Home / Catatan Ringan / MENGENANG 21 Mei 1998

MENGENANG 21 Mei 1998

Oleh : DR. KH. Wajidi Sayadi, M. Ag*

Tahun 1998 masih berstatus mahasiswa Pasacasarjana Program Magister IAIN Jakarta. Pada tanggal 13 & 14 Mei 1998 seusai pemakaman mahasiswa Universitas Trisakti korban penembakan, sempat menyaksikan kota Jakarta lumpuh total, pembakaran dan penjarahan di mana-mana, awan hitam mengepul dan meliputi kota Jakarta. Jakarta benar-benar kota mati.

Hari ini genap 19 tahun berakhirnya era orde baru Soeharto 21 Mei 1998 yang dipelopori para mshasiswa.
Hari kamis 21 Mei 1998 adalah sangat berkesan bagi saya karena pada saat itu, dengan semangat mahasiswa sempat bergabung dengan para demonstran di gedung DPR MPR RI dan menginap di sana selama 3 hari; 19, 20, dan 21 Mei 1998.
Pada hari Jumat 22 Mei 1998 sehari setelah mundurnya Soeharto, di gedung DPR MPR RI terbagi 2 kelompok besar demonstran. Kelompok pertama penolak dan penentang Habibie karena dianggap sama saja dengan Soeharto. Kelompok kedua pendukung Habibie dan saya ikut dalam barisan ini yang kebanyakan dari lembaga, ormas Islam, sekolah, kampus yang berlatar belakang “hijau” atau Islam. Kedua kelompok demonstran ini hampir bentrok. Keduanya sudah berhadap-hadapan hanya berjarak sekitar 2-3 meter. Untunglah dengan cepat pasukan aparat keamanan masuk ke tengah-tengah barisan memisahkan kelompok demonstran. Kelompok penolak dan penentang Habibie dibiarkan berada di depan gedung DPR dan kelompok pendukung Habibie digiring ke bagian belakang gedung DPR dekat masjid Baiturrahman.
Menjelang malam Sabtu, aparat keamanan mengeluarkan instruksi agar para mahasiswa dan demonstran segera meninggalkan gedung DPR sampai hari Sabtu. Pihak keamanan akan mengambil alih gedung DPR. Akhirnya lepas shalat isya saya keluar.
Inilah kenangan yang tak terlupakan berkaitan dengan detik-detik runtuhnya orde baru dibawah kepemimlinan Soeharto 21 Mei 1998. Sebagaima kenangan ketika ikut demonstrasi menentang kenaikan harga sewa pete-pete di Makassar tahun 1995 di halaman Kampus Universitas Muslim Indonesai (UMI) dan Universitas 45 di Makasdar. Walau mata sudah bengkak karena gas air yang disemprotkan oleh aparat keamanan yang berlapis-lapis polisi dan TNI. Namun tetap bersemangat terutama didorong oleh adanya jenazah yang diusung seorang demonstran korban yang meninggal tercebur di sungai dekat kampus UMI.
Pengalaman demonstrasi hanya menentang kebijakan yang tidak bijak, tidak pernah melempari gedung apalagi membakar dan tidak pernah tawuran.
Mudah-mudahan pengalaman ini menjadi pelajaran yang bijak.

*Syuriah PWNU Kalimantan Barat, Ketua MUI Kalbar, Ketua FKUB Kalbar, Dosen ilmu Al-Quran dan Tafsir di Fakultas Ushuluddin IAIN Pontianak.

 

Tinggalkan Balasan