Home / Catatan Ringan / Ketika Prof. Syarif Alqadrie Mengenang Sosok Habib GusDur

Ketika Prof. Syarif Alqadrie Mengenang Sosok Habib GusDur

16996671_307324259683768_1219074087_n

Tak banyak orang mengetahui, bahwa Gus Dur juga memiliki cerita humor bersama tokoh KalBar, Prof. Dr. H. Syarif Ibrahim Alqadrie, M. Sc. Cerita itu pun baru saya ketahui saat makan siang bersama si empu cerita di kediamannya. Waktu itu (22/02), seperti biasanya, saya makan siang semeja bersama Prof. Dr. H. Syarif Ibrahim Alqadrie, di rumah beliau. Di sela-sela itu, saya dan prof, sering bercerita, curhat dan bergurau setelah setengah hari serius bekerja.

Entah darimana permulaan cerita kami dimulai, tetapi tanpa kami sadari, pembicaraan saat itu bertema “Gus Dur”. Jika tidak salah, prof. bertanya kepada saya tentang keadaan mahasiswa, dan sampai akhirnya masuk ke pembicaraan dengan tema tersebut.

Beliau cerita, hanya dua presiden yang member saya penghargaan. Pertama, presiden BJ. Habibie; kedua, Presiden Abdurrahman Wahid. Pada tahun 1999, penasehat Alqadrie Center ini, dianugerahi Bintang Jasa Utama (bestowed Primary Service Medal) oleh Presiden Republic of Indonesia (R.I.), Prof. Dr. B. J. Habibie; dan dalam tahun 2000 dianugerahi Bintang Kesetian Dalam Pengabdian kepada Bangsa Indonesia dari Presiden R.I, Abdurrahman Wahid.

Mendapat dua penghargaan ini, tidak lantas membuat Prof. Syarif merasa jumawa, bahkan beliau selalu melemparkan banyak pertanyaan, ”mengapa saya dapat penghargaan ini” kepada dirinya sendiri sampai sekarang bahkan ia pernah bertanya kepada kedua presiden itu. Tak ayal, ketika ia mendapat kesempatan itu ia pun lantas bertanya,

”Mengapa bapak memberi saya penghargaan ini?” tanya Prof. Syarif kepada Pak Habibie.

”Itu pantas Prof, dapatkan, karena telah membantu negara mendamaikan konflik di KalBar…” jawab Pak Habibie.

Pertanyaan serupa pun ditanyakan kepada Abdurrahman Wahid. Tapi, berbeda dengan orang kebiasaan, prof, memiliki sapaan khas kepada presiden RI keempat itu dengan sebutan ’Habib Gus’.

”Habib Gus, mengapa Habib Gus, memberi saya penghargaan ini?” tanya Prof. Syarif kepada Gus Dur.

Dengan jawaban khasnya, Gus Dur pun menjawab, ”jawab aja sendiri, gitu aja kok repot.”

Dari kedua presiden tersebut, yang masih menjadi polemik dalam diri Prof. Syarif saat ini adalah jawaban dari Gus Dur. Jawaban Gus Dur itu, berkesan hingga saat ini. Prof menyapa Gus Dur dengan sapaan ’Habib Gus’ karena Habib Gus memiliki Indra keenam. Sebagian terbesar diucapkan Gus Dur terbukti dalam kenyataan. ”Jangan main-main dengan Habib Gus, main catur boleh” canda Prof, Syarif menutup cerita.

Oleh:

Holi Hamidin, S.Pd.I

Penulis adalah Aktivis NU Pontianak. Ia juga sekretaris Prof. Dr. H. Syarif Ibrahim Alqadrie.

Tinggalkan Balasan