Home / Opini / Ketika Khutbah Jum’at Tak Lagi Bersahabat

Ketika Khutbah Jum’at Tak Lagi Bersahabat


Oleh: M.Hasanie Mubarok

Nahdiyin Muda Pontianak

Hari jumat begitu spesial karena memiliki tingkat keunikan tersendiri dari sekian bentuk ibadah lain yang digariskan oleh syariat. Biasanya, di pesantren-pesantren, hari jumat adalah tempat untuk sejenak rehat dan merengangkan otot otak yang selama enam hari dijejali oleh pelajaran dan rutinitas formal yang ketat. Jumat adalah hari bersantai dan sejenak melupakan kerumitan Nahwu Shorof, sebelum harus bertempur lagi pada malam harinya. 
Bagi masyarakat umum, hari jumat adalah fase untuk melupakan serba-serbi duniawi minimal satu jam dalam seminggu. Karena pada kesempatan ini, seorang bisnismen yang mungkin selama hari-hari kerja kian sibuk dengan urusannya hingga tak ada waktu untuk sekadar menghadiri majlis taklim, pada hari ini (jumat) dia diwajibkan untuk menghadiri kuliah umum dan merebahkan rohani dengan mau’idztul hasanah yang disampaikan oleh Khatib dan tentu gratis. Pada hari ini, melalui materi agama yang disampaikan Khotib, kita diajak untuk menuntut ilmu agama barang sekejap. Melalui mimbar jumat, Allah menyapa hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih dan cinta tak berhingga. 
Namun apa jadinya, jika hari jumat sudah tidak lagi memberi kebaikan, tak bersedia menjadi wadah pengalir kasih Tuhan bahkan menjadi momen untuk saling menebar amarah kebencian. Jumat akan kehilangan makna substansialnya, jika mimbar sudah tak memberi pesan damai bagi hati yang kalap dan penuh amarah. Nasehat khotib justru menebar debu gersang bagi hati yang mendamba kesejukan. 
Jika ini yang terjadi, bagaimana nasib umat dan agama ke depan, akankah jumat masih bisa diharapkan menjadi momen perekat ukhuwwah di tengah berjuta pecahan dan ratusan garis retak yang hari ini melanda bangsa? Akankah mampu memberi jalan terang bagi gulita yang menyelimuti hati? Akankah membawa pesan damai bagi segenap penjuru dunia yang satu sama lain hari ini saling sensi? 
Hari ini, melalui mimbar jumat tak jarang kita temukan Khotib membawa pesan yang mengarahkan batin dan pemikiran umat untuk membenci saudara seagama dan saudara sebangsa. Dengan lantang menjelekkan siapa saja yang dianggap tidak sesuai dengan selera dan gaya beragama yang dia pegang. Umat dihasut agar membenci satu tokoh yang dihormati oleh kelompok di luar kelompoknya sendiri. Amarah mereka ditaburi mesiu agar meledak dan memangsa siapa saja di luar garis pemikiran mereka. Umat dibuai dan ditipu agar terlupa bahwa “Tuhan mau kita berbeda” agar meninggalkan titah-Nya “bahwa Dia-lah yang menciptakan perbedaan”. 
Inilah yang hari ini terjadi di banyak mimbar jumat kita, ujaran kebencian seolah tak kalah semarak dengan tautan adzan dan dzikir pada siang hari jumat. Jumat sudah tidak lagi bersahabat dengan umat. Maka wajar, jika banyak orang yang merasa tidak lagi memerlukannya untuk sekadar mengisi relung hati yang kosong, memberi nutrisi bagi otak lompong atau sekadar berteduh dari panasnya aktifitas yang melalaikan dan penuh dengan nuansa kosong. 
Salat jumat merupakan satu dari sekian syariat Islam yang dari sisi histroris begitu menarik untuk dielaborasi. Bukan karena ia dilaksanakan seminggu sekali dan menjadi momen atraksi lelaki dan komitmen keagamaannya, tapi karena ia menjadi satu-satunya Ibadah yang dikerjakan sebelum Rasulullah Saw melaksanakannya. Syariat seperti salat wajib, puasa, zakat dan lain-lain biasanya terlebih dahulu dikerjakan oleh Rasulullah, namun Jumat tidak, Rasul hanya memerintahkan kepada Mush’ab Bin Umair agar melaksanakan salat jumat di Madinah yang kemudian diputuskan di kediaman As’ad Bin Zuroroh. Terlalu banyak referensi yang bisa diakses untuk mengetahui latar historis dari kewajiban jumat ini. 
Salah satu dari sekian sebab kenapa Jumat diperintahkan oleh Rasul (dan tentu dari Allah) adalah sebuah riwayat dalam kitab Fathul Bari karya Imam Ibnu Hajar (Jilid 3, hal : 277) sebagai berikut: 
عَنْ مُحَمَّد بْن سِيرِبنَ قَالَ ” جَمَعَ أَهْل الْمَدِينَة قَبْل أَنْ يَقْدَمهَا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَبْل أَنْ تَنْزِل الْجُمُعَة ، فَقَالَتْ الْأَنْصَار : إِنَّ لِلْيَهُودِ يَوْمًا يَجْتَمِعُونَ فِيهِ كُلّ سَبْعَة أَيَّام ، وَلِلنَّصَارَى كَذَلِكَ ، فَهَلُمَّ فَلْنَجْعَلْ يَوْمًا نَجْتَمِع فِيهِ فَنَذْكُر اللَّه تَعَالَى وَنُصَلِّي وَنَشْكُرهُ . فَجَعَلُوهُ يَوْم الْعَرُوبَة ، وَاجْتَمَعُوا إِلَى أَسْعَد بْن زُرَارَةَ فَصَلَّى بِهِمْ يَوْمَئِذٍ ، وَأَنْزَلَ اللَّه تَعَالَى بَعْد ذَلِكَ ( إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ ) الْآيَة
Hadis di atas menceritakan bahwa Ahlul Madinah (Kaum Anshor) berkumpul sewaktu Rasulullah Saw di Madinah dan sebelum disyaratkan salat jumaat, mereka berkata: “orang Yahudi memiliki hari di mana mereka berkumpul yakni pada hari sabtu, dan Nasrani juga demikian. Maka, marilah kita berkumpul untuk membuat satu hari di mana kita berkumpul, berdzikir, salat dan bersyukur kepada Allah”. 
Kaum Anshor akhirnya menyepakati sebuah hari yang bernama hari Arubah (Jumat) dan kemudian mereka berkumpul di kediaman As’ad Bin Zuroroh pada hari itu (arubah / jumat). Kemudian Allah menurunkan firmannya dalam surat al-Jumu’ah (Idza nudiya lissholah) . 
Riwayat di atas disebutkan dalam kitab ad-Durrul Mantsur (8/159) karya Imam Assuyuthi dan banyak kitab lain dengan pemaparan hadis yang lebih lengkap. Dari riwayat itu, kita bisa memetik beberapa hikmah untuk dijadikan sebagai referensi bagi makna-makna jumat kita yang selanjutnya. 
Dari sisi kronologinya, hadis di atas mengabarkan tentang kegelisahan kaum muslim yang dalam hal ini direpresentasikan oleh Kaum Anshor, bahwa mereka ingin memiliki satu hari di mana hari itu adalah momen untuk berkumpul dalam rangka beribadah, berdzikir dan bersyukur kepada Allah. Hal ini karena agama besar lain yakni Yahudi dan Nasrani juga memiliki hari besar itu dalam tiap minggunya. 
Dari sini, hadis di atas memberi jalan bagi lahirnya beberapa kesimpulan berikut: 
1. bahwa salat jumat adalah ide kaum muslim sendiri yang menginginkan kesetaraan dalam ibadah dan tradisi dengan kaum Yahudi dan Nasrani. Hal ini jelas sekali terlihat dalam teks hadis yang sekaligus menjadi asbabul wurud-nya. 
Dengan demikian, nilai reflektif yang bisa kita pahami darinya adalah kesetaraan dan kesamaan dalam beragama dan beribadah bagi semua agama. Melalui mimbar jumat, harusnya hadir sebuah orientasi yang paralel dengan poin-poin historis itu agar tidak ditemukan lagi khotib yang merasa bahwa semua perspektif dalam agama, sosial, politik dan laku kemanusiaan harus tunduk di bawah pemahamannya. 
Dari hadis ini juga tersirat makna, bahwa manusia adalah aktor utama dalam laku beragama. Hadis ini menampilkan bagaimana wahyu (Nabi Muhammad) mengakomodasi keinginan manusia untuk mengekpresikan syariat dan apa tujuan yang ingin dicapai. Agama dan syariat adalah pintu masuk untuk memanusiakan manusia. Jelas, karena Tuhan tidaklah membutuhkan agama. Melalui agama dan salat jumat utamanya, harusnya menjadikan manusia sebagai subjek sekaligus objek bagi terciptanya manusia yang sepenuhnya menguasai atas hak dan kesetaraan dirinya. 
2.  Nilai lain yang digariskan dengan gamblang dalam hadis di atas, adalah tujuan dari hari jumat itu sendiri, yakni berkumpul, beribadah, berdzikir dan bersyukur kepada Allah Swt. 
Dari poin ini, jelas tidak ada tempat di mibar jumat untuk menghasut, menggiring opini atau mengompori umat agar memberangus segala hal yang tiada dia (Khotib) senangi. Jumat adalah event berkumpul (mempererat ukhuwwah di tengah perbedaan), beribadah (mempererat hubungan dengan Allah), berdzikir (menjadikan Tuhan sebagai pembimbing dalam kehidupan sehari-hari) seraya bersyukur atas limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tiada berhingga. 
Dengan ini dan hanya dengan seperti ini, jumat akan bersahabat, berbekas dan penuh manfaat serta rahmat untuk menghadapi hari-hari berikut yang lebih baik, penuh damai dan tetap dalam lindungan dan petunjuk Tuhan.
#Jumat_penuh_galau

Tinggalkan Balasan