ini, masih komprehensif. Inti sari ajaran Islam adalah rahmatan lil `alamin. Di Indonesia sendiri, tentu telah rahmatan lil a`lamin. Dimana-mana saya melihat orang yang tak saya kenal, bisa saling sapa dan senyum. Teman saya, pulang pagi pergi malam, aman dan selamat sampai tujuan. Masjid dan Gereja berdampingan. Masjid dan Pekong, berdampingan. Pekong dan Gereja, berdampingan. Ngopi berdekatan dengan beda bahasa, aman dan tentram. Barang naik, aman. Barang tambah naik, aman. Sesama tetangga, hidup rukun dan saling gotong royong. Teman sakit, didatangi. Teman mati, ditahlili. Tak punya uang, berhutang. Punya uang, ditabung atau disimpan dan dibawa kemana saja, aman.

Saking amannya di Indonesia, wanita busana non aurat (tak menutupi aurat), aman walaupun keluyuran malam-malam. Tak perlu sewa satpam dan jaga ronda (walau dibeberapa tempat ada tapi umumnya tidak menggunakan), aman terjaga. Mau mandi, dimanapun dan kapanpun. Ada peminta-minta, ada uang kita kasi, tak ada uang, senyum ramah sebentar. Mau sholat dimanapun dan kapanpun. Mau shadaqah dimanapun dan kapanpun, mau dakwah, dimanapun dan kapanpun, jika mau. Mau kawin lagi, ya monggo, mau tetap satu pun tak masalah. Pendidikan gratis dimanapun dan kapanpun. Kesehatan murah, kapanpun dan dimanapun (tergantung penyakitnya). Anak-anak bermain semaunya dimanapun dan kapanpun.

Itulah ukuran keberhasilan saya untuk Indonesia dan Negara-negara lainnya. Masalah maju dan berkembangnya, tak layak jadi ukuran. Untuk apa menjadi Negara maju dan berkembang, kalau warganya, bangun pagi sudah sibuk siap-siap kerja lalu pulang kerja jam 10-11 malam. Tidurnya nyuri-nyuri pas istirahat di kantor. Ya, kalau di Indonesia, mau tidur jam berapa pun, silahkan asal tak merugikan orang lain. Untuk apa menjadi Negara maju dan berkembang, kalau warganya selalu tertekan dan khawatir diserang orang. Untuk apa menjadi Negara maju dan berkembang, kalau anak sendiri tak pernah diajak bermain dengan orangtuanya sendiri.  

“Oh, orang-orangnya suka nipu dan korup…?” kata yang suka nyinyirin kemerdekaan Indonesia.

Begini ya, manusia yang sempurna itu hanya baginda Nabi Muhamamd SAW. Selainnya, adalah tempat salah dan lupa. Itu sabda manusia yang paling sempurna. Mau siapapun yang suka nipu, korupsi, pencuri, maling, hobi berdusta dan zina, itu masalah personal sebagai manusia. Sifat-sifat itu dimiliki oleh seluruh manusia di belahan bumi ini. Di Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, Amerika, Tionkok dan lain sebagainya, pasti juga dipenuhi dengan orang-orang yang memiliki sifat-sifat itu. Indonesia hanya salah satu daripada mereka. Bahkan, di zaman nabi Muhammad pun, manusia yang berwatak demikian juga ada.

The science of Syari`at and Tasawwuf is The Power of Control

Sebenarnya, masalah maju dan berkembang, itu masalah ekonomi. Sedangkan korupsi dan penipuan, adalah masalah sosial. Jujur saja, di Indonesia, ekonomi dan sosial, teramat kalah jauh dibandingkan dengan Negara lain. Jauh tertinggal. Tetapi untungnya, ketertinggalan itu tak lantas menjadi penyebab masyarakat Indonesia menjadi barbar dan bahkan menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup di Indonesia.

Menurut hemat saya, hal itu terjadi, karena adanya Islam. Faktanya, Indonesia mayoritas muslim. Inilah faktor utama atau alasan yang tepat sesuatu hal yang mampu mengontrol Indonesia tetap aman dan kondusif seperti saat ini. Khususnya muslim penganut Syari`at dan Tasawwuf. Hukum syari`at mewajibkan, mengharamkan, membolehkan, memakruhkan dan menyunnahkan kelakuan seorang muslim. Tasawwuf, menjaga hati seorang muslim dari sifat sombong, rakus, khianat, iri, dengki, merasa lebih baik dengan orang lain, angkuh, bejat, dan lain sebagainya.

Syari`at Islam mengontrol seorang hamba mentaati peraturan yang ada. Bilamana, Islam mengatakan haram, maka tanpa sanksi apapun, ia berfikir dua kali untuk mengerjakannya. Makanya, wanita keluyuran tengah malam pun, aman-aman saja walau auratnya diumbar-umbar. Iya, takut dosa. Jangankan pegang, melihat saja dosa besar. Itu hal sepele saja. Syari`at mengharamkan mencuri, berzina dan berbuat aniaya, makanya Indonesia merdeka.

Tasawwuf menjaga hati seorang hamba untuk memiliki sifat hasud, iri, dengki, pamer dan angkuh atau sombong. Selain itu, tasawwuf mengajarkan muslim, bahwa rizqi, maut dan jodoh, sudah diatur oleh Allah subhanahu wa ta`ala.  Makanya, mau barang naik sebesar apapun, muslim ahli tasawwuf, masih bisa hidub tenang dan nyaman di rumahnya.


Islam yang dalam hal ini mampu menebarkan Ilmu Syari`at dan Tasawwuf untuk Indonesia kepada seluruh masyarakat kalangan bawah hingga atas, menciptakan keamanan, kenyamanan, ketentraman, dan kebahagian dunia dan akhirat. Itulah azimat ulama nusantara untuk Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Walau keadilan meraja-lela dimana-mana, rakyat akan tetap bersabar dan ikhlas menjalani itu semua. Hal ini sebenarnya, yang menyebabkan republik ini, tetap berdiri kokoh dalam perbedaan yang beraneka ragam. Ya. Adanya Islam merupakan rahmat untuk seluruh alam. Perbedaan sesama muslim, bukan kelemahan, melainkan sunnatullah yang Allah ciptakan untuk kebersamaan yang hakiki. Amin wallahu`alam Bis sowab…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *