Home / Catatan Ringan / ​Damai itu Keren

​Damai itu Keren

Oleh: Holi Hamidin, S. Pd. I
Saya punya dongeng. Suatu hari di sebuah kampong Kertas Kusut, sedang ada ada pilkades. Dua kandidat. Kebetulan dua kandidat itu, beda suku dan beda agama. Entah siapa yang memulai, yang satu jangan pilih suku ini dan agama ini, karena beda agama, sedang yang satu juga demikian. Desa pun menjadi dua kubu. Saking sengitnya perbedaan pendapat ini, keduaa belah pihak membatasi diri mereka dg yang lain. Anggaplah saya katakan Si A dan Si B. Si A tak boleh berhubungan apapun dg si B. Mau jualan, silaturahmi, dialog sampai ke masalah yang urgen sekali dan situasi lingkungan di desa itu mencekam hingga tiba pada pemilihan. Terpilihlah calon si A. Pendukung si B tak terima. Memang sebelumnya, stigma bahwa calon si B tak akan kalah kecual dg kecurangan. Terjadilah bentrok. Padahal sebelumnya, mereka hidup akur berdampingan dan saling tolong menolong.

Padahal pernah beberapa tahun sebelumnya, calon kades dalam pilkades di kampong itu, berasal dari suku dan agama yang sama. Namun kejadian serupa juga terjadi. Hingga warga satu dengan yang lain saling menghina dan mencaci, bahkan sampai pada ancaman yang menyeramkan. Yang satu membela dan memuji, serta menghina yang lain. Suasana ini terus demikian saat ada pemilihan di Pilkades. Padahal, setelah yang dibela mereka pilih, desa mereka begitu-begitu saja. Apa yang mereka perdebatkan sebelumnya, semua terbantah oleh fakta tentang ketidak adilan si kades. 

Namun, di pilkades sebelah, tidak ada kandidat sama sekali. Bahkan, sudah digratiskan dan semua akan dimobilisasi oleh panitia. Panitia mendatangi tiap tokoh yang kata warga mereka pantas menjadi kades desanya. Namun, ia menolak dan mengatakan dia masih belum pantas. Bahkan, orang yang ditokohkan ini, menunjuk tokoh lain yang menurutnya lebih layak darinya. Kejadian ini, terus menerus seperti itu, hingga akhirnya panitia pusing tujuh keliling. Melihat situasi dan kondisi kampong tersebut begitu, panitia mengajak para tokoh tersebut musyawarah untuk memilih siapa yang mau menjadi kades. Perdebatan pun sengit. Tokoh yang satu mengatakan tokoh yang dua lebih layak karena keilmuannya, sedangkan tokoh yang dua mengatakan tokoh yang satu lebih layak karena lebih sepuh. Ketiga juga memuji keduanya dan begitu seterusnya.

Ketua panitia senang melihat situasi politik sedemikian indah. Hingga ia menyimpulkan untuk menunjuk pilihan diantara mereka. Panitia mengatakan, mau tidak mau kalian harus menerima karena kampong tanpa pemimpin bagaikan ular tanpa kepala. Terpilihlah tokoh yang satu. Tokoh yang terpilih berucap istigfar sedangkan tokoh yang tidak terpilh berucap alhumdillah seraya bahagia merasa memiliki pemimpin yang luar biasa.

Yang ingin saya sampaikan dalam 2 dongeng ini adalah, resiko terbesar dari perbedaan pendapat adalah putus silaturahmi, hilangnya rasa aman dan kesejahteraan. Kedua, dongeng kedua yang adalah gambaran ciri-ciri pemimpin dalam syari`at Islam yang mudah-mudahan masih diingat oleh para muslim. Jelas landasannya adalah rukun iman keenam, saqiun au sa`idun (Qodho` dan Qodar), sudah ditentukan Allah. Mau siapa saja pemimpinnya, Allah tak akan lupa menurunkan rizqi untuk mereka. Nahdiyyin percaya itu, sebab, faktanya memang begitu. Kaum logika tentu akan menolak pemahaman ini, tapi sekali lagi, apa yang dipercayai mereka telah terbukti dalam hidup sehari-hari. Yang penting hidup rukun, aman dan damai.

Ketiga, kepentingan politik terkadang memberi kemaslahatan tapi tak jarang pula memberikan dampak buruk. Tapi, jika kita telusuri lagi, politik akhir-akhir ini banyak yang menciptakan perselisihan dan pertentangan, hingga permusuhan. Hal ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ya sudah barang tentu ada actor di balik layar. Tapi kalau kita mampu menyikapinya dengan bijak, tentu tak akan ada hal-hal tersebut di atas. Penulis tetap terus berupaya mengajak para pembaca, tetap menjadi pemersatu walau dalam perbedaan. Damai itu Keren

Tinggalkan Balasan