Home / Berita / Tiga Pilar Puasa

Tiga Pilar Puasa

Sumber foto: Istimewa

 

Oleh: Dr H Syarif, MA (Sekretaris PC NU Kota Pontianak)

Ada potongan hadits yang menyebut “wa ramadhan syahru ummati—dan ramadhan bulan umatku”. Pada bulan Ramadan umat Muhammad diberi keistimewaan bagi yang menginginkannya. Yaitu bagi yang menegakkan amaliah di dalamnya.

Ada tiga pilar Ramadan yang sangat tidak boleh diabaikan oleh umat Islam bagi yang menginginkan keistimewaan, yaitu pertama, shaum. Shaum artinya imsak atau menahan. Secara lahiriah shaum yang biasa diartikan puasa ini ialah menahan diri untuk tidak makan, minum, dan bersenggama dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Yang harus jadi perhatian ialah Rasul pernah mengatakan bahwa “tidak sedikit orang yamg berpuasa hanya memperoleh lapar dan haus”.

Oleh karena itu kita harus tahu makna shaum secara hakikat. Makna secara hakikat ini menekankan kepada tujuan akhir dari ibadah puasa ialah takwa. Takwa ini artinya terpelihara diri, oleh karena setiap diri yang beribadah mengerti datang kepada Tuhannya Sang Pemelihara. Tentunya datang kepada Tuhan juga secara hakikat, artinya tidak secara lahiriah-jasmaniyah.

Shaum artinya secara hakikat ialah menahan diri dari bertindak dan berkata dengan memakai hawa-nafsu. Artinya shaum itu tidak sekedar imsak yaitu tidak makan, minum dan senggama. Ternyata, target supaya diri orang yang puasa itu terpelihara ialah terpelihara dari perilaku yang mereferensi hawa-nafsu-dunia-setan. Itu sebabnya jika masuk bulan ramadhan setan-setan diikat. Secara hakikat setan itu nafs ammarah dan nafs lawwamah. Nafs ammarah ialah sifat emosional karena mudah marah, mudah tersinggung. Sedangkan nasf lawwamah ialah sifat rasa ‘ajib—kagum akan dirinya sendiri, riya’—minta dipuji, takabbur, iri-dengki, menghasut, memfitnah, tamak-loba, sombong. Semua perbuatan ini disebut setan. Yang memunculkan setan ke dalam perbuatan adalah iblis.

Sebenarnya, semua perbuatan ini yang menjadi biang kejahatan. Ammarah dan lawwamat inilah yang disebut  fakhsya’ wal munkar. Inilah yang disebut penyakit hati itu (Q.s. al-Baqarah/2:10). Di dalam Alquran dihukumkan bahwa yang bisa mencegah keji dan munkar itu adalah shalat. Di sini letak urgennya pilar Ramadan yang kedua, yaitu shalat tarawih. Dalam keterangan teks Alquran juga dijelaskan bahwa hanya Allah yang dapat memisah antara hati dan penyakit hati (Q.s. al-Anfal/8:24). Juga diterangkan bahwa kata Tuhan “Kami yang mencabut penyakit hati dalam dada mereka” (Q.s. al-A’raf/7:43). Intinya penyakit hati itu hanya bisa diobati oleh Allah. Termasuk tidak oleh puasa. Nah, mengapa saalat yang mencegah keji dan munkar. Sebab shalat adalah hubungan hamba kepada Tuhannya. Dalam rangka untuk diurus Tuhan inilah seorang hamba harus berhubungan kepada Tuhannya. Dalam salat hati hamba disembuhkan dari penyakitnya. Tentu shalat atau hubungan hati yang sampai kepada Tuhan, bukan yang sampai ke sawah-sawah.

Salat Tarawih itu adalah optimalisasi seorang hamba berhubungan kepada Tuhan supaya puasanya di siang hari dan membelenggu setan supaya tidak muncul dalam prilaku keseharian. Sebenarnya sangat tidak baik jika puasa tapi tidak Tarawih. Karena tujuan tidak akan tercapai jika hanya puasa di siang hari oleh karena, hakikatnya yang menyelesaikan penyakit hati itu adalah salat. Di dalam salatlah Tuhan intervensi menyelesaikan keburukan sifat yang dalam hati.

Pilar ketiga, ialah zakat. Zakat adalah sedekah bagi jiwa. Orang yang puasa dan pandai berhubungan kepada Tuhannya yaitu salat, mesti berzakat. Sedekah bagi jiwa itu artinya jiwa berupa hawa-nafsu-dunia-setan (HNDS) terkikis dari diri kita dan supaya tidak menjadi inspirasi perilaku. Saking pentingnya zakat ini, semua kebaikan di bulan Ramadan tidak akan diangkat kepada Allah sebelum ditunaikannya zakat fitrah.

Nah, orang yang telah melatih diri untuk menahan HNDS pada puasa Ramadan dengan menjalin hubungan hati kepada Tuhan atau salat, kemudian berzakat fitrah, maka dialah yang berhak menimang klaim “’idul fitri”. Ialah kembali kepada fitrah yaitu bawaan dasar berupa kebaikan yang mutlak di dalam dada. Bawaan dasar itu ialah shiddiq-amanah-tabligh-fathanah. Barulah bersuka-suka dan bergembira karena nyata dalam perhitungan bahwa kita keluar dalam kemenangan diri. (*/cil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *