Home / Rubrik / Pendidikan Islam / ​Jangan Salahkan Mereka

​Jangan Salahkan Mereka


Oleh Sholihin H. Z.
(Kepala MTs ASWAJA Pontianak)
Tiada hari dan berita tanpa informasi tentang kerusakan moral  di negeri ini, mulai dari yang berskala besar, sebutlah korupsi miliar hingga triliunan rupiah, tentang murahnya nyawa manusia yang kadang hanya persoalan sepele namun berujung maut, hingga dunia anak-anakpun mudah ditemui kekerasan baik kekerasan fisik, psikis maupun dekadensi moral lainnya. Jika yang terjadi pada orang-orang besar, jika yang nampak pada orang-orang kaya jelas itu kesalahan mereka karena dengan usia yang matang, tanah di berbagai tempat, rumah kontrakan lebih dari satu, deposito di berbagai bank, rakus adalah sifat merusak yang ada pada mereka. Dan itu baru akan berhenti jika hatta zurtumul maqabir.  Kalaupun mau dicarikan salahnya, tepatnya adalah karena salah mereka pada cara berpikir, cara memandang yang melihat duit orang lain adalah duitnya, tanah orang lain adalah tanahnya, dan mumpungnya orang lain harus beralih menjadi aji mumpungnya. 

Bagaimana dengan anak-anak kita yang masih usia produktif dan muda, usia pendidikan dasar. Jika kejahatan di atas menjadi hal yang nyata kita saksikan dan mereka lakukan maka dapat difahami berbagai kejadian terhadap apa yang dilihat, apa yang ditonton dan apa yang disaksikan langsung mempengaruhi konsep berpikir mereka dan mengendap di alam bawah sadar mereka. Selanjutnya tergantung moment dan kesempatan dan faktor keinginan dari mereka sendiri. Disinilah pentingnya untuk memfilter tontonan, disinilah pentingnya menyuguhkan tayangan yang edukatif.

Luasnya pergaulan dan globalnya informasi dan tayangan tanpa sekat membuat anak-anak pada usia pendidikan dasar bahkan siapapun untuk mengikuti dan meniru apa yang mereka saksikan. Bisa jadi mereka terbiasa merokok karena melihat orang tua dan orang-orang disekitar mereka merokok, bisa jadi mereka terbiasa bicara porno dan kasar karena mereka melihat dan mendengar ucapan itu setiap harinya, bisa jadi mereka liar dan tidak terkendali karena di rumah mereka tidak mendapatkan ketenangan dan luapan kasih sayang, bisa jadi mereka melawan orang tua karena mereka tidak diajarkan bagaimana hormat kepada kedua orang tua. Banyak, bisa jadi yang mereka lakukan karena ketidakseriusan dan ketidakmampuan orang tua atau kita mengontrol aktivitas mereka. Jika demikian halnya, masihkah kita menyalahkan mereka?

Bukankah kita pernah mendengar kisah seorang anak yang ingin mendapatkan perhatian ayahnya dengan mencoret mobil sang ayah, digambarnya dinding mobil ayahnya dengan gambar dirinya, ayah dan ibunya. Kala ayahnya keluar berangkat ke kantor, sang anak segera mendekap ayahnya dan berujar, Ayah, bagus kan gambarku? Bukan jawaban mengenakkan yang didengar anaknya tapi justru sembatan rotan di tangan anaknya berulang kali hingga memar dan berdarah. Keesokan paginya sang anak demam dan merintih karena sakit di tangannya, saat disampaikan kepada orang tuanya, ayahnya mengatakan minumkan saja dengan obat penurun panas, ternyata hingga sore hari panasnya semakin tinggi, saat dilaporkan kepada ayahnya, ayahnya mengatakan periksakan saja ke dokter, akhirnya sang anak di rawat inap di rumah sakit. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit dokter memanggil orang tua si anak dan mengatakan, tidak ada pilihan lain … kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut. Saat mendengar keterangan dokter, orang tua si anak terasa bagai terkena halilintar dan dunia seakan berhenti berputar, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi. Sang Ibu meraung merangkul si anak, dengan berat hati dan lelehan air mata sementara si ayah bergetar tangannya  menandatangani surat persetujuan pembedahan.  Dalam kondisi demikian, saat akan menjalani proses amputasi si anak bertanya, ada apa dengan tangannya dan ia mengatakan, Ayah, ibu, aku berjanji tidak akan mencoret lagi, aku janji tidak akan jahat lagi, aku sayang ayah ibu, maafkan aku. Serasa hancur hati si ibu mendengar rintihan sang anak, namun nasi sudah menjadi bubur, hanya karena sang ayah terlalu sayang pada materi, kasih sayang anakpun dilewatkan, hanya karena mengejar naiknya pamor dan status, ada  orang tua yang mengorbankan hak-hak anak terutama rasa ingin dimengerti. Jika sudah demikian, masihkah kita menyalahkan mereka?  

Masa anak-anak akan berakhir dan terlewatkan, jika tidak dibingkai dengan pendidikan yang baik, pendidikan yang membangun karakter dan jiwa mandiri oleh orang tua (keluarga) sebagai pendidikan utama dan pertama, maka tumbuh kembangnya anak yang berkarakter sepertinya masih merupakan sesuatu yang utopis. Indonesia masa depan ditentukan generasi hari ini. Semoga kita menyadari tugas pokok dan fungsi kita masing-masing sebagai orang yang diamanahi mendidik generasi masa depan. Bukankah masa depan sebuah bangsa ditentukan generasi hari ini? Semoga***

Tinggalkan Balasan