Home / Catatan Ringan / Air Mata Untuk Kiai Hasyim Muzadi

Air Mata Untuk Kiai Hasyim Muzadi


​Setidaknya, hari ini ada dua kabar yang menyentuh perasaanku. Kabar ini, benar-benar tak ingin kudengar seumur hidupku walau kutahu itu adalah sesuatu yang tak masuk akal pikiranku. Semua itu kuasa tuhanku dan manusia hina seperti diriku ini, hanya bisa pasrah dan duduk termanggu.

Di tengah-tengah kesibukanku, alat komunikasiku bordering. Itu temanku yang menghubungiku. Katanya, KH. Hasyim Mujadi meninggal dunia. Mendengar itu, lantas diriku menolak dengan keras sekeras batu. Kukatakan saja kepadanya, bahwa berita itu hoax atau palsu. Ketuaku, Ust. Mas`ud dan Ust. Sule berbincang-bincang di malam itu. Dari perbincangan itu, muncul sebuah keputusan bahwa berita itu hanya iseng lalu. Hapeku pun kupadamkan seketika itu.

Namun begitu, tak lama berselang, masih dalam kesibukanku, hape bergetar di dadaku. Ya, saat itu, ia berada di saku baju. Kulihat segera dan kuangkat lalu kuletakkan ke telingaku. Betul. Kata sahabatku se-NU itu padaku. Betul berita itu. Kyai Hasyim Mujadi wafat beberapa waktu lalu. Tak hanya berita dari Whatshap tetapi juga di televisi mereka yang terletak di dekat pintu. 

Bergetar hatiku. Entah apa yang menimpaku hingga aku seperti itu. Tiba-tiba saja, pipiku berlinang air mata. Tak bisa kutahan walau telah ditahan sekuat tenagaku. Oh, jelas saja begitu. Aku masih memiliki perasaan terhadap kyai NU itu. Wejangan-wejangannya selalu masuk kalbu. Pikirku, siapa lagi kyai yang mampu menengahkan antara liberal dan NU, dan memisahkan kotoran wahabi dari negeri tercintaku. Siapa lagi ulama yang khos yang mampu. Iya, mampu memberi pertimbangan-pertimbangan jitu terhadap presiden ketujuh itu. Selamat jalan pemimpinku. Akui aku sebagai muridmu walau tak pernah sedetikpun kita bertemu.  

Aku adalah orang yang dulu pernah meremehkanmu. Saat itu, di rumahku. Orangtuaku menyimpan foto Ibu Megawati bersanding denganmu. Bodohnya aku. Edannya aku. Koplaknya aku. Kuanggap engkau bukan siapa-siapaku. Ambil foto sticker itu, kutempel ke meja komputerku. Waktu itu aku masih kuliah semester satu atau mungkin baru selesai dari pesantren menimba ilmu. Benar saja, ilmu yang kuterima hanya sekedar ilmu. Baru kusadari bahwa tempo lalu, adalah aku dalam keadaan bodohku. Itu kesalahan terbesarku. 

Namun, puji tuhanku. Dzat yang maha mengetahui dan maha pembolak balik hati, di akhir hayatmu, hatiku bergetar mendengar ketiadaanmu. Dimana saat itu, diriku tak mampu menahan air mata itu. Maafkan kedurhakaanku. Telah lama kudambakan bertemu denganmu. Namun, sayang, Allah lebih mencintaimu wahai kekasihku. Akan selalu kupegang dawohmu, wahai kyai hasyimku. Ukuran orang pintar bukan dari ilmuku melainkan dari ahlakku. Ciri orang NU bukan cuma bicara terus menerus tentang NU, tetapi terus mengabdikan diri kepada masyarakat dan tiada henti mencari ilmu. Kelak, bantu aku agar bersamamu dan seluruh orang NU. Amin

Oleh: Hol Hamidin

Tinggalkan Balasan