Home / Opini / Kritik atas Jawaban Kritik Moh. Aflah (Simpatisan NUGL- FPI) Terhadap Tulisan Dr. Wajidi Sayadi

Kritik atas Jawaban Kritik Moh. Aflah (Simpatisan NUGL- FPI) Terhadap Tulisan Dr. Wajidi Sayadi

Tulisan saya tujukan untuk seorang yang memiliki nama akun FB Moh. Aflah yang menjadikan si anak kampung sebagai identitas yang sengaja dilekatkan. Saya tidak tahu jelas apakah penggunaan “Anak Kampung” sebagai bagian dari identitas yang diperkenalkan hanya sebagai nama pena biar ngetop dan menunjukkan ketawadhu’annya atau sekadar mendeklarasikan bahwa perspektifnya –yang sedikit banyak terpengaruhi oleh GL dan FPI- adalah bagian dari sebuah perspektif yang berasal dari desa dan notabene jauh dari hinggar bingar kepentingan. Apapun alasannya, pendapat seorang netter dalam sebuah komentar tentang tulisannya yang berbunyi “pemahaman anak kampung biasanya masih murni dari berbagai kontaminasi” sedikit banyak bisa dijadikan landasan bagi kesimpulan dari salah satu dua kemungkinan di atas. Namun, menarik dicatat, bahwa orang-orang Wahhabi awal adalah masyarakat badui yang tinggal di pedesaan dan terisolasi dari berbagai kemajuan. Hasil dari Wahhabiyyin ini adalah sebuah pemikiran tentang Islam yang kering kerontang dari nilai seolah mengiringi keringnya gurun pasir yang menjadi habitat mereka.

Tulisan ini berusaha menjawab beberapa sanggahan balik yang ditujukan kepada tulisan Bapak Dr. H. Wajidi Sayadi M,Ag (seorang akademisi yang telah lama konsen membedah ilmu Tafsir Hadis dan al-Quran) yang berbicara tentang kredibilitas keilmuan yang dimiliki oleh al-Habib M. Quraish Shihab. Dalam kritiknya Aflah berusaha menunjukkan bahwa al-Habib Quraish tidak merepresentasikan seorang ulama atau orang yang memiliki ilmu hanya karena masalah hukum jilbab yang insha Allah akan saya singgung pada beberapa bagian ke belakang. Untuk mempermudah, saya memecah beberapa poin kritik ke dalam beberapa bagian yang insha Allah jika memungkinkan akan saya tulis hingga tuntas.

1. Memahami maqolah ulama sepotong-sepotong
Untuk pembuka, saya tertarik mendiskusikan satu maqolah masyhur yang dikutip Aflah dalam tulisannya sebagai berikut:
فليس العلم بكثرة الرواية، ولا بكثرة المقال ، ولكنه نور يقذف في القلب ، يفهم به العبد الحق، ويميز به بينه وبين الباطل،
ويعبر عن ذلك بعبارات وجيزة محصلة للمقاصد
Dari kutipan pendek itu, Aflah mencoba menunjukkan bahwa al-Habib M Quraish Shihab bukanlah seorang ulama hanya karena ia banyak melahirkan seabrek karya akademik yang berkualitas. Atau dalam versi terjemahan si Aflah sebagai berikut:“Ilmu itu tidak bisa dinilai dengan hanya banyaknya riwayat yang ia sampaikan, bukan pula dengan banyak ceramah atau seminar yang ia gelar”.
Berangkat dari sini, seolah ia ingin meletakkan al-Habib Quraish sebagai seorang yang tidak berilmu dengan menjadikan standar akademik dan beberapa kuliah, seminar serta ceramah beliau sebagai ukuran. Yang ia jadikan standar ternyata tentang masalah furu’iyyah seperti jilbab yang dipahami sebegitu dangkalnya.
Lebih jauh, dari manakah maqolah di atas berasal? Ada beberapa kitab yang bisa kita baca untuk menemukan letak perkataan ini agar –setidaknya- kita mengetahui makna dengan jelas serta tidak mereduksi cakupannya. Lengkapnya, apa yang dikutip oleh Aflah telah memotong keutuhan maqolah ini, berikut lengkapnya kutipan di atas, dinukil dari kitab Fadl ilmi as-Salaf ala al-Khalaf (Juz 1. Hal: 5) :
وقد فتن كثير من المتأخرين بهذا فظنوا أن من كثر كلامه وجداله وخصامه في مسائل الدين فهو أعلم ممن ليس كذلك. وهذا جهل محض. وانظر إلى أكابر الصحابة وعلمائهم كأبي بكر وعمر وعلي ومعاذ وابن مسعود وزيد بن ثابت كيف كانوا. كلامهم أقل من كلام ابن عباس وهم أعلم منه وكذلك كلام التابعين أكثر من كلام الصحابة والصحابة أعلم منهم وكذلك تابعوا التابعين كلامهم أكثر من كلام التابعين والتابعون أعلم منهم. فليس العلم بكثرة الرواية ولا بكثرة المقال ولكنه نور يقذف في القلب يفهم به العبد الحق ويميز به بينه وبين الباطل ويعبر عن ذلك بعبارات وجيزة محصلة للمقاصد.
Inti dari kutipan panjang yang sudah direduksi dengan begitu baik oleh si anak kampung Aflah ini adalah berbicara dalam konteks perbandingan ilmu yang dimiliki oleh para Sahabat Nabi dengan para Tabi’in dilihat dari sisi banyak sedikitnya riwayat yang disampaikan oleh dua kelompok agung ini. Perbandingan ini menjadi penting, karena pada waktu itu banyak sekali orang yang berpendapat bahwa keilmuan seseorang diukur dari sejauh mana dan sebanyak apa riwayat yang disampaikan dari Nabi. Tentu dari sisi penyaluran riwayat, para Tabiin mengungguli para Sahabat, namun dari sisi keilmuan tentu keilmuan para sahabat lebih kredibel mengingat mereka adalah yang bertemu langsung dengan Nabi Muhammad Saw. Jadi jelas, konteks dari maqolah di atas adalah berbicara tentang periwayatan hadis antara sahabat dan tabi’in. Saya pikir, dengan melihat redaksi secara jeli dan jernih, seorang akan mampu menempatkan dan memaknai perkataan ini dengan baik bukan main cocokologi semrawutis hanya karena didorong oleh kebencian dan kefanatikan khas kaum Badui.

Atau berikut kutipan yang lebih panjang lagi dari kitab Durus as-Syaikh Muhammad al-Munjid (188/15).
قال: (فليس العلم بكثرة الرواية، ولا بكثرة المقال، ولكن نور يُقذف في القلب يفهم به العبد الحق، ويميز به بينه وبين الباطل، ويعبر عن ذلك بعبارات وجيزة محصلة للمقاصد، وقد كان النبي صلى الله عليه وسلم أوتي جوامع الكلم واختُصر له الكلام اختصاراً).
فإذاً: تجد الآن فيها قول عن ابن مسعود كلمة كلمتين جملة سطر، وتجد في كلام بعض المتأخرين صفحات وأبحاثاً طويلة جداً جداً، من الذي كلامه أكثر بركة وأصوب وأنفع؟ طبعاً كلام الصحابة مع قلته ووجازته، ولذلك العلم ليس بكثرة تسويد الصفحات، ولا بكثرة الآراء والأقوال، لكنه نور يقذفه الله في قلب العالم خاصة الذي يسير ويمشي على الكتاب والسنة، فيأتي لك بالحكم.
Dengan hanya bermodalkan maqolah yang sudah dipangkas muatan serta kesatuan perspektifnya di atas, Aflah memposisikan al-Habib M Quraish Shihab seolah hanya orang yang terlalu banyak berkoar dan tidak memiliki ilmu. Saya berharap setelah membaca dengan terjemahan yang baik dari kutipan panjang di atas, Moh Aflah dapat melihat siapakah sebenarnya yang disingung dalam maqolah itu.

Kutipan panjang di atas sama-sama menjelaskan pemahaman yang sesungguhnya dari maqolah yang dikutip oleh Aflah dalam tulisannya. Jadi jelas sekali betapa Aflah mereduksi dengan “pejam mata” demi mendudukkan pendapatnya bahwa al-Habib Quraish Shihab bukan lah seorang ulama. Namun, hal ini wajar karena seorang yang tidak menemukan celah untuk mengkritik suatu pendapat akan merekayasa, memplentir bahkan mengkorupsi redaksi demi kepentingannya sendiri. Naudzubillahi min dzalik.
Al-Habib M Quraish Shihab – yang seolah tiada benarnya dalam pandangan Aflah- selalu memberi pesan dalam beberapa bukunya bagi setiap orang yang mencoba untuk berinteraksi lebih jauh dengan al-Quran untuk menyelamatkan diri dari berbagai tendensi ideologis, politis yang pada akhirnya kehilangan objektifitas dalam memahami. Dalam nada yang berbeda saya sampaikan kepada saudara Moh. Aflah agar berbuat yang sama dalam memahami sebuah maqolah.

Kritik pertama ini adalah pembuka untuk menunjukkan bahwa upaya Aflah untuk melakukan decomposition of character terhadap al-Habib M Quraish Shihab sungguh berangkat dari landasan epistemik dan penerapan logika yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Untuk serial kritik selanjutnya, sepertinya antara penting dan tidak penting apalagi hanya seputar masalah jilbab yang sebenarnya bisa dipahami dengan tuntas bagaimana pandangan Habib Quraish dalam buku-bukunya. Dari kritik ini sebenarnya tertolaklah semua apa yang dipaparkan oleh Aflah tentang Habib Quraish, karena bagaimana suatu pendapat bisa diterima jika awalnya sudah rapuh dan penuh problem. (M Hasani Mubarok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *