Home / Opini / ​Ego Spiritual

​Ego Spiritual

Oleh Sholihin H. Z.

(Alumni Program Magister IAIN Pontianak)

Ada dua komunikasi dan jalinan silaturrahim yang harus selalu kita jaga dan bina yakni komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal. Komunikasi vertikal sebagai jalinan dialog antara Pencipta dan yang diciptakan, antara Yang Maha Kuasa dan yang biasa saja, antara yang dipuja dan yang setara. Berikutnya adalah komunikasi horizontal yang sifatnya setara dan sejajar, manusia dengan sesamanya, hubungan dengan sesama makhluk ciptaan-Nya. Kedua komunikasi ini sejatinya harus berlangsung secara beriringan dan seimbang. Mengutamakan salah satunya dengan menafikan dan meniadakan satunya maka akan memunculkan sikap dan gaya hidup yang cenderung tidak terarah. Terlalu mengutamakan akhirat dengan meniadakan semangat hidup keduniaan sementara berada dalam kondisi yang mampu akan dipandang sebagai makhluk yang tidak menunjukkan adanya nikmat-nikmat yang diberikan Allah SWT kepadanya sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT lewat firman-Nya dalam QS. adh-Dhuha/93: 11. Demikian juga sebaliknya fokus sepenuhnya (all out) pada urusan keduniawian, siang malam mencari materi, kadang tidak tentu tidur, istirahat kurang, pergi ketika lampu di rumah belum mati dan pulang ketika lampu di rumah sudah hidup, akan berdampak pada keyakinan materilah yang menemani mereka saat di alam akhirat, dan lebih parah jika dihinggapi tipisnya keyakinan tentang adanya hari pembalasan. Sangat mudah menemukan ayat al-Quran yang berbicara tentang balasan dan perhitungan di hari akhir nanti.

Sinergisitas kedua dimensi (dunia dan akhirat) ini akan memunculkan sikap bahwa akhirat tergantung pada sejauh kita bermanfaat di dunia dan kehidupan duniawi adalah tempat berinvestasi, menabung dan menanam yang hasilnya bisa Allah SWT berikan sedikit di dunia dan yang pasti gaji sepenuhnya nanti diberikan di akhirat.

Imam Al-Gazali dalam Ihya Ulumuddin mengutip sebuah riwayat bahwa di suatu tempat seorang alim dan ahli ibadah yang semata-mata mencurahkan waktu dan pikirannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia banyak mengasingkan diri dari keramaian demi untuk menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi dosa dari orang-orang awam.

Suatu ketika seorang pelacur mencari ulama untuk curhat dan sekaligus meminta nasihat bagaimana meninggalkan dunia hitam yang selama ini digelutinya. Ia juga akan menanyakan masih adakah harapan Tuhan memaafkan dan menerima tobatnya setelah malang melintang dalam lumpur dosa. Mendengarkan keinginan itu, sang ahli ibadah itu menolak harapan perempuan nakal itu dengan mengatakan, aku tidak mau menodai diriku dengan berkomunikasi orang kotor seperti itu. Mendengarkan cerita itu maka Nabi mengatakan, sang ahli ibadah itu penghuni neraka dan perempuan yang karena ketulusannya ingin bertobat adalah penghuni syurga.

Dengan kisah di atas penulis ingin menunjukkan bahwa cenderung kita menganggap bahwa apa yang menjadi aktifitas kesalehan kita itulah yang menjadi asbab kedekatan kita pada-Nya, sementara aktifitas yang kelihatannya dunia tetapi jika dicermati punya makna akhirat tidak terlalu diperhatikan.

Saat ini, jika kita lihat nuansa keagamaan kita terlebih pada moment-moment hari besar Islam terasa lebih kental dan semarak. Masjid dan musholla dibeberapa tempat saat waktu sholat sudah mulai penuh dengan jamaah, terasa berbeda dengan saat tahun 1990-an yang zuhur dan ashar hanya beberapa orang, apalagi shubuh, kondisi ini tentu membuat gembira tetapi bahwa sikap keberagamaan yang sesungguhnya tidak hanya ditunjukkan dengan ramai dan semaraknya prosesi ritual tetapi pertanyaan utamanya sejauh mana pelaksananya mampu mentransfer nilai dan semangat ibadah ritual menjadi punya makna dan korelasinya dengan kehidupan sosial. 

Sepertinya Islam di negeri kita mengalami perkembangan yang sangat paradoks. Jumlah muslimah yang memakai jilbab meningkat tetapi pada saat yang sama angka kehamilan di luar nikah juga kian bertambah. Setiap tahun kuota haji selalu kurang namun disisi lain, Indonesia masih dicap sebagai negara dengan tingkat korupsi yang membahayakan. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena kita baru sebatas melaksanakan ajaran agama secara formal, kita baru sebatas melaksanakan perintah tanpa memaknainya.  kita sangat lemah dalam memaknai gerakan sholat, mentransfer nilai-nilai puasa dalam keseharian dan tidak mampu menjadi penerang bagi masyarakat sekitar. Kita masih sibuk dengan untaian tasbih dan zikir di tangan sementara kita tidak berbuat apa-apa ketika ada tetangga yang untuk jajan anaknya ke sekolah saja tidak pernah diberi oleh orang tuanya karena tidak mampu, kita sibuk dengan acara tour ke tempat-tempat bersejarah dengan biaya yang tidak sedikit sementara di wilayah kita masih ada pondok-pondok pesantren, anak-anak panti yang tidak mempunyai pakaian seragam karena minimnya donatur, masih banyak contoh lain di sekitar kita. 

Agama mengajarkan untuk tidak bergaya seperti menara gading atau mercusuar yang gagah berdiri tapi nun di sana, jauh dari keramaian, banyak kisah yang menggambarkan perbuatan sederhana berupa kebaikan sosial yang mengantarkan seseorang dekat pada Allah SWT dan surga-Nya tetapi demikian juga ada perbuatan yang terkesan saleh tetapi justru mengantarkannya pada kemurkaan-Nya. 

Firman Allah SWT dalam QS. al- Maun/107 intinya menjelaskan kriteria kualitas keberagamaan seseorang tidak diukur dari banyaknya ibadah mahdhah yang dilakukan tetapi ibadah sosial, seperti memperhatikan nasib fakir miskin dan anak yatim piatu. Bahkan dalam surah itu juga dinyatakan celakalah bagi orang sholat yang sholatnya tidak membawa dampak sosial kemasyarakatan. Aktivitas ibadah dan spiritual yang dilakukan tanpa mempedulikan lingkungan masyarakat di mana ia berada malah dikhawatirkan terjebak dengan apa yang disebut dengan ego spiritual.**

Tinggalkan Balasan