Home / Opini / Pesta Akhir Tahun antara Balutan Maulid dan Natal

Pesta Akhir Tahun antara Balutan Maulid dan Natal

sumber gambar : datdut.com
sumber gambar : datdut.com

Momen akhir akhir tahun kali ini, Indonesia diwarnai dengan beragam fakta-fakta fenomenal. Mulai dari kasus al-Maidah 51, ributnya warga Pontianak dengan kasus begal hingga yang mendunia hari ini yakni fenomena permainan anak yang viral dengan frasa “om telolet om”. Semua ini terjadi seolah menyambut pesta tahun penutupan tahun 2016 dan menyambut tahun baru 2017. Ketiga fenomena ini seolah merepresentasikan tiga fakta yang senantiasa berkelindan dalam kehidupan sehari yang meliputi dinamika politik, sosio-kriminal hingga yang terakhir senang-senang sebagai kebutuhan primer manusia.

Dari deretan fakta fenomenal yang menghiasi bulan-bulan akhir ini, dua event keagamaan seolah melengkapi kesyahduan pesta. Event pertama adalah Maulid Nabi yang kedua adalah Natal. Yang pertama merupakan momentum keagamaan yang dirayakan oleh umat muslim seluruh dunia. Momen ini disongsong dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad sebagai penutup para Nabi. Yang terakhir disemarakkan oleh warga Nasrani dalam rangka memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Dua event penting ini sama-sama memiliki nilai substansil yang sama, yakni merayakan lahirnya dua sosok penting dalam sejarah manusia, Nabi Muhammad dan al-Masih Isa As.

Dua momentum kegamaan penting ini ternyata tidak sekentara fenomena sosial dan politik yang yang hadir sebelumnya apalagi fenomena “om telolet om” yang sifatnya hanya sebagai pelepas kejenuhan setelah rakyat dipusingkan dengan urusan politik nan rumit. Momen keagamaan yang begitu prestisius tersebut seolah terlupakan oleh ragam fenomena lain. Akibat dari ini akhirnya turut berimbas kepada semakin miskinnya nilai-nilai agama dalam pluralitas bangsa hari ini. Ini terbukti dengan viralnya fatwa MUI terkait pengharaman atribut natal untuk umat muslim Indonesia, belum lagi masalah hukum Banser yang menjaga keamanan gereja saat ibadah Natal berlangsung. Perhatikanlah dua masalah keagamaan yang selalu menuai kontroversi di atas. Seolah agama tiada henti mengeluarkan hal-hal yang meresahkan.

Diakui atau tidak, ini merupakan kegagalan manusia beragama di negeri ini dalam memaknai momentum dua kelahiran sosok penting dunia. Sehingga tidak heran kalau fenomena agama pun akhirnya hanya melahirkan beragam keresahan seolah tiada berujung. Bahkan yang lebih nahas, masalah “om telolet om” pun diklaim oleh salah satu oknum agama sebagai bahan untuk melakukan konspirasi pendangkalan akidah. Lagi-lagi oknum meresahkan ini lahir mereduksi agama dan menjadikannya sebagai inspirasi masalah.

Maulid dan Natal Momentum Pembenahan Agama

Hari mulia Maulid dan Natal yang pada tahun ini terbilang berdekatan jarak, seharusnya menjadi momentum yang begitu baik untuk memaknai kembali apa saja yang diajarkan oleh dua sosok yang sama-sama dirayakan kelahirannya. Sejarah mencatat prihal kedekatan dua tokoh ini (baca : Muhammad dan Yesus) baik secara visi maupun tugas yang diembankan oleh Tuhan (baca : Allah) kepada mereka berdua.

Nabi Muhammad adalah utusan Tuhan yang secara historis membawa misi pemurnian kembali nilai monoteisme Islam yang diajarkan oleh buyutnya, yakni Nabi Ibrahim. Sedangkan Nabi Isa yang kelahirannya dirayakan dengan semarak Natal oleh agama Nasrani, merupakan utusan Tuhan yang memiliki misi dasar yang sama dengan Nabi Muhammad. Namun dalam pergumulannya dengan sejarah, berbagai deviasi yang merupakan konsekuensi logis telah membuat dua kaum yang mengikut mereka (baca : Muhammad dan Isa) bersitegang.

Dua agama besar rumpun Semit yakni Islam dan Kristen memiliki sejarah panjang yang sering kali bertautan secara politis. Hal inilah yang kemudian hari melebar menjadi konflik yang seolah bernuansa agama.  Tentu saja rangkaian konflik antar dua kubu ini tidak kita inginkan terjadi, apalagi untuk zaman di mana nilai-nilai perdamaian dan kesamaan hak disuarakkan di seluruh penjuru dunia.

Tentu kita menyesalkan lahirnya berbagai fatwa akhir-akhir ini yang menampilkan pola beragama rentan menyulut konflik. Larangan sebagian tokoh bagi Banser (Badan Anshor Serbaguna) untuk menjaga Gereja saat perhelatan Natal berlangsung sampai Fatwa MUI yang mengharamkan penggunaan atribut Natal bagi umat muslim dan ucapan selamat natalnya. Dua fatwa ini seolah ingin menampakkan model beragama yang serba sensitif terhadap ritus-ritus agama lain. Bahkan kesan superioritas karna bonus demografi mayoritas tidak dapat dielakkan.

Fatwa-fatwa yang demikian eksklusif sebagaimana hadir akhir-akhir ini menunjukkan bahwa umat beragama dengan status mayoritas di negeri ini masih sulit untuk bersikap inklusif dengan mengikis rasa superioritas. Fenomena ini menampilkan sekali lagi kegagalan mereka dalam menerjemahkan momentum keagamaan. Dalam banyak literatur sering kali kita jumpai sikap Rasulullah yang sangat inklusif ketika berhadapan dengan agama lain terutama agama Abrahamik. Catatan historis seperti ini sepertinya kurang menarik bagi mereka yang terus menerus merasa khawatir pada agama mereka oleh karena eksistensi agama lain. Maka wajar saja jika pada akhirnya mereka akan senantiasa berpolemik.

Dalam dua momentum mulia ini sudah saatnya umat beragama saling menghargai satu sama lain dengan masing-masing menanggalkan sikap yang dapat mempertajam konflik serta fatwa berbau sensitif. (M Hasani Mubarok)

Tinggalkan Balasan