Home / Catatan Ringan / Lima Menit Mencerahkan Prof Nadirsyah Hosen

Lima Menit Mencerahkan Prof Nadirsyah Hosen

sumber foto : wikipedia
sumber foto : wikipedia

Lagi-lagi daku dibuat terkagum setengah mati dengan buah tangan penulis produktif idolaku, yaitu Prof Nadirsyah Hosen. Beliau adalah Rois Syuriah PCI NU Australia – New Zealand. Di sana beliau juga menjadi dosen senior di Monash University Faculty of Law, salah satu Fakultas Hukum terbaik di dunia menurut beberapa sumber yang daku baca. Yang membuat daku tertarik adalah kemampuan beliau dalam merangkum sebuah fenomena ringan menjadi sebuah nilai universal yang begitu apik dan penuh moral. Seperti refleksi bacaan-bacaan ringan, kejadian sehari-hari sampai kejadian fenomenal yang begitu mengesankan. Beliau terus berdakwah menebar nilai-nilai penuh kecerahan dengan rangkain kata yang begitu rapi. Serapi daya serapnya terhadap realitas yang sederhana hingga menjadi sesuatu luar biasa.

Dari keuletan dan konsistensi beliau dalam berdakwah melalui media, beliau memposisikan diri sebagai seorang yang terus bekerja untuk membangun kesadaran dari level yang paling rendah, paling awam, paling blo’on sepertiku. Dengan tulisannya yang begitu lugas dan mencerahkan, semua orang tidak perlu memperoleh doktrinasi yang begitu rumit melalui mimbar-mimbar megah, toa-toa mendesing atau spanduk-spanduk besar untuk memperoleh pencerahan yang bermanfaat. Seorang hanya perlu menyempatkan waktu sekitar tiga sampai lima menit untuk memperoleh ilmu dan nilai berharga hanya dengan mantengin layar segi empat yang mereka genggam atau mereka hadapi sekitar tiga jengkal di hadapan muka.

Apa yang beliau tulis semuanya inspiratif dan mencerdaskan. Daku sering berandai jika seseorang menyempatkan diri meluangkan waktu sekitar tiga sampai lima menit dalam sehari semalam untuk sekadar memperoleh ilmu, masyarakat cerdas dan penuh kecerahan akan segera terwujud terutama di negeri ini. Bandingkan dengan mereka yang hanya berlama-lama duduk bersila di masjid-masjid dan berbagai majlis taklim, namun hanya menghasilkan kepengapan-kepengapan oleh karena tidak mendalamnya ilmu yang dia konsumsi.

Pencerahan itu singkat dan spontan, tidak perlu serba-serbi yang begitu njelimet dalam mengaksesnya. Yang terpenting adalah kemauan seseorang untuk terus belajar dan belajar dalam mencapai titik kebenaran yang didambakan. Bagaimana pun, mencapai titik kebenaran yang hakiki dalam agama seperti sebuah kompetisi yang tidak akan ada habisnya. Seseorang harus terus berproses dengan memposisikan diri sebagai seorang yang tidak pernah sampai kepada kebenaran sejati itu. Berhenti belajar adalah berhenti berproses menuju kebenaran. Berpuas diri dengan satu ilmu dan satu jenis pengetahuan adalah pilihan untuk berhenti dari upaya mencari. Allah sudah jauh-jauh waktu meneganjurkan kepada seluruh hamba-Nya agar jangan pernah berhenti untuk terus berjalan, berlomba menuju kebaikan. Hingga ia lelah dan memasrahkan seluruh daya upayanya hanya kepada Sang Penguasa Kebenaran. (M Hasani Mubarok)

Tinggalkan Balasan