Home / Seni Budaya / Hypa dan Keledai Tuhan

Hypa dan Keledai Tuhan

foto : madzhab kepanjen
foto : madzhab kepanjen

Rahib Hypa melanjutkan perjalanannya menyusuri gurun Sinai setelah beberapa waktu menginap di pemondokan kafilah Arab Badui yang di jumpainya di pertengahan gurun panjang itu. Ternyata, ia memperoleh berkat dari Tuhan setelah berhasil menyembuhkan salah seorang anak dari kelompok itu yang sedang dilanda sebuah penyakit. Berkat itu berupa beberapa hadiah yang mereka persembahkan kepadanya. Dan yang membuat Hypa sumringah, ketika ia memperoleh keledai sebagai tumpangannya untuk menempuh gurun yang terkenal ganas ini dari kepala suku nomaden itu. Tak lupa beberapa helai dan perbakalan makanan dan minuman juga memenuhi punggung keledai itu sekarang. Ternyata keahlian Rahib sekaligus Tabib ini di hargai dengan sebegitu berharganya, hingga Hypa tak henti-hentinya mengucapkan doa dan puji-pujian kepada Bapa di surga. Dia berjalan dengan keledai kurus itu dengan mantap menyusuri tiap jengkal gurun pasir. Kali ini Hypa bisa lebih leluasa berkontemplasi, karna sudah tidak ada batu-batu atau gundukan pasir yang terkadang membuat kakinya terkilir dan memberatkan langkah.

Waktu itu masih begitu pagi, fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, seolah mengungkapkan rasa suka cita terhadap kegembiraan yang di rasakan sang Rahib. Perlahan tapi pasti, jalan keledai kurus itu mulai membawa badan Hypa semakin jauh tak terlihat dari gerombolan Badui yang menghantar kepergiaanya dengan ribuan pujian dan ucapan terima kasih. Dalam hati ia bergumam. “Bapa kami yang di surga, terima kasih telah menjadikan orang Badui itu sebagai sarana bagiku untuk mereguk karunia-Mu yang begitu besar ini”.

Ia terbayang nasibnya sebelum bertemu kafilah ini, ketika ia memulai perjalanan dari Alexandria. Sungguh ucapan syukurnya di rasakan begitu kerdil di tengah derasnya kasih sayang Tuhan kepadanya.

Begitu nikmat Hypa dengan komtemplasi spiritulanya, membuat ia hanyut di bawa suasana dingin gurun pasir itu. Sesekali angin semilir gurun berhembus, menebar hawa dingin kesekujur tubuhnya. Semakin nyenyaklah Hypa dengan dunia pemikiran sampai-sampai ia tidak merasa bahwa di kejauhan sana ada segerombolan serigala yang tengah menunggu intruksi untuk menyerangnya.

Ia kemudian di kejutkan oleh auman khas serigala tua yang sedang kelaparan memanggil sanak familinya, seoalah berkata dengan bahasa manusia “kemarilah saudara-saudaraku, Tuhan yang baik telah memberikan sarapan pagi yang berkualitas untuk kita semua”. Hypa terkejut bukan main, ketika gerombolan serigala pemangsa itu bergerak dengan cepat dengan mata beringas yang siap menerkam. Ia segera memacu keledai itu dengan lebih kuat, hingga akhirnya sang keledai kehilangan kontrol dan mulai merasa terancam oleh kedatangan penyamun gurun ini. Tanpa pikir panjang Hypa memegang bawaanya dengan erat, kemudian meloncat bak pemain film action yang gesit dari kendaraanya. dia memilih meloncat, karna rontaan si keledai yang tampaknya sudah tidak bersahabat. Setelah berguling-guling beberapa kali di atas pasir kasar gurun, dia menyempatkan diri melihat si keledai yang berlari lebih kencang di ikuti gerombolan srigala di belakangnya.

Shark, nahas memang nasib si keledai kurus, gerombolan srigala dengan begitu buas merobek kulit dan menggrogoti daging keladai malang itu. Hingga tercium aroma darah dan terdengar lengkingan pilunya ke telinga Hypa yang sekejap itu segera bergerak melajutkan perjalanan. Sepanjang jalan, Hypa tak habis-habisnya bersyukur pada Tuhan atas anugrah-Nya berupa keledai malang. Ternyata kasih sayang Tuhan terasa begitu besar baginya, hingga Ia tak rela kalau sampai srigala beringas itu menyentuh kulit Rahib-Nya. ia kemudian menyadari satu hal di tengah langkah kakinya membelah pasir. Bahwa kebahagiaan, bukan berarti memiliki sesuatu yang berharga dan mengundang suka cita, tapi kebahagiaan adalah utuhnya suka cita itu sendiri dalam tiap langkah kehidupan. Begitulah keledai itu telah menghantarkan Hypa kepada kebahagian yang lebih dalam dan hakiki dengan kemalanganya. Ia tersenyum sambil menengadah ke langit, seraya berguman “Terima Kasih Tuhan atas keledai kiriman-Mu”. (M Hasani Mubarok)

 

Sumber : Madzhabkepanjen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *