Home / Berita / FDS “Mematikan” Sekolah Informal Keagamaan

FDS “Mematikan” Sekolah Informal Keagamaan

Dr Zulkifli. Sumber: Istimewa

PONTIANAK, NUKHATULISTIWA – Salah satu Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Kalbar, tidak sependapat dengan tujuan diterbitkannya Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Pasalnya, terjadi ketidaksesuaian antara tujuan besar penerbitan kebijakan dengan isi dalam penjelasan pasal per pasal.

“Dalam diktum pertimbangannya adalah untuk restorasi pendidikan karakter di sekolah. Tetapi di dalam pasal-pasalnya, sama sekali tidak tergambar bahwa ketentuan 5 hari/40 jam sekolah itu adalah upaya restorasi pendidikan karakter,” ujar Wakil Sekretaris PW NU Kalbar ini kepada NU Khatulistiwa Kamis (10/8/2017).

Zulkifli yang juga akademisi di salah satu kampus di Kalbar ini mengungkapkan, isinya lebih pada pengaturan secara kaku kewajiban peserta didik dan guru untuk memenuhi 40 jam sekolah itu secara kuantitatif, bukan kualitas.

“Katanya peraturan itu hanya untuk guru. Jika seperti itu tujuannya, semestinya tidak mengatur kewajiban jumlah hari dan jam sekolah, karena otomatis peserta didik juga wajib mengikuti ketentuan,” bebernya.

Pemberlakuan peraturan tersebut, lanjutnya, juga tidak dengan persiapan yang matang.

“Misalnya bagaimana menyinkronkan antara pembelajaran di sekolah dengan di masyarakat seperti madrasah diniyah, pesantren kilat, ceramah keagamaan, dan lain sebagainya, seperti termaktub dalam Pasal 5 ayat 7,” sebutnya.

Ia menilai, pemberlakuan 5 hari/40 jam sekolah akan mematikan madrasah diniyah, TPA/TPQ dan sejenisnya, yang sebagian besar waktu belajarnya sore hari.

Keberadaan anak di sekolah sampai jam 2 atau 3 sore, jelas menjadikan mereka tidak punya waktu untuk belajar di madrasah diniyah, TPA/TPQ dan sejenisnya. “Anak-anak sudah kelelahan seharian di sekolah,” terangnya.

Dari sisi peserta didik juga sangat dirugikan, baik dari aspek psikologis, psikis maupun sosialisasi mereka. Waktu belajar yang panjang jelas tidak efektif, bahkan akan sangat membebani anak-anak (peserta didik).

Secara fisik, mereka juga sangat kelelahan jika berada di sekolah sampai sore. Belum lagi anak-anak akan kehilangan waktu sosialisasi (bermain) saat sore hari.

“Pulang sekolah mereka capek, dan biasanya langsung istirahat, tidur. Jika mereka punya aktifitas kursus, les dan sejenisnya pada sore hari juga akan terganggu, bahkan terpaksa berhenti,” jelas Zulkifli.

“Sebenarnya masih banyak alasan yang mendasari mengapa peraturan itu harus ditolak,” pungkas dia. (cil)

Tinggalkan Balasan