fbpx
Home / Ngaji / ​SECARA BAHASA PUASA ITU DIAM

​SECARA BAHASA PUASA ITU DIAM

(Oleh Abah Tohidin Banser )*

Dalam bahasa Arab, Puasa berasal dari kata shaum, yang merupakan masdar dari kalimat shoma yashumu shauman yang artinya al imsak / menahan.Kalimat ini satu makna dengan kalimat lain  yang mirip  yaitu shomam yang berarti diam/bisu.Karenanya secara bahasa hakikat puasa/shaum adalah diam.

Diam bukan berarti tidak bekerja dan tidak bergerak, tetapi diam dalam arti tenangya hati dalam kontemplasi memahami  hakikat bahwa adanya gerak di karenakan adanya diam, semua yang bergerak pasti berubah dan rusak/fana,dan semua yang fana pasti ada akhirnya (mati/kiamat), sehingga secara hakikat Puasa bukan lah sekedar ibadah lahir dengan menahan diri dari makan dan minum serta larangan lain di siang hari,tetapi puasa adalah proses kontemplasi bathin untuk memahami dan merasakan hadirnya Dzat Yang Maha kekal, tidak berubah dan tidak ada akhirnya, Dialah dzat yang shaum / Diam dalam arti tidak bergerak dan tidak bergerak berarti tidak berubah,tidak berubah berarti tidak rusak dan tidak akan ada akhirnya ( kekal ).

Dalam makna inilah Allah Ta’ala berfirman dalam Hadits Qudsi melalui lisan Rosulullah S.A.W bahwa “ As shaumu liy wa ana ajziy bihi”  yang maknanya “ sesungguhnya puasa itu bagi-Ku dan Akulah yang akan jadi balasanya”, dalam kitab Sirrul Asror Syekh Abdul Qodir Al Jaelaniy menjelaskan bahwa yang dimaksud kalimat “ Aku yang jadi balasanya “ adalah orang yang benar dan sempurna dalam puasanya secara dhohir dan bathin, dengan secara bersamaan memenuhi kriteria sahnya puasa secara fiqih, lalu  menyempurnakanya dengan menahan diri secara bathin dari hal yang tidak berguna dan sia – sia,maka akan mendapatkan balasan yang tidak bisa didapat dengan ibadah lain selain puasa yaitu “ kenikmatan mengenal dan merasakan kehadiran Allah Ta’ala di Dunia dengan pandangan mata bathin dan kenikmatan melihat Dzat Allah yang Agung dengan pandangan mata dhohirnnya di akhirat , dimana semua Ulama sepakat bahwa tidak ada kenikmatan apapun yang melebihi kenikmatan memandang Dzat Allah Yang Maha Agung dan Indah tersebut ”.

Balasan yang dijanjikan Allah untuk orang yang puasa nya sempurna ini sangatlah luar biasa nilainya karena Mengenal Allah adalah merupakan tujuan utama diciptakanya Jin dan manusia sebagaimana Allah firmankan dalam Al Qur’an bahwa : “Wama kholaqtul Jinna Wal Insa Illa Liya’budun” , Syekh Abdul Qodir Al Jaelaniy menjelaskan bahwa  makna kata  “liya’budun” dalam ayat tersebut “ayy liya’rofun” sehingga arti lengkapnya “ Tidaklah Aku Ciptakan Jin dan Manusia Melainkan Untuk Ma’rifat/mengenal-KU”, pemaknaan ini berdasarkan Hadits Qudsi dimana Allah berfirman : ”Sesungguhnya Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi,kemudian aku ingin dikenal,maka aku ciptakan Makhluq”, jadi Jelaslah bahwa seluruh perjalanan manusia dan makhluq lain dalam hidupnya haruslah bermuara pada satu tujuan besar penciptaaanya yaitu “Ma’rifat/Mengenal Allah”, Manusia diciptakan untuk berdagang dengan Allah supaya kelak di akhirat memetik keuntungan perdagangan amalnya dengan Allah, Maka barang siapa yang sampai masa hidupnya berakhir dia tidak mencapai ma’rifat mengenal Allah dengan pandangan mata bathin nya,sesungguhnya ia telah gagal. Syekh juga mengatakan “bagaimana mungkin engkau menyembah apa yang tidak engkau kenali …”

Karenanya Puasa pada hakikatnya adalah proses kontemplasi menuju transformasi bathin untuk mengasah “mata hati yang buta dan gelap” menuju “ mata hati yang terang benderang dan awas, sehingga dengan nya seorang hamba bisa merasakan Hadir-Nya Allah dalam setiap detik hidupnya seiring tiap hembusan nafas dan detak jantungnya”.

Dalam tahap ini maka Bathin seorang hamba selalu berbicara dengan lisan Hati-nya  : “Allah Selalu Hadir Kepada-ku, Allah Selalu Melihat-ku, Allah Allah selalu bersama-ku, Allah Selalu Menjadi Saksi-ku, Dan Dia Meliputi segala sesuatu”.Ini adalah pencapaian tertinggi dari proses puasa yang kemudian Al Qur’an menyebutnya dengan Istilah “bertaqwa”.

Ya di dalam ayat lain Allah menyebutkan bahwa tujuan disyari’atkanya puasa adalah supaya menjadi “muttaqin/orang yang bertaqwa”. Sedangakan Rosululloh selalu mengatakan :” At Taqwa Ha huna ,At taqwa ha huna, sambil menunjuk kearah jantung nya, yang artinya hakikat taqwa ada pada hati bathin seseorang, apabila seseorang dengan mata bathin nya telah bisa merasakan hadir – Nya Allah dalam tiap detik hidupnya, seiring hembusan nafas dan detak jantungya, maka dia telah mencapai derajat “Taqwa yang sesungguhnya”.

Mencapai  derajat taqwa yang sesungguhnya adalah anugerah yang tak ternilai bagi seorang hamba,karena dengannya ia akan mencapai keselamatan yang hakiki di dunia dan di akhirat.

Kembali kepada makna puasa secara bahasa, maka puncak tertinggi dari hasil ibadah puasa berupa ma’rifat mengenal Allah dan taqwa yang sesungguhnya ini tidak akan didapat bagi orang yang puasanya hanya menggugurkan syari’at lahir dengan menahan makan,minum dan pembatalan puasa lainya, melainkan harus melatih diri untuk “diam”.

Diam dalam arti menahan diri dari banyak bicara,menahan diri dari melakukan hal yang tidak bermanfaat dan diam dalam arti tenang yaitu melakukan upaya keras untuk menenangkan hatinya.

Begitu pentingnya melatih diri untuk diam ini sehingga Rosulullah  bersabda: “ jika engkau hadir pada suatu majelis, jadilah orang yang paling diam/paling sedikit bicara diantara manusia ”.

Jadi Jelas manusia terbaik adalah yang paling sedikit bicaranya, bukan sebaliknya  orang yang paling banyak bicara dan melakukan hal – hal yang tidak bermanfaat,karena pepatah mengatakan : ” Siapa banyak bicaranya pasti banyak salah dan celakanya ”.

Pepatah lain mengatakan “mulutmu harimau mu”,hanya karena omongan, satu keluarga bahkan sebuah negara bisa hancur.

Karenanya Moment Ramadlan tahun ini akan sangat bermanfaat jika kita gunakan semaksimal mungkin untuk latihan “puasa bicara” baik bicara dalam arti ucapan lisan, maupun biacara dalam arti ucapan tulisan melalui media yang sudah sangat akrab dengan kehidupan kita.

Betapa banyak sudah kekacau – balauan yang tercipta hanya disebabkan oleh omongan lisan dan omongan tulis yang tidak terkontrol.

Semakin banyak bicara pasti semakin banyak salahnya, ini menjelaskan bahwa kita harus sadar sesadar – sadarnya bahwa dalam sepuluh kata yang kita ucapkan atau kita tulis lalu kita sebarkan, maka tiga diantaranya pasti mengandung kesalahan baik itu disengaja maupun tidak diseganja,karenanya irit dan hati – hati dalam berbicara adalah pilihan terbaik,“katakanlah yang baik atau diam , sesungguhnya dalam diam itu ada kebarokahan”.

Maka Dalam kondisi Negara dan daerah kita yang akhir – akhir ini disibukkan dengan hingar – bingar ujaran kebencian yang mengarah pada terciptanya perpecahan dan pertikaian sesama saudara sebangsa setanah air, hadirnya Ramadlan mestilah menjadi titik finish untuk segera mengakhiri berlimpahnya omongan lisan dan omongan tulis yang tidak bermanfaat,karena  kebesaran hati semua pihak untuk menahan diri dan menahan emosi,sangat bermanfaat untuk keselamatan negeri yang itu hanya bisa tercapai jika semua pihak mampu melatih diri  untuk mengurangi omongan.

Puasa artinya Diam, karena hanya dengan diam kita bisa berkotemplasi dengan penuh konsentrasi untuk melatih bathin merasakan adanya yang diam/kekal dibalik  gerak dan bunyi/fana. Dan hanya dengan kemampuan merasakan dan memahami adanya yang diam dibalik gerak dan bunyi, hati  bathin kita akan terlatih merasakan hadir-Nya Allah yang tak mampu dipandang dengan mata dhohir. Dan hanya orang yang bisa merasakan hadir-Nya Allah yang dalam tiap detik hidup seiring dengan tiap hembusan nafas dan detak jantungnya,yang telah mencapai hasil tertinggi dari ibadah puasanya yaitu “ Taqwa yang sesungguhnya “.

Karena jika dikatakan bahwa Taqwa adalah Melaksanakan Seluruh Perintah Allah dan Meninggalkan Seluruh Larangan-Nya Dalam seluruh waktu dan seluruh keadaan,kapanpun, dimanapun dan dalam  keadaan apapun,maka hanya orang yang bathin nya sudah dipenuhi dengan kesadaran akan hadir-Nya Allah inilah yang mampu melaksanakanya,sedangankan mereka yang belum sampai pada derajat itu niscaya ketaatanya masih diselingi dengan alpa,lupa dan pelanggaran terhadap larangan,artinnya derajat Taqwa-nya belum penuh.

Dan hanya yang telah mencapai derajat Taqwa yang sesungguhnya inilah yang akan merasakan ketenangan bathin,selanjutnya ketenangangan bathin inilah yang akan mengantarkan manusia menggapai kebahagiaan sejati di dunia dan di akhiratnya.Dan lebih dari itu diam juga bisa menyelamatkan Negeri dan Dunia dari Kehancuran,disinilah Puasa Ramadlan hadir dengan peran pentingnya untuk menyelamatkan peradaban.

* T O H I D I N :

Pengasuh/Pimpinan Pesantren Fajar Belitang

Kasatkorwil / Komandan Banser Prov. Kalbar

Ketua II PCNU Kab.Sekadau

Sekretaris II DPD MABM Kab. Sekadau

Anggota Komisi Fatwa MUI Kab. Sekadau

Pengasuh Majelis Dzikir Dan Sholawat Minadz Dzulumati Il

Check Also

Bolehkah Mendekat Kepada Penguasa?

Oleh: M Hasani Mubarok Merebak sebuah paham di tengah-tengah masyarakat akhir-akhir ini tentang dua jenis …

Tinggalkan Balasan