Home / Figur / H Shohihin Nahyus, Sosok Imam Masjid yang Tawadhu

H Shohihin Nahyus, Sosok Imam Masjid yang Tawadhu

Makbulnya Doa Orang Tua yang Saleh

Shohihin dilahirkan di Semata Hilir, Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas, tepatnya pada tanggal 9 April 1951. Lahir dari pasangan H. Nawawi bin H. Yusuf (wafat tahun 2001) dan Hj. Zaina binti H. Yahya (wafat: 1996). Beliau lahir dan besar di lingkungan keluarga yang kental dengan didikan agama. Ayah beliau H. Nawawi adalah sosok orang tua yang disiplin, taat dan tegas. Orang tua beliau mendapatkan  pendidikan langsung dari Maharaja Imam Sambas, Syekh Muhammad Basiuni Imran dan tahun 1934, mendapatkan syahadah atau sejenis Surat Keputusan (SK) dari Syekh Muhammad Basiuni Imran. Syekh Muhammad Basiuni Imran adalah salah satu ulama besar nusantara asal Sambas, Kalimantan Barat yang wafat pada 29 Rajab 1396/26 Juli 1976M.

Sebagai tokoh agama yang tegas dan disiplin, H. Nawawi juga menerapkannya dalam hal pendidikan agama, selain pendidikan untuk keluarganya beliau juga mengajarkan ilmu agama untuk masyarakat sekitar di Kecamatan Teluk Keramat. Sehingga murid-murid beliau menyebar dimana-mana.

Dari perkawinan beliau, dikaruniai delapan orang anak yang semuanya dekat dengan agama, sebagaimana doa yang sering dilantunkan (Robbana Hablana Min Azwajina Wa Zurrriyyatina Qurrota Ayun).  Salah satu anak beliau adalah sosok yang menjadi profil kali ini, H. Shohihin Nahyus. Putra ketiga dari delapan bersaudara.  Beliaulah Imam Masjid Darul Falah, Kotabaru Pontianak.

Menuntut Ilmu Menyeberang Lautan

Usai menamatkan pendidikan di kampung beliau, terbetik keinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) 4 tahun di Simpang Empat beliau tempuh dari 1964 hingga tahun 1968, selanjutnya  menjadi pilihan beliau berikutnya adalah 2 tahun berikutnya di Pendidikan Guru Agama  Negeri sehingga genaplah beliau menuntut ilmu di PGAN 6 tahun.
Tahun 1971 hingga 1976, Shohihin muda melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ) di Jakarta bersama 12 orang lainnya dari Kalimantan Barat. Namun hingga usia beliau saat ini hanya beliau sendiri yang usai menuntut ilmu di PTIQ yang kembali ke kampung halaman.

Gairah menuntut ilmu terus mengalir pada Shohihin muda, Tahun 1977 hingga 1986 ditugaskan untuk membantu mengajar di almamaternya. Terasa sekali ilmu yang diperoleh beliau langsung diterapkan dalam rangka mencerdaskan putra-putri bangsa khususnya dalam bidang ilmu al-Quran. Apa yang beliau lakukan merupakan bagian dari penerapan dari ilmu yang telah beliau peroleh selain bahwa status beliau sebagai mahasiswa PTIQ bersama dengan mahasiswa lainnya adalah perwakilan dari provinsi-provinsi yang ada di tanah air.

Tahun 1986, beliau ditugaskan kembali ke Kalimantan Barat demikian juga dengan mahasiswa angkatan beliau kembali ke provinsinya masing-masing. Hal ini sejalan dengan beliau mendapat penugasan dari Departemen Agama saat itu. Sejak itulah beliau ditugaskan untuk mengabdikan diri di MTs Negeri 2 Pontianak. Pengabdian beliau di MTs Negeri 2 Pontianak ini adalah pengabdian yang terlama dengan rentang waktu antara 1986  2003. Lebih kurang empat tahun penulis bergaul bersama beliau di madrasah yang sama, sebagai sosok orang tua yang terkesan tawadhu dan mudah berbagi ilmu. Tahun 2003-2004 beliau mutasi ke MTs Mathlaul Anwar dan mendapat tugas tambahan sebagai Kepala Madrasahnya. Selanjutnya 2005-2011, jenjang pengabdian beliau berlanjut ke Madrasah Aliyah Negeri 1 (MAN 1) Pontianak hingga memasuki masa purna tugas.

Pengabdian Untuk Umat

Kemampuan beliau dalam bidang ilmu al-Quran tidak diragukan lagi, keseharian beliau diabdikan untuk membina masyarakat baik di masjid maupun majlis-majlis talim. Majlis-majlis talim yang beliau bina lebih pada penekanan tahsin tilawah, yakni pembinaan bagaimana cara membaca al-Quran yang baik dan benar, diantaranya cara membunyikan huruf (makhrajul huruf), panjang-pendeknya bacaan (ahkamul mad) dan sebagainya. Bakda Shubuh setiap harinya adalah jadwal beliau di Masjid Darul Falah Kotabaru Pontianak untuk tahsin tilawah ini.

Demikian juga tatkala ada kegiatan yang berkaitan dengan al-Quran, beliau selalu menjadi rujukan, pelatih dan dewan hakim. Diawali pada tahun 2001 beliau oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran Provinsi Kalimantan Barat diminta untuk sebagai pelatih dan dewan hakim, tetapi beliau belum masuk dalam kepengurusan kelembagaan. Demikian juga saat pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tahun berikutnya di Ketapang, beliau diminta untuk terlibat sebagai pelatih dan dewan hakim. Tahun 2004 hingga 2009, secara resmi beloiau masuk dalam Kepengurusan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kota Pontianak yang saat diketuai oleh H. Hasan Rusbini. Pada kepengurusan ini, beliau mendapat amanah dan ditempatkan pada bidang perhakiman dan pada tahun-tahun berikutnya beliau diminta untuk masuk dalam kepengurusan LPTQ Provinsi hingga saat ini.

Dengan penguasaan beliau pada bidang ini, perjalanan MTQ adalah perjalanan beliau juga hingga setiap MTQ Nasional beliau selalu mendampingi peserta Kalimantan Barat untuk melatih dan membina peserta selama mengikuti lomba.

Mengenai perkembangan dan kualitas qari-qariah Kalimantan Barat yang belum menunjukkan hasil yang memuaskan, beliau memberikan penekanan bahwa ada beberapa hal yang mendasari rendahnya prestasi MTQ saat ini, diantaranya adalah lemahnya program pembinaan yang dilakukan oleh lembaga yang menaunginya, kalaupun ada pembinaan sifatnya insidentil dan hanya dalam beberapa hari, sementara provinsi lain sudah jauh dari itu, beberapa bulan sebelumnya sudah disiapkan dan inilah letak kelemahan kita, jadi lebih pada penguatan lembaga yang ada, demikian ujar  beliau yang menguasai Qiraah Sabah ini. Selain itu, faktor eksternal yang ikut mempengaruhi kualitas saat ini adalah kuatnya pengaruh lingkungan yang membuat peserta tidak konsentrasi selama mengikuti pembinaan dan tentu yang uatama adalah harus kuatnya semangat untuk berprestasi, semangat juara sebagaimana luar biasanya prestasi Kalimantan Barat di pentas nasional yang mengharumkan nama provinsi seperti halnya Dahlia Ahmad, Nursiah Ismail dan sebagainya.

Di masa ini, selain tetap fokus membina majlis-majlis talim di bidang tahsin tilawah,  bercengkerama dengan keluarga dan keseharian beliau dapat ditemui bersama anak-anak dan isteri tercinta, Aisyah. Semoga pengabdian H. Shohihin Nahyus yang istiqamah dan tawadhu menginspirasi generasi saat ini dan para pembaca sekalian**

Oleh : Sholihin HZ

Tinggalkan Balasan