Home / Seni Budaya / Maulid, Perbincangan antara Tradisi dan Agama

Maulid, Perbincangan antara Tradisi dan Agama

Foto : Pagelaran Maulid Nabi di kediaman salah seorang warga Nahdliyyin sekaligus salah satu senior PMII (03/01/17)
Foto : Pergelaran Maulid Nabi di kediaman salah seorang warga Nahdliyyin sekaligus salah satu senior PMII (03/01/17)

Maulid Nabi sudah menjadi bagian dari tradisi umat Islam di hampir seluruh Indonesia. Yang menjadi ciri khas utama dalam pergelaran keagamaan ini adalah tradisi sesajian buah menjadi hidangan wajib yang harus ada di setiap perayaan. Kehadiran aneka buah-buahan inilah yang membuat event memiliki nuansa berbeda dari berbagai perayaan keagamaan lainnya di Indonesia yang dirayakan oleh umat muslim.

Tidak diketahui alasan pasti kenapa aneka buah menjadi begitu dominan ketika Maulid selain sekedar kepercayaan sederhana yang sampai hari ini tetap dipegang dengan teguh oleh orang-orang sepuh di pedesaan. Menurut kepercayaan simpel mereka, buah-buahan yang disajikan bukan tanpa landasan. Bahkan hal ini memiliki latar historis yang cukup signifikan. Salah satunya adalah kepercayaan bahwa pada masa kelahiran Nabi seluruh pepohonan yang sebelumnya mandul alias tidak berbuah, ketika Nabi lahir semuanya berseri kemudian memproduksi buah-buahan yang bisa dinikmati oleh banyak orang waktu itu.

Dalam banyak Natsar kita temukan sebagian dari karomah yang diberikan oleh Allah ketika kekasih-Nya yang kemudian menjadi Nabi ini lahir. Salah satunya adalah dengan rimbunnya pepohonan dengan buah-buahan pada tahun itu. Alam yang cerah bercampur dengan keanggunan musim semi yang memuncak. Bulan Robi’ul Awwal adalah musim semi pertama yang banyak diilustrasikan sebagai musim di mana bunga-bunga bermekaran.

Demikian juga apa yang dilakukan oleh masyarakat Muslim Indonesia dalam mengekspresikan suka cita mereka ketika bulan Robi’ul Awwal ini telah datang. Mereka berlomba untuk turut memeriahkan dengan beragam kegiatan semarak Maulid sebagai tanda suka cita terhadap kelahiran Sang Nabi. Salah satu cara mengekspresikan suasana itu adalah dengan menghadirkan variasi buah-buahan dalam setiap event maulid yang diselenggarakan. Hal ini bertujuan agar suasana musim semi yang akrab dengan nuansa bunga dan alam yang berseri-seri bisa dimanisfestasikan dalam kesyahduan puji bagi Nabi.

Selain varian buah yang tersaji itu, tradisi rebutan juga tak kalah menarik. Meski tradisi ini sebagian besar hanya dibintangi oleh anak-anak kecil, namun muatan teologis tidak dapat dipungkiri. Bahwa kepercayaan masyarakat pada keberkahan yang terselip di dalam setiap hidangan yang disajikan pada pagelaran maulid telah memantik banyak orang untuk merebut buah itu. Kepercayaan sederhana ini mungkin menurut sebagian orang make none sanse, tetapi bagi mereka yang mempercayai tentu memiliki keistimewaan khusus yang secara epistemik berjalan pada jalur intuitif.

Orang Muslim Indonesia begitu percaya dengan aspek-aspek yang membudaya dan mentradisi ini. sesajian variasi buah merupakan wujud dari masyarakat Muslim Indonesia yang gemar mengekspresikan kecintaannya dengan berbagai hal yang kemudian menjadi sebuah tradisi yang unik. Sedangkan merebutnya merupakan bentuk kepercayaan muslim Indonesia pada keberkahan yang terkadang sulit untuk diinterpretasikan dengan nalar logis. Dua hal inilah yang kemudian banyak menginspirasi terbentuknya pola keberislaman di Indonesia yang arif terhadap budaya dan tradisi lokal tanpa kehilangan sentuhan Islam sebagai fondasi dasarnya. (M Hasani Mubarok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *